Kisah Kesyahidan Anas Bin Nadhar ra

Kisah Kesyahidan Anas Bin Nadhar ra

Anas bin Nadhar ra. adalah seorang sahabat Nabi saw. yang tidak sempat menyertai perang Badar. la sangat menyesal karena tidak dapat menyertai peperangan yang pertama dan besar dalam sejarah Islam itu. Untuk itu, ia sangat berharap dapat menebusnya pada pertempuran selanjutnya. Dan ternyata, kesempatan itu datang pada perang Uhud. Dia turut serta sebagai seorang pejuang yang gagah berani. Dalam perang itu, kaum muslimin telah memperoleh kemenangan lebih dulu. Namun pada akhir peperangan, disebabkan suatu kekhilafan, kaum muslimin telah mendapatkan kekalahan. Kekhilafan itu pada beberapa orang sahabat yang telah ditugaskan oleh Nabi saw. untuk berjaga-jaga di suatu tempat Nabi saw. bersabda, "Kalian jangan meninggalkan tempat ini dalam keadaan bagaimana pun, karena musuh dapat menyerang dari arah belakang." Pada permulaan perang, kaum muslimin telah memperoleh kemenangan, dan kaum kafir melarikan diri.
Melihat kemenangan ini, orang-orang yang telah ditunjuk oleh Nabi saw. itu, segera meninggalkan tempat tugas mereka. Mereka menyangka Kaum muslimin telah menang, dan peperangan telah usai, karena orang-orang kafir telah melarikan diri. Akhirnya, mereka berebut mendapatkan rampasan perang. Pimpinan pasukan itu sebenarnya telah melarang dan mengingatkan agar tidak meninggalkan bukit, ia berkata, "Kalian jangan tinggalkan tempat ini, Rasulullah saw. telah melarangnya." Tetapi mereka menduga bahwa perintah Nabi saw. itu hanya berlaku ketika perang saja. Mereka turun ke tempat perang, meninggalkan bukit. Pada saat itulah, pasukan kafir yang sedang melarikan diri melihat bahwa tempat yang seharusnya dijaga oleh kaum muslimin telah kosong, maka mereka segera kembali, dan menyerang kaum muslimin dari arah belakang.

Hal ini sama sekali tidak disangka oleh kaum muslimin, sehingga mereka kalah dan terjepit dalam kepungan kaum kafir. Keadaan menjadi kacau. Anas ra. melihat sahabat, Sa'ad bin Mu'adz ra. sedang berjalan. Kata Anas ra., "Hai Sa'ad, mau kemana engkau? Sungguh demi Allah, saya mencium harumnya surga datang dari arah Uhud." Setelah berkata demikian, beliau mengacungkan pedang di tangannya, dan menyerbu kaum kafir dan bertekad, jika belum syahid, ia tidak akan berhenti berperang. Sehingga ia syahid di medan Uhud. Ketika tubuhnya diperiksa, tubuhnya begitu rusak. Kurang lebih 80 luka akibat tebasan pedang dan panah di tubuhnya. Hanya saudari wanitanya saja yang dapat mengenalinya melalui jari-jari tangannya.

Hikmah:
Orang yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menunaikan perintah Allah swt., ketika di dunia pun Allah memberinya kesempatan untuk merasakan nikmat surga. Inilah kisah Anas bin Nadhar ra. yang telah mencium harumnya surga ketika masih hidup di dunia. Saya pun mendengar langsung dari khadim khusus Maulana Abdurrahim Raipuri rah.a., bahwa beliau sering berkata, "Bau harum surga sedang berhembus...." Kisah beliau telah ditulis dalam kitab Fadhilah Ramadhan.
Keselamatan, Uzlah dan Beribadah

Keselamatan, Uzlah dan Beribadah

Keselamatan

Carilah keselamatan! Semoga orang yang mencarinya menemukannya. Tentu lebih mengherankan jika ada orang lebih memilih mencari musibah. Di zaman sekarang ini, keselamatan benar-benar merupakan kemuliaan. Keselamatan terdapat dalam khumul (menyembunyikan diri dan tidak memilih menjadi orang yang dikenal, padahal ia orang yang sangat alim dan cakap. Orang yang khumul tetap hidup di masyarakat ramai, tetapi ia menyamarkan penampilannya supaya tidak dikenal orang). Jika keselamatan tidak dalam khumul, maka uzlah (mengasingkan diri di tempat yang sepi) adalah pilihannya dan uzlah memang tidak seperti khumul. Jika tidak bisa 'uzlah, maka diam bisa jadi gantinya. Diam memang tidak sama dengan 'uzlah. Jika diam tidak membahayakannya, maka bicaralah yang bermanfaat dan tidak membahayakan, dan memang berbicara yang bermanfaat tidak seperti diam.

Jika benar-benar menginginkan keselamatan, maka jangan mempertentangkan sesuatu yang berlawanan atau menciptakan persaingan di antara berbagai pola yang berbeda-beda. Jika ada orang yang mengatakan "sayalah", maka jawablah. "ya kamu." jika ia mengatakan, "milik saya', maka jawablah, "Ya milikmu. "Keselamatan ada dalam hilangnya popularitas. Hilangnya popularitas terdapat dalam hilangnya kehendak, dan hilangnya kehendak ada dalam meninggalkan sikap yang mengaku-aku berilmu atau berkuasa. Ia hanya mengutamakan Allah.

'Uzlah
Orang 'uzlah membutuhkan sepuluh hal, yaitu mengetahui yang hak dan yang batil, zuhud dan memilih kesulitan, melakukan khalwah dan mencari selamat, memperhatikan akibat, memandang orang lain lebih utama daripada dirinya, menyingkirkan keburukan dirinya dari manusia, tidak malas bekerja, tidak heran atas apa yang dimilikinya, rumahnya sepi dari sesuatu yang berlebih-lebihan (bagi murid dibolehkan memilih jatah lebih untuk satu hari, sedangkan bagi orang yang ma'rifat hanya dibolehkan memiliki jatah yang pas), dan memutuskan apa saja yang dapat memutuskan hubungan dengan Allah.

Rasulullah saw. berkata kepada  Hudzaifah bin Al Yaman, " Jadikanlah rumahmu tertutup."  'Isa bin Maryam as. berkata, "Kuasailah lidahmu, luaskan rumahmu, dan tempatkan dirimu di tempat singa yang buas dan api yang membakar. Manusia adalah daun bila tanpa duri, maka ia menjadi duri tanpa daun. Manusia adalah obat bagi orang yang mencari kesembuhan, lalu mereka jadi penyakit yang tidak ada obatnya.

Dawud Al Tha'i pernah ditanya, "Mengapa kamu tidak bergaul dengan manusia?" Ia menjawab,  "Bagaimana saya bergaul dengan orang yang akan mengikuti aib-aib saya yang besar. Tidak ada makhluk yang mengetahuinya, baik yang kecil maupun yang hina. Barangsiapa bermanis-manis dengan Allah, maka ia kasar kepada selainNya. "Al Fudhlail berkata, "Jikakamu mampu menempati suatu tempat yang tidak kamu kenal atau tidak mengenalmu, maka lakukan." Sulaiman berkata, "Keinginanku pada dunia adalah memakai mantel kumal, tinggal di suatu perkampungan yang tidak seorangpun mengenal saya, dan tidak mempunyai persediaan makan pagi dan makan sore."
Rasulullah saw., 
"Akan datang suatu zaman yang ketika itu orang berpegangan agamanya seperti orang yang menggenggam sebutir batu yang membara, dan baginya suatu pahala (sebanding dengan) 50 pahala kalian."

'Uzlah bisa menjaga tubuh, mengosongkan hati, tidak tergoda dengan hak makhluk, menutup pintu dunia, menghancurkan senjata setan, dan memakmurkan yang zahir dan yang batin.

Ibadah
Penuhilah kewajiban! Jika kamu berhasil memenuhi kewajibanmu, maka engkau adalah engkau. Tambahilah ibadah sunnah untuk menjaga ibadah wajib. Setiap kali ibadah bertambah, tambah pula rasa syukur dan khauf. Yahya bin Mu'adz berkata "Saya heran terhadap orang yang mencari keutamaan, tapi meninggalkan kewajiban. Jika seorang punya hutang, maka apa yang menjadi miliknya menjadi hak pemilik tagihan."
Abu Bakar Al Warraq berkata, "Pada masa ini dermakanlah empal hal untuk empat hal : keutamaan didermakan pada kewajiban, yang zahir didermakan pada yang batin, akhlak didermakan kepada nafsu, dan bicara didermakan pada perbuatan."
Ruku’, Sujud, Tahiyat, Salam dan Berdoa

Ruku’, Sujud, Tahiyat, Salam dan Berdoa

Ruku’


Ruku’lah seperti ruku’nya orang yang khusyu’ kepada Allah, yaitu orang yang hatinya senantiasa tunduk kepada Allah, sehingga tubuhnya ikut menunduk. Ruku’lah dengan sepenuh ruku’, dan jaga perasaanmu dari perasaan telah menjalankan perintahNya. Kamu sebenarnya tidak mampu menunaikan kewajibanNya kecuali dengan pertolonganNya. Kamu juga tidak akan mampu menggapai kampung yang diridlaiNya kecuali dengan rahmatNya. Kamu juga hakikatnya tidak mampu mencegah dari berbuat maksiat kecuali dengan pemeliharaanNya. Kamu juga tidak bisa selamat dari siksaNya kecuali dengan ampunanNya.

“Tidak seorang pun yang bisa masuk surga dengan amalnya,” kata Rasul.
“Tidak juga engkau, ya Rasul?!” tanya para sahabat.
“Tidak juga saya. Hanya saja Allah telah menggenangi saya dengan rahmatNya,” jawab beliau.

Sujud

Sujudlah kepada Allah seperti sujudnya orang yang tawadlu’ dan alim. Sujud orang seperti ini mengandung kesadaran bahwa dirinya diciptakan dari tanah yang setiap hari diinjak-injak seluruh makhluk. Ia tercipta dari setetes air mani yang setiap orang pasti jijik melihatnya. Jika seseorang memikirkan asalnya, merenungkan susunan tubuhnya yang berasal dari air yang hina dan debu, tentu ia semakin tunduk dan khusyu’ di hadapan Allah. Ia tentu akan berkata kepada dirinya, “Celakalah kamu, mengapa kamu mengangkat kepalamu dari sujudmu!” Allah telah menjadikan sujud sebagai sebab yang bisa mendekatkan diri kepadaNya. “Sujud dan dekatkanlah [dirimu kepada Tuhan]. ” (QS. Al ‘Alaq: 19). Barangsiapa dekat dengan Allah, maka ia jauh dari selainNya. Peliharalah sifat sujudmu dengan merenungkan ayat ini: "Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikanmu dan darinya Kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain." (QS. Thaha: 55).

Tahiyyat

Tahiyyat atau tasyahhud adalah pujian, di samping bisa diartikan syukur atas tambahnya keutamaan dan langgengnya kemuliaan Allah. Karena itu, keluarlah dari rasa mengaku-aku, dan jadilah hamba Allah yang baik dengan dibuktikan perbuatanmu yang taat. Dia telah menciptakanmu sebagai seorang hamba dan memerintahkanmu untuk menjadi hamba.

‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak [pula] bagi wanita yang mukmin memiliki (mengambil) pilihan tentang urusan mereka apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan.” (QS. Al Ahzab: 36).

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.'’ (QS. Al Qashshash: 68).

Karena itu, laksanakan ibadah dalam keridlan dan dengan hikmahNya. Laksanakan ibadah sesuai dengan perintahNya. Hai alah shalawat kepada kekasihNya (Muhammad saw.) seinlah memujiNya. Sesungguhnya Dia mengantarkan cinta Rasul kepada cinta Allah, taat Rasul menuju ketaatan kepada Allah, dan mengikuti Rasul digiring untuk mengikuti Allah.

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.'’ (QS. Al Qashshash: 68).

Karena itu, laksanakan ibadah dalam keridlan dan dengan hikmahNya. Laksanakan ibadah sesuai dengan perintahNya. Bacalah shalawat kepada kekasihNya (Muhammad saw.) setelah memujiNya. Sesungguhnya Dia mengantarkan cinta Rasul kepada cinta Allah, taat Rasul menuju ketaatan kepada Allah, dan mengikuti Rasul digiring untuk mengikuti Allah.

'Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu.’” (QS. Ali ‘lmran:31).

“Barangsiapa mentaati Rasul, maka sungguh ia telah mentaati Allah. ” (QS. Al 80).

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu sesungguhnya mereka bajanji setia kepada Allah. ”(QS. Al Fath: 10).

Karena itu, Allah swt. memerintahkanmu membaca shalawat untuk Nabi Muhammad saw. "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."(QS. Al Ahzab:56). Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali saja, Allah membacakan shalawat untuknya dengan sebab bacaan shalawat itu sepuluh shalawat. dan memperlakukannya dengan keutamaan."

Kemudian setelah itu, Allah memerintahkan bekerja dengan kerja yang baik dan adil. "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi." (QS. Al Jumu’ah: 10). “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (QS. Al Syarh: 7-8).

Salam

Salam adalah salah satu di antara nama-nama Allah yang dititipkan kepada makhlukNva agar maknanya dipakai untuk bergaul, bermasyarakat, dan bekerja. Jika kamu menginginkan keselamatan, maka selamatkanlah kawanmu dari kejahatan dirimu dan sayangilah orang yang tidak menyayangi dirinya sendiri. Sesungguhnya manusia hidup di antara berbagai macam cobaan. Ada yang dicoba dengan kenikmatan untuk dilihat apakah ia akan bersyukur kepada Allah. Ada pula yang diuji dengan kesengsaraan untuk diketahui apakah ia akan bersabar.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya, lalu di-muliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka ia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Adapun bila Tuhannya mengujinya, lulu membatasi rezekinya, maka ia berkata, 'Tuhanku menghinakanku. 'Sekali-kali tidak [demikian]." (QS. Al Fajr: 15-17).

Ketahuilah, kemuliaan ada dalam ketaatan, bukan karena diuji dalam kenikmatan. Kehinaan dalam kemaksiatan, bukan karena diuji dalam kesengsaraan. Kenikmatan dan kesenangan sama-sama merupakan ujian. Sedangkan kemuliaan adalah derajat yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya yang mematuhi perintah-perintahNya dalam semua keadaan.

Berdoa

Jagalah etika berdoa. Renungkanlah, terhadap siapakah kamu berdoa, bagaimana kamu berdoa, mengapa kamu berdoa, dan mengapa pula kamu meminta? Doa adalah hakmu, sedangkan keterkabulannya hak Allah. Jika kamu belum memenuhi syarat-syarat doa, berarti kamu belum melaksanakan syarat-syarat dikabulkannya doa. Malik bin Dinar berkata, “Kamu menganggap lambat hujan, sedangkan saya menganggap lambat batu. Seandainya Allah tidak memerintahkan berdoa, tentu tetap wajib atas kita berdoa kepadaNya. Seandainya kita tidak mcmi liki syarat keterkabulan doa, tetapi ketika kita ikhlas dalam berdoa, maka diberi keutamaan kemustajaban."

"Katakanlah [kepada orang-orang musyrik], 'Tuhanku tidak mengindahkanmu melainkan kaluti ada ibadahmu."’ (QS. Al Furqan: 77).
Abu Yazid Al Busthanii pernah ditanya tentang ism Al A’zham (nama Allah yang paling agung), lalu dijawab, "Kosongkanlah hatimu dari selainNya, lalu berdoalah kepadaNya dengan namaNya yang mana saja yang kamu kehendaki." Yahya bin Mu’adz berkata, “Carilah pemilik nama (maksudnya nama-nama Allah).’" Rasulullah saw. bersabda, "Allah tidak mengabulkan doa dairi hati yang lalai. Jika kamu berhasil memurnikan (berdoa dengan ikhlas), maka bergembiralah dengan satu di antara tiga hal: mungkin kamu segera mendapatkan apa yang kamu minta, mungkin dianggap kecil [isi doa itu lalu] kamu [diberi Allah] yang lebih besar darinya, dan mungkin kamu dipalingkan dari suatu musibah yang seandainya ditimpakan kepadamu, pasti kamu binasa. Berdoalah kamu [seperti cara] doa orang yang minta perlindungan, bukan [seperti cara] doa orang yang memberi petunjuk.”

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. yang bersabda, “Allah swt. berfirman, barangsiapa disibukkan dengan mengingatKu dari memintaKu, saya pasti memberinya lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memintaKu.” Abu Al Husin Al Warraq berkata, “Saya berdoa kepada Allah sekali, lalu doaku dikabulkan, lalu saya lupa atas hajatku. Maka dari itu, jagalah hak Allah [yang wajib] atas dirimu dalam berdoa, dan janganlah kamu menyibukkan [dirimu] dengan bagianmu. Sesungguhnya Dia lebih mengetahui maslahahmu.”
Makna Kewajiban untuk Puasa, Zakat dan Haji

Makna Kewajiban untuk Puasa, Zakat dan Haji

Puasa
Jika kamu berpuasa, maka dengan puasamu niatkanlah untuk menahan nafsu dari syahwat. Sesungguhnya puasa merupakan peleburan kehendak nafsu. Dalam puasa terdapat kejernihan hati, pengurusan tubuh, ingat untuk berbuat baik kepada kaum fakir, berpaling ke hadirat Allah, bersyukur atas keutamaan-keutamaan yang telah diberikan Allah, dan meringankan hisab. Kenikmatan Allah dengan memberimu taufiq sehingga kamu mampu berpuasa adalah lebih agung daripada syukurmu atas kenikmatan itu. Kamu janganlah menuntut ganti atas puasamu.

Zakat
Setiap anggota badan wajib dizakati. Zakatnya hati adalah berfikir, yaitu memikirkan keagungan Allah, hikmah-hikmah-Nya, kekuasaan, hujjah, nikmat, dan rahmatNya. Zakatnya mata adalah digunakan untuk memandang alam dengan mengambil pelajaran darinya dan menjauhkannya dari pandangan bersyahwat. Zakatnya telinga adalah menyimak munajat kepada Allah. Zakatnya lidah adalah membicarakan sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah. Zakatnya tangan adalah menahannya dari berbuat jahat dan mengulurkannya untuk kebaikan. Zakatnya kaki adalah berjalan menuju kebaikan hati dan keselamatan agama.

Haji
Murid jika haji, sebaiknya menetapkan niatnya padarasa takut ditolak, melakukan persiapan seperti persiapan orang bepergian yang tidak akan  kembali; dan menjalin persahatan dengan baik. Ketika Ihrom, ia melepaskan semua atribut dan status keduniaan dari dirinya, menyucikan dirinya dari dosa dan memakai pakaian kebenaran dan kejujuran. Talbiyah yang diucapkan hakikatnya adalah jawaban atas undangan Allah Ihram yang dilakukannya hakikat adalah mengharamkan segala hal yang dapat menjauhkan dirinya dari allah. Ia kemudian thawaf dengan hatinya, memutari "kursi" kemuliaanNya. Dilanjutkan wuquf, yang maknanya adalah menjernihkan zahir dan batinnya Sa'i dengan berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa esensinya adalah lari dari hawa nafsunya. ia tidak mengangan-ngangankan Allah dengan angan-angan yang tidak patut bagiNya. Lau di Arafah, ia mengakui kesalahan-kesalahannya.

Di Muzdalifah, ia semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sewaktu melempar jumrah, yang dilempar adlaah "batu-batu" syahwat, kemudian menyembelih hewan korban sebagai lambang menyembelih hawa nafsunya, dan diakhiri mencukur bersih dosa-dosanya. Ia berjalan mengunjungi Baitullah untuk mengagungkan Pemiliknya. Ia bersedia mencium batu hitam (hajar aswad) karena pasrah dan ridha pada qadla'Nya. Setelah itu, ia thawaf wada' dengan mengucapkan selamat tinggal kepada apa-apa yang selain Allah.
Hukum, Kepemimpinan, Niat dan Dzikir

Hukum, Kepemimpinan, Niat dan Dzikir

Hukum

Kata Al Qalb yang bermakna hati ini, huruf akhirnya bisa dibaca empat macam, yaitu di-rafa'. di-fathah, di-kasrah. dan di-sukun. Al Qalb yang di-rafa' mengandung makna dzikir pada Allah, Al Qalb yang di-fathah mengandung makna tidla, Al Qalb yang di-kasrah mengandung makna sibuk pada selain Allah, dan Al Qalb yang di-sukun mengandung makna lupa kepada allah. Alamat rafa' ada tiga: adanya kesesuaian, hilangnya perbedaan, dan langgungnya kerinduan. Alamat fathah juga ada tiga, yaitu: tawakkal, benar, dan yakin. Alam at kasrah ada tiga pula, yaitu: ujub atau bangga diri, riya', dan tamak. Ketiganya merupakan penggabungan sikap yang berorientasi kepada keduniaan. Alamat sukun pun ada tiga yaitu: kehilangan manisnya taat, tidak merasakan pahitnya maksiat. dan penyamaran halal.

Kepemimpinan


Rasulullah saw. Bersabda

"Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim."

Ilmu itu adalah ilmu jiwa. Karena itu, wajib atas setiap murid untuk bersyukur atau udzur. Karena itu pula utamakan ilmu. Jika ditolak, maka berbuat adillah. Taatnya gerakan dengan taufiq, diamnya dengan pemeliharaan, dan demikian itu tidak bisa berjalan lurus kecuali dengan melanggengkan kebutuhan.
Kuncinya adalah mengingat mati. Karena dengan meng­ingatnya, jiwa bisa terbebas dari rasa terpenjara dan selamat dari permusuhan. Tiang penyangganya adalah mengembalikan umur kepada hati yang satu. Demikian itu tidak akan bisa disatukan kecuali dengan berpikir dalam keseluruhan waktu.
Pintu berpikir adalah pengosongan diri. Penyebah pengosong­an adalah zuhud. Tiang zuhud adalah taqwa. Punuk taqwa ada­lah khauf TaIi pengekang khauf adalah yakin. Sistem keyakin­an adalah menyepi dan lapar Kesempurnaan menyepi adalah sungguh-sungguh dan sabar Jalan sungguh-sungguh dan kesa­baran adalah kebenaran, dan bukti kebenaran adalah ilmu.

Niat

Dalam setiap gerak dan diamnya, seorang hamba wajib niat. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya semua amal [bergantung] pada niat-[nya] dan bagi setiap orang mendapatkan apa yang diniati, dan niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya."
Niat itu berbeda mengikuti perbedaan waktu. Orang yang melakukan sesuatu.dengan niat pasti merasakan kelelahan. Se­dangkan yang tidak berniat, ia merasakan kelonggaran. Me­mang tidak ada yang lebih sulit dari pada menjaga niat.

Dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblat lidahmu. Ketika berdzi­kir, hayatilah rasa malu dalam beribadah dan rasa takut kepada Allah. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui rahasia hatimu, me­lihat zahir perbuatanmu, dan mendengar suara lirih ucapanmu. Karena itu, sucikanlah hatimu dengan kesedihan, dan nyalakan ruangan di dalamnya dengan api ketakutan. Jika hijab atau tabir lupa hilang dari hatimu, maka dzikirmu bersamaNya dan dzikirNya untukmu. Allah swt. berfirman [yang artinya]: "Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar.” (QS. Al  'Ankabut: 45). Ia mengingatmu, tetapi tidak butuh kamu, sedangkan engkau mengingatNya dan memang butuh kepada­Nya. Dia berfirmah [yang artinya]: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS. Al Ra'd: 28). Tenang­nya hati dalam dzikir kepada Allah dan ketakutannya juga ber­sama dzikir pada Allah.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. '' (QS. Al Anfal: 2).
Dzikir ada dua. Pertama, dzikir murni atau dzikir ikhlas yang sesuai dengan gerakan hati. Dzikir ini merontokkan seluruh pandangan kepada selain Allah. Kedua, dzikir shafi atau jernih yang dilakukan dengan melenyapkan angan-angan bahwa diri­nya berdzikir. Rasulullah saw. bersabda:

"Saya tidak mampu menghitung puji-pujian untukmu. Eng­kau sebagaimana yang Engkau puji atas diriMu sendiri."
Berfikir tentang Diri Sendiri

Berfikir tentang Diri Sendiri

Berfikirlah! Allah Swt. berfirman (yang artinya) "Bukankah telah datang kepada manusia satu waktu dari masa, sedangkan ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut." QS. Al Dahr:1). Renungkanlah bagaimana keadaanmu. Ambil pelajaran atas dunia yang telah lewat, apakah masih ada yang tersisa. Kalau sekarang ada yang tersisa, itupun sama dengan yang telah berlalu, yaitu sama-sama dari air dan dicipta dengan air.
Rasulullah saw. bersabda, "Di dunia ini tidak ada yang tersisa kecuali balak dan fitnah." Nabi Nuh as. pernah di tanya, "Bagaimana kamu menemukan dunia, hai Nabi yang umurnya paling panjang?" Ia menjawab, "Saya menemukan dua pintu. Saya masuk dari pintu yang satu dan keluar dari pintu yang lain." Berfikir adalah pangkal kebaikan. Ia merupakan cermin yang dapat memperlihatkan kebaikan dan keburukannmu.

Dalam kitab Dalil Al Thalib ila Nahayah Al Mathalib, Syekh bin Ali bin Al Sakin berkata, "Seorang pencari yang bersungguh-sungguh jika ingin mengenakan pakaian kirqah (baju sufi yang terbuat dari wool), maka wajib baginya melepaskan pakaian yang dipakai sehari-hari. Jika sudah mengenakan pakaian kirqah, ia harus selalu menjaga dirinya dan terus menerus memperbaiki diri." Dikatakan pula bahwa yang pertama kali memakai pakaian sufi atau khirqah adalah Adam as dan Hawwa." Nabu Musa as, Isa as, dan Yahya as juga berpakaian khirqah. Nabi kita, Muhammad saw., yang merupakan seorang nabi yang paling mulia pakaian yang biasa dipakai adalah pakaian kumal yang harganya tidak lebih dari lima dirham. Karena itu, tidak boleh berpakaian sufi kecuali orang yang sudah bersih dari kotoran jiwa."

Hasan Al Basri berkata, "Telah sampai kepadaku suatu riwayat bahwa Nabi saw. bersabda Janganlah kalian berpakaian wool (khirqah) kecuali hati kalian bersih. "Sesungguhnya orang yang telah berpakaian wool, tetapi masih berkhianat dan menipu, maka Tuhan Maha Raja Yang menguasai langit membencinya. Jika suda berpakaian wool atau sufi, wajib baginya melaksanakan tugas-tugas yang maknanya tersimpan dalam huruf-hurufnya, yaitu tiga huruf (huruf Shad, Wawu dan Fa' yang kemudian membentuk kata shauf, yakni wool). Tugas-tugas yang terkandung dalam huruf shad adalah kebenaran, kejernihan, pemeliharaan, kesabaran, dan kebaikan. Tugas -tugas yang tersimpan dalam huruf wawu adalah sampai kepada Allah, menepati, dan menemukan. Tugas-tugas yang tersirat huruf fa' adalah kegembiraan dan kesedihan.

Jika pakaian sufi yang dikenakan adalah jenis muraqi' (pakaian tambal-tambalan), maka wajib baginya melaksanakan tugas-tugas yang tersirat dalam empat huruf muraqi, yaitu huruf mim, ra', qaf, dan 'ain. Tugas-tugas yang terdapat dalam huruf mim adalah ma'rifah, mujahadah, dan mudzillah (tawadhu', rendah hati, dan sangat sederhana). Tugas-tugas yang terkandung dalam huruf ra' adalah rahmah (kasih sayang), ra'fah (belas kasihan), riyadhah (prihatin) dan rahah (lapang dada), tugas-tugas yang terdapat dalam huruf qaf adalah qana'ah (puas), qurbah (mendekat Allah), kuat, dan berbicara yang benar. Tugas-tugas yang tersimpan dalam huruf 'ain adalah berilmu, beramal, rindu, dan beribadah. Nabi saw. pernah memerintahkan memakai pakaian muraqi' ketika berkata kepada 'Aisyah ra (yang artinya): "Jika batinmu (ingin) bertemu denganku, maka wajib atasmu duduk bersama kematian dan jangan mengganti pakaian sampai robek-robek."

Demikian uraian yang bisa desainer paparkan dengan mengambil dari buku Jalan Hidup Kaum Sufi karya Imam Al Gazali, semoga ada manfaatnya. Jika anda kurang paham silahkan bertanya kepada yang lebih ahli di sekitar Anda.
Karomah Makam Syeikh Abdurrauf As-Sinkili

Karomah Makam Syeikh Abdurrauf As-Sinkili

Syeikh Abdurrauf As-Sinkili, Mursyid Profilic dari Sinkil Syeikh Kuala atau Syeikh Abdurauf As Sinkili dikenal sebagai pembawa tarekat Syatariyah ke Indonesia. Ia seorang ulama profilic (produktif) dalam menghasilkan karya intelektual. 

Konon sewaktu bencana tsunami di Aceh tahun 2004 ada sesuatu peristiwa di luar nalar. Orang-orang yang berkumpul di makam Syaikh Kuala luput dari amukan air bah yang dahsyat. Padahal letak makam tersebut berada di pinggir pantai. Tentu saja cerita ini menjadi buah bibir masyarakat kala itu. Bahkan ada yang mengkeramatkannya. Syeikh Kuala memang tokoh yang dihormati dan mempunyai pengaruh hingga sekarang. 
Makam Syeikh Abdurrauf Singkli
Makam Syeikh Abdurrauf Sinkli
Syeikh Kuala memang bukan nama asing bagi masyarakat Aceh saja. Tetapi dikenal di seantero ranah Melayu dan dunia Islan international. Syeikh Kuala atau Syeikh Abdurauf Singkel adalah tokoh tasawuf juga ahli fikih yang disegani. Lelaki asal Sinkel, Fansur Aceh Utara ini dikenal sebagai salah satu ulama produktif. Karyanya banyak mulai tasawuf hingga fikih. Pengaruhnya sangat besar dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tak salah kalau menghormati jasanya namanya diabadikan menjadi nama universitas di Banda Aceh. 

Prof. Dr. Azyumardi Azra menyebutnya sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab dalam membuka jaringan ulama Nusantara di dunia internasional. Berkat jasanya orang-orang Indonesia kemudian masuk dalam jajaran jaringan ulama dunia. Tidak salah kalau kemudian muncul nama-nama ulama besar seperti Syeikh Nawawi al Bantani, Syeikh Mahfudz At ‘Tirimisi, dan lain-lain yang mempunyai reputasinya mendunia. Kitabnya yang berjudul Umtad Al Muhtajin membuka mata kita bagaimana Syeikh Kuala membangun jaringan intelektualnya. Gurunya tersebar dari Yaman, Qatar, Aden hingga dataran Hejaz. Ia belajar tidak hanya ilmu "lahir' saja tetapi juga ilmu"batin". 

Kemasyuhrannya dalam penguasaan dua ilmu tersebut melahirkan banyak karya yang sampai sekarang masih menjadi bahan rujukan para ulama maupun cerdik pandai. Patut disayangkan catatan tentang kehidupannya sangat minim. Kalaupun ada hanya sejarah lesan saja dan sedikit komentar dalam karya-karyanya. Dalam ensiklopedi Islam disebutkan bahwa Syeikh Kuala lahir di Singkel pada tahun 1035 H. Nama kampungnya ini kemudian melekat pada dirinya. Nama aslinya Abdurauf. Dalam dunia ulama Melayu atau Jawi namanya disebut sangat panjang yaitu Syeikh Abdurauf al Jawi Al Fansuri as Sinkili. 

Biografi ulama yang satu ini hanya bisa dilihat sekilas saja. Itupun hanya sepotong tulisan dalam berbagai kitabnya. Riwayatnya sebatas bagaimana ia belajar dengan beberapa guru. Tidak secara spesifik menyebutkan tentang biografinya. Ayahnya menjadi guru pertama dalam pengetahuan agama di Dayan (Madrasah) Simpang Kanan, di kawasan pedalaman Singkel. Selepas itu melanjutkan pendidikan ke sekolah tinggi di Barus (Dayan Tengku Chik) yang dipimpin oleh Hamzah Fansuri. 
http://history-waliyullah.blogspot.com/2016/01/karomah-makam-syeikh-abdurrauf-as.html

Di sekolah ini beliau belajar ilmu agama, sejarah, mantik, falsafah, sastra Arab/Melayu dan juga bahasa Parsi. Setelah tamat kemudian meneruskan pengajian ke seko¬lah Samudra Pasai yang dipimpin oleh Syeikh Syamsuddin As Samathrani. Sewaktu Syamsuddin diangkat menjadi Qadli Malikul Adil (Kadi Besar) pada zaman Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah, Abdurrauf bertolak ke Mekah dan merantau ke beberapa buah negara Asia Barat lain untuk mendalami ilmu di sana. Tercatat Syeikh Abdurauf pernah menjadi mufti Kerajaan Aceh ketika zaman Sultan Safiatuddin Tajul Alam (1641- 1643). Atas dukungan Raja Safiatuddin, Abdurauf memulai perjalanan intelektualnya menuju tanah suci. Banyak pusat-pusat keilmuawan yang dikunjunginya sepanjang jalur perjalanan haji. 

Disamping itu, Syeikh Abdurauf tidak belajar secara formal dengan beberapa ulama. Perkenalannya dengan banyak tokoh ulama seperti Muhammad Al Babili dari Mesir dan Muhammad Al Barzanji dari Anatolia menjadi ladang pencarian ilmu secara informal. Syeikh Muhammad Al Babili merupakan salah satu ulama Muhadis terkemuka kala itu di Haramain. Adapaun Syeikh Muhammad al Barzanji dikenal sebagai sufi tersohor. Syeikh Abdurrauf tinggal selama 19 tahun di Mekah Syeikh Abdurauf bercerita bahwa dirinya banyak mendapatkan ilmu "lahir' dari Syeikh Ibrahim bin Abdullah Jam'an di Bait al faqih dan Mauza'. Lewat gurunya ini, ia berkenalan dengan tokoh tarekat seperti Syeikh Ahmad Qusyaysi dan Syeikh Ibrahim al Kurani. Lewat keduanya Syeikh Abdurauf mendapatkan ijazah tarekat Syatariyah. Tentang gurunya ini syikh Abdurrauf menyebutnya sebagai pembim- bing spiritual di jalan Allah. Sekitar tahun 1622 M Abdurrauf pulang kampung. 

Ia kemudian mengajarkan tarikat Syathariyah di daerahnya. Banyak santri yang berdatangan untuk berguru. Muridnyapun berasal dari berbagai daerah di wilayah Nusantara. Diantara muridnya yang paling terkenal adalah Syikh Burhanuddin Ulakan Sumatera Barat dan Syeikh Abdullah Muhyi, Pamijahan, Jawa Barat. Pengaruhnya sangat penting di kerajaan Aceh. Hingga di Aceh ada semacam kata-kata yang berbunyi "Adat bak peutus Merehum, syarak bak Syikeh di Kuala" maksudnya, "Adat di bawah kekuasaan almarhum (raja), sementara syariat (Islam) di bawah Syeikh Kuala. Ayat ini mejelaskan betapa besarnya kuasa, peranan dan pengaruh Abdurrauf dalam pemerintahan ketika itu yang hampir sama besar dengan kuasa sultan. 

Ketika gabungan antara umara dan ulama inilah juga Aceh mencapai kegemilangan. Sementara itu Hamka yang juga ahli filosofi dan ulama moden Indonesia, di dalam tulisannya pernah menurunkan sebaris kata-kata yang dinukilkan oleh Fakih Shaghir seorang ulama terkenal di zaman Perang Paderi, yaitu nenek kepada Sheikh Taher Jalaluddin az- Azhari (meninggal dunia pada tahun 1956 di Kuala Kangsar), yang berbunyi: "Maka adalah saya Fakih Shaghir menerima cerita daripada saya punya bapa, sebabnya saya mengambil pegangan ilmu hakikat, kerana cerita ini adalah ia setengah daripada adat dan tertib waruk orang yang mengambil fatwa juga adanya. Yakni adalah seorang aulia Allah dan khutub lagi kasyaf lagi mempunyai keramat iaitu, di tanah Aceh iaitu Tuan Syeikh Abdurrauf." 

Mursyid Syatariyah Sebagai ulama tasawuf, Syeikh Abdurauf tidak dapat dipisahkan dari perkembangan tarekat Syatariyah. Hampir semua ordo tarekat Syatariyah di Nusantara silsilahnya beru-jung padanya. Tarekat ini tersebar mulai dari Aceh hinga ke Sumatera Barat. Kemudian berkembang menyusur ke Sumatera Selatan hingga Cirebon. Dalam bertasawuf Abdurauf menganut paham bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Allah SWT Alam ciptaan-Nya adalah bayangan , yakni bayangan dari wujud hakiki. Walaupun wujud hakiki (Tuhan) berbeda dengan wujud bayangan (alam), terdapat keserupaan antara wujud ini. Tuhan melakukan tajali (penampakan diri dalam bentuk alam). 

Sifat-sifat Tuhan secara tidak langsung tampak pada manusia, dan secara relatif tampak sempurna pada Insan Kamil. Syeikh Abdurauf juga sangat tidak sepakat dengan paham wahdatul wujud. Dalam bukunya yang berjudul Bayan Tajalli, Abdurrauf menyatakan bahwa betapapun asyiknya seorang hamba dengan Tuhan, Khalik dan makhluk tetap mempunyai arti sendiri. Banyak karya yang dihasilkan olehnya. 

Ada 21 kitab yang karya tulis telah dihasilkan yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadis, 3 kitab fiqih dan sisanya kitab tasawuf. Syeikh Abdurauf menulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Kitab tafsirnya yang berjudul Turjuman Al Mustafid diakui sebagai kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dengan bahasa Melayu. Mir'at at Tulab fi Tahsil Ma'rifat Ahkam asy Syar'iyyah lil Malik al Wahhab merupakan salah satu kitabnya di bidang ilmu fiqih. Di dalamnya memuat berbagai persoalan fikih Madzhab Syafiie. Kitab ini juga menjadi panduan para kadi di kerajaan Aceh. 

Di bidang tasawuf, karyanya natara lain Kifayatul Al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, Umdat al Muhtajin dan Umdat al Muhatajin Suluk Maslak al Mufridin. Kitab yang terakhir ini merupakan karya terpenting Syeikh Abdurauf. Kitab Umdat al Muhtajin Suluk maslak al Mufridin terdiri dari tujuh bab. Isinya memuat antara lain memuat tentang zikir, sifat-sifat Allah dan RasuhNyadan asal usul mistik. Di akhir buku dicantumkan tentang sedikit riwayat hidupnya. Syeikh Abdurauf wafat pada tahun 1643 dan dimakamkan di Kuala (muara) Banda Aceh. Hinnga kemudian makamnya dikenal dengan makam Syeikh Kuala.

Sumber : Majalah Cahaya Sufi
Copyright © Mendalami. Template by: Petunjuk Onlene