Keagungan dan Keistimewaan Bulan Rajab

Keagungan dan Keistimewaan Bulan Rajab


Firman Allah dalam Surat Ali-Imran :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.

Yang dimaksud dengan ampunan, ialah amal-amal yang menyebabkan pengampunan Tuhan, seperti Islam, taubat, pelaksanaan ibadah dan lain-lain amal saleh.

Diriwayatkan oleh Abdurrahman Ibnu Auf bahwa Rasulullah bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Datang padaku malaikat Jibril dan berkata : Hai Muhammad! Tidak seorang membaca selawat untukmu melainkan untuk dia dibacakan selawat oleh tujuh puluh ribu malaikat dan barangsiapa untuk dia malaikat membacakan selawat ia adalah ahli syurga.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Takbir pertama dalam sembahyang yang dicapai oleh orang mu’min di belakang imam lebih baik baginya dari seribu haji dan umroh,' memperoleh pahala seperti orang yang menyedekahkan emas seberat gunung ’’Uhud” kepada orang-orang miskin, tercatat baginya ibadah setahun untuk tiap rakaat, diberinya oleh Allah dua kebebasan, kebebasan dari neraka dan kebebasan dari sifat munafiq dan tidak keluar dari dunia kecuali sudah melihat tempatnya di syurga serta akan masuk syurga tanpa melalui hisab.

Terdapat khilaf di antara ahli tafsir tentang batas takbir pertama itu. Sebagian berpendapat bahwa batasnya sampai selesainya imam membaca fatehah dan sebagian berpendapat sampai imam memulai pembacaan fatehah. ( Majalisul Anwar).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Barangsiapa bangun malam untuk ibadah pada malam pertama dari bulan Rajab tidak akan mati hatinya jika hati-hati lain mati dan Allah menuangkan kebajikan di atas kepalanya, bebas dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya dan memberi syafaat kepada tujuh puluh ribu ahli ma’siat yang sudah patut masuk neraka. (Lubbul Albab).

Diriwayatkan oleh Anar. Bin Malik bahwa Rasulullah bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Barangsiapa di suatu malam dari bulan Rajab bersembahyang duapuluh rakaat dengan membaca di tiap-tiap rakaat surat Al fatehah dan surat Al-Ikhlas dan bersalam sepuluh kali dilindungi oleh Allah dia dan keluarga serta anak-anaknya dari bala’ di dunia dan adzab di akhirat. (Zubdah ).

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah yang tuli. Barangsiapa dalam bulan itu berpuasa sehari dengan penuh iman dan ikhlas, patut memperoleh ridha Allah yang terbesar dan siapa berpuasa dua hari tidak dapat digambarkan oleh ahli langit dan bumi kemuliaan apa yang tersedia baginya di sisi Tuhan, dan barangsiapa berpuasa tiga hari diselamatkan dari segala bala’ di dunia dan adzab di akhirat dan dari penyakit gila, kosta, sopak dan dari fitnahnya Daijal, dan siapa berpuasa tujuh hari tertutup baginya tujuh pintu neraka dan siapa berpuasa delapan hari terbuka baginya delapan pintu di syurga dan siapa berpuasa sepuluh hari segala apa yang diminta dari Allah akan diberinya dan siapa berpuasa limabe-las hari diampuni oleh Allah segala dosanya yang sudah lalu dan digantinya dengan kebajikan dan 'barangsiapa menambah akan ditambah pahalanya oleh Allah.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :

Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Pada malam Mi'raj aku melihat sebuah sungai, airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dari es dan lebih harum dari kasturi. Bertanya aku pada Jibril ; Bagi siapa sungai ini ? ’’Bagi orang yang membaca selawat untukmu dalam bulan Rajab.

Menurut ceritera Mugatil ra. bahwasanya di belakang gunung ”Gaf ’ terdapat bumi putih, tanahnya seperti perak, luasnya seluas dunia tujuh kali, penuh dengan malaikat sehingga jika ada jarum jatuh akan jatuh di atas mereka, ditiap tiap tangan malaikat terdapat bendera yang bertulisan syahadat

Malaikat - malaikat itu berkumpul mengelilingi gunung ”Gaf ” tiap malam Jum‘ah beristighfar dan berdo'a sampai pagi, memohonkan selamat bagi ummat Muhammad dan berkata : Ya Tuhan kami ! Kasihanilah dan jangan disiksa ummat Muhammad. Hai malaikatKu ! firman Tuhan, Demi keperkasaan K.u dan keagunganKu, Aku telah mengampuni mereka. (Majalisul-Abrar).

Dikatakan bahwa kata ’’Rajab” terdiri dari tiga huruf : ”Ra” menunjukkan rahmat Tuhan. ”Ja” menunjukkan dosa dan ma‘-siat hambanya dan ”Ba” menunjukkan barakahnya Tuhan, seakan-akan Allah berfirman : Hai hambaku! Aku telah menempatkan dosa dan ma‘siatmu di antara barakah dan rahmatKu, maka tidak akan dicatat lagi bagimu dosa ataupun ma’siat karena kehormatan bulan Rajab. (Majalisul-Abrar).

Diceriterakan bahwa bulan Rajab sesudah berakhir naiklah ia ke langit dan ditanya oleh Tuhan : Apakah mereka menyintaimu dan menghorihatimu ? Lalu berkata si Rajab setelah Tuhan mengulangi pertanyaanNya kedua dan ketiga kali : Ya Tuhanku! Engkaulah penutup segala aib dan memerintahkan hambaMu menutupi aibaib sesamanya. RasuIMu memberi julukan tuli padaku. Aku telah mendengar taat dan ibadah hamba-hambamu dan tidak mendengar ma'siatnya. Kemudian Allah swt. berfirman : Engkau adalah bulan-Ku beraib dan hamba-hambaKu pula beraib. Aku telah terima mereka dengan segala aib-aibnya demi kehormatan Mu sebagaimana Aku telah menerimamu dengan aibmu dan dengan satu penyesalan Aku mengampuni mereka dan tidak mencatat ma‘siat-ma‘siatnya.

Dikatakan bahwa bulan Rajab mendapat julukan TULI, karena dalam bulan itu para malaikat yang bertugas mencatat amal-amal manusia, hanya mencatat amal amal kebajikan dan tidak mencatat kejahatan dan ma‘siat berlainan dengan lain-lain bulan di mana kebajikan dan kejahatan dicatat bersama. Karena dalam bulan Rajab mereka tidak mendengar kejahatan atau ma‘siat yang dicatat. (Misykatul-Anwar).

Bersabda Rasulullah saw. :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulannya Allah, bulan Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.

Menurut Abu Muhammad Alkhallal, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata :

Puasa hari pertama dari bulan Rajab berarti tebusan dosa tiga tahun, hari kedua tebusan dosa dua tahun, dan hari kedga tebusan dosa setahun, dan selanjutnya tiap hari ialah tebusan dosa sebulan. (Jami’ Saghir).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah bersabda :
Selain bulan Ramadhan tida’.c ada puasa kecuali dalam bulan Rajab dan Sya’ban.
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Sesungguhnya di syurga ada suatu sungai bernama "Rajab”, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis danTna-du. Barangsiapa berpuasa sehari dalam bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu.

Kata ”Rajab” dalam bahasa Arab berarti "Agung”. Diberikannya nama "Rajab" bagi bulan itu, karena bangsa Aiab menghormati dan mengagungkannya, sampai-sampai pintu Ka bah dibuka oleh para petugasnya selama satu bulan penuh selama bulrn Rajab, padahal di lain bulan hanya dibuka hari Senen dan Kemis, dan berkata mereka ; Bulan Rajab adalah bulannya Allah, Ka’bah rumah Allah dan hamba adalah hamba Allah, maka tidak dilarang hamba Allah memasuki rumah Allah di dalam bulan Allah.

Dihikayatkan bahwa di Baitul Maqdis ada seorang perempuan ahli ibadah, jika tiba bulan Rajab, ia membaca surat ”A1-Ikhlas” saban hari dua belas kali dengan melepas pakaian suteranya dan mengenakan pakaian yang kasar-kasar. Pada suatu ketika dalam bulan Rajab, ia jatuh sakit dan berwasiat pada puteranya, apabila ia mati supaya dikubur bersama pakaian kasarnya, akan tetapi si anak bahkan membungkus mayat ibunya dengan pakaian halusnya sekedar riya.

Syahdan, dalam mimpi si anak melihat ibunya seakan-akan marah sambil berkata padanya : Kenapa engkau tidak melaksanakan wasiatku ? Tergugahlah si anak dari tidurnya dalam keadaar takut dan bergegas-gegas menggali kembali kubur ibunya yang ternyata kosong tidak terdapat mayat dalamnya-: Dalam keadaan terheran heran, menyesal, ia menangis tersedu-sedu dan seketika terdengar suara olehnya yang yang berkata : Tidaklah engkau tahu, bahwa siapa yang mengagung-agungkan bulan Rajab tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya. (Zubdatul wai’dzin)

Diriwayatkan bahwa Sayidina Abubakar r.a. berkata :

Jika sepertiga malam telah lewat pada hari Jumahat pertama dalam bulan Rajab, maka berkumpullah di Ka’bah semua malaikat yang berada di langit maupun di bumi dengan tiada ada yang ketinggalan. Di situ mereka dipandang oleh Allah dan mendengarkan firmanNya yang berbunyi : Hai malaikatKu! Mintalah sesukamu! Ya Tuhan kami!,-berkata para malaikat, ”Permintaan kami, ialah bahwa Tuhan mengampuni orang-orang yang berpuasa di bulan Rajab”. ”Aku telah mengampuni mereka” jawab Tuhan

Menurut riwayat Sitti A’isyah r.a. bahwa Rasulullah bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Semua orang lapar di hari qiamat, kecuali para nabi dan keluarganya serta orang-orang yang berpuasa bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Mereka tidak merasa lapar maupun dahaga. (Zubdatul Wa’idzin).

Dikhabarkan bahwa pada hari Qiamat terdengarlah suara yang berseru : Di manakah mereka ahli Rajab (yang beribadah dan berpuasa di bulan Rajab)? Lalu keluar cahaya yang diikuti oleh Jibril dan Mika’il dan disusul oleh orang-orang ahli Rajab dan bersama-sama meliwati Shirath secepat kilat yang menyambar. Bersujudlah mereka kemudian sebagai tanda syukur bahwa mereka telah lulus meliwati shirath. "Angkatlah kepalamu hari ini "Angkatlah kepalamu hari ini, firman Tuhan, kamu telah melakukan sujud di dunia dalam bulanKu, berangkatlah ke tempat-tempatmu (syurga)! (Raunagul Majalis).

Dihikayatkan oleh Tsauban bahwa ia pada suatu ketika berjalan bersama Rasulullah saw. melalui suatu kuburan di mana Rasulullah berhenti sejenak dan menangis tersedu-sedu. Kenapa Rasullah menangis ? tanya Tsauban, lalu bersabda Rasulullah saw. :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab
Aku berdo’a untuk mereka yang sedang disiksa dalam kuburnya maka diringankanlah oleh Allah siksanya. Hai Tsauban!

Coba mereka berpuasa satu hari dan tidak tidur satu malam dalam bulan Rajab, mereka tidak akan disiksa dalam kuburnya. Kemudian bertanya Tsauban : Adakah puasa satu hari dan ibadah satu malam dalam bulan Rajab mencegah siksaan kubur ?

Rasulullah menjawab dan bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Hai Tsauban ! Demi Allah yang mengutus aku sebagai Nabi, tiada seorang muslim ataupun muslimah yang dengan ikhlas dan melulu untuk Allah berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam, bulan Rajab, melainkan baginya dicatat oleh Allah pahala ibadah satu tahun puasa di waktu siangnya dan ibadah di waktu malamnya. (Zubdatul Wa’idhin).

Berkata Mawardi dalam kitabnya ”A1-Igna"

Puasa bulan Rajab dan Sya’ban memang dianjurkan dan dimustahabkan. Tetapi mengenai apa yang disebut sembahyang ”Ra-gha'ib” tidak ada dasarnya dalam syari’at, karena hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai sembahyang itu adalah hadits hadits maudhu’ (bikinan) walaupun banyak terdapat dalam beberapa kitab. Sebab soal-soal agama dan penentuan pahala atau dosa datangnya dari pembawa Syari at, sedangkan apa yang disebut sembahyang ”Ragha’ib” tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun oleh sahabat sahabatnya bahkan tidak ada anjuran untuk melakukan itu. Maka bagi orang yang beragama dan tunduk kepada agamanya harus berhati-hati dan tidak turut turut melakukan apa yang orang banyak dalam zaman ini melakukannya seperti sembahyang "Ra-gha’ib” malam Jumahat pertama bulan Rajab yang tidak ada dasarnya dalam agama, bahkan dapat diartikan melakukan perbuatan Mbid‘ah” yang dapat mendatangkan dosa dan siksa, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Rasulullah yang berbunyi :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Hati-hatilah kamu dari soal-soal baru yang diada-adakan (dalam agama), karena tiap-tiap soal baru adalah bid‘ah, dan tiap-tiap bid‘ah adalah kesesatan dan tiap-tiap kesesatan adalah di neraka. Dan sejelek jeleknya soal adalah soal-soal baru (yang diada adakan).

Kedua hadits tersebut di atas menunjukkan bahwa sembahyang ’’ragha’ib” adalah bid‘ah dan kesesatan, karena tidak dikenal di masa sahabat dan tabi‘in maupun di iriasa imam-imam ahli ijtihad dan baru dikenal sesudah empat ratus tahun hijriah, sehingga tidak dikenal oleh ulama-ulama yang terdahulu dan oleh ulama-ulama yg datang belakangan bahkan dicela dan dinyatakan ’’bid'ah” yang mengandung kemungkaran, Maka tinggalkanlah itu dan berpeganglah pada ta‘at dan ibadah yang murni agar mencapai syurga dan memperoleh derajat dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Diceriterakan dalam kitab ”Majmaul Bahrain” bahwa Sai-yidina Ali bin Abi Talib r.a. telah melarang seorang yang ditemuinya pada hari raya ’’id” di suatu tanah lapang yang hendak melakukan sembahyang sebelum waktunya, dan berkata orang itu : Hai A-mirul Mu’minin! Kenapa saya dilarang padahal saya tahu bahwa Allah tidak akan mengadzab orang karena sembahyang. Sayapun tahu, jawab Saiyidina Ali, bahwa Allah tidak akan memberi pahala atas suatu perbuatan yang tidak dilakukan atau dianjurkan oleh Rasulullah, sehingga dengan demikian sembahyangmu sia-sia belaka bahkan Tuhan mungkin meng-adzab-mu karena pelanggaranmu terhadap rasulnya. (Majalis Rumi)

Dikabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda :
Hadis Nabi Tentang Bulan Rajab

Allah menciptakan wajah-wajah para bidadari dari empat warna : putih, hijau, kuning dan merah dan menciptakan badannya dari za’faran, misik, ambar dan kafur. Dari jari-jari kakinya sampai lututnya diciptakan dari za'faran, dari lutut sampai pusarnya dari dupa, dari pusar sampai lehernya dari ambar dan dari leher sampai kepalanya dari kafur. Jika ia meludah, ludahnya menjadi dupa di dunia. Tertulis di atas dada masing - masing bidadari itu nama suaminya di samping satu nama dari nama-nama Allah. Di antara kedua pundanya selebar satu farsakh kira-kira satu mil). Di tiap tangan dari kedua tangannya sepuluh gelang dari emas dan di jari-jarinya sepuluh cincin dan di kakinya gelang-gelang dari permata dan mutiara. ( Dagaignl-Akhbar ).
10 Faedah Mencintai Shalat, Ini Kenikmatan yang Akan Diperoleh

10 Faedah Mencintai Shalat, Ini Kenikmatan yang Akan Diperoleh

Shalat adalah ibadah yang sangat penting dibandingkan ibadah lainnya. Pada hari Kiamat, amal yang pertama kali akan ditanyakan setelah iman, adalah shalat. Sabda Nabi saw., "Pembeda antara kufur dengan iman adalah shalat." Selain hadits di atas masih banyak lagi riwayat tentang kepentingan shalat. Hal ini telah saya susun dalam risalah lain, yaitu kitab 'Fadhail Shalat'.


1. Firman Allah Mengenai Hak Orang Yang Mengerjakan Shalat Nawafil
Allah swt. berfirman, "Barangsiapa membenci para kekasih-Ku, maka Aku nyatakan perang dengannya. Dan siapapun tidak dapat mendekatiku kecuali dengan menunaikan amalan wajib yang telah Aku berikan. Dan Aku akan bertambah dekat, jika menunaikan amalan sunnah. Aku akan menjadikannya sebagai kekasih-Ku. Kemudian Aku akan menjadi telinganya, yang ia mendengar; menjadi matanya, yang ia melihat; menjadi tangannya yang ia memegang; menjadi kakinya yang ia berjalan. Jika ia berdo'a meminta sesuatu, maka Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta perlindungan, maka Aku akan melindunginya." (Hadits Qudsi-Jam'ul Fawaid)

Faedah:
Menjadi mata dan telinga, maksudnya bahwa seluruh penglihatan, pendengaran, gerakan kaki, berjalan sesuai dengan ridha Allah swt., tanpa menentang Allah swt.. Sungguh beruntunglah, orang yang dapat menunaikan amalan fardhu, juga dapat memperbanyak amal sunnah dan nafilnya. Semoga Allah dengan kemurahan-Nya memberi saya dan anda taufik untuk mengamalkannya.

2. Kisah Nabi saw. Shalat Sepanjang Malam
Seseorang bertanya kepada Aisyah r.ha., "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang luar biasa pada diri Rasulullah saw. yang pernah engkau lihat?" Jawab Aisyah r.ha., "Manakah perbuatan beliau yang tidak luar biasa? Pernah pada suatu malam, beliau berbaring bersamaku, lalu beliau saw. berkata, "Biarkanlah saya beribadah kepada Allah sekarang." Beliau bangun dari tempat tidurnya, lalu mengerjakan shalat. Baru saja memulai shalat, beliau langsung menangis bercucuran air mata, sehingga membasahi dada. Kemudian beliau ruku', pun sambil menangis. Juga ketika sujud, beliau menangis. Dan ketika bangun dari sujud pun beliau masih menangis. Sampailah terdengar adzan Fajar Bilal ra.. Saya berkata, "Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis, bukankah engkau maksum, dan Allah telah berjanji mengampuni segala dosamu, baik yang akan datang maupun yang lalu?" Jawab Nabi saw., "Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hamba-Nya yang bersyukur?" Sabda beliau selanjutnya, "Mengapa saya tidak demikian? Padahal Allah swt. telah berfirman;

"Sesungguhnya mengenai penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi mereka yang berakal. Yaitu, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk atau pun di waktu berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi lalu berkata, "Ya Tuhan kami, Tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari adzab neraka. " (Ali Imran: 190-191)

Masih banyak lagi riwayat mengenai panjangnya shalat malam Nabi saw.. Demikian lama beliau berdiri shalat, sampai kaki-kaki beliau menjadi bengkak. Sebagian sahabat berkata, "Ya Rasulullah, mengapa engkau demikian bersusah payah mendirikan shalat, padahal Allah telah mengampuni seluruh dosamu?" Nabi saw. selalu menjawab, "Apakah tidak sepatutnya saya menjadi hamba yang bersyukur?" (Bukhari)

3. Kisah Nabi saw. Membaca Enam Juz AI-Qur'an Dalam Empat Rakaat
'Aufra. bercerita, "Suatu ketika, saya berdua bersama Nabi saw.. Setelah bersiwak dan berwudhu, beliau berdiri untuk shalat. Saya menyertai beliau shalat. Pada rakaat pertama, beliau saw. membaca Al-Baqarah. Bila menemui ayat-ayat rahmat, beliau akan berdo'a sejenak memohon rahmat Allah. Jika menemui ayat-ayat tentang siksa Allah, maka beliau akan berhenti sejenak berdo'a memohon perlindungan dari siksa Allah swt.. Selesai membaca Al-Baqarah, beliau ruku' dengan ruku' yang sama panjangnya dengan bacaan Al-Baqarah tadi. Dalam ruku' beliau membaca;

"Maha suci Tuhan yang mempunyai kekerasan, kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan."

Lalu beliau sujud, dan sujudnya pun sangat lama. Setelah itu beliau berdiri raka'at kedua, lalu membaca Ali Imran. Demikian seterusnya, beliau membaca satu surat dalam setiap raka'at. Jadi, dalam empat raka'at, beliau telah membaca empat surat Al-Qur'an. Dapat dibayangkan, betapa lama shalat Nabi saw.. Ditambah dengan setiap ayat rahmat dan ayat adzab beliau berhenti untuk berdo'a kepada Allah swt., ditambah dengan ruku' dan sujud yang lama.

Ada kisah lainnya, yang dialami oleh Hudzaifah ra. ketika menyertai shalat bersama Nabi saw.. Ia berkata, "Rasulullah saw. shalat empat raka'at dengan membaca empat surat, yaitu dari Al-Baqarah sampai akhir Al-Maidah."

Faedah:
Empat surat tersebut berarti enam juz Al-Qur'an. Rasulullah membacanya dalam empat raka'at. Dan Rasulullah saw. biasa membaca Al-Qur'an dengan tajwid dan tartil, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Ditambah lagi, di setiap ayat rahmat dan adzab, beliau saw. akan berhenti sejenak untuk berdo'a kepada Allah swt., ditambah lagi ruku' dan sujud yang panjang. Terbayang oleh kita, betapa lama Nabi saw. mengerjakan shalat empat raka'at ini. Bahkan Nabi saw. pernah membaca dalam satu rakaat surat Al-Baqarah, Al-Imran sampai Al-Maidah yang kurang lebih sebanyak lima juz. Hal ini dapat dikerjakan bila shalat adalah kepuasan dan kebahagiaan batin kita. Nabi saw. bersabda, "Kenikmatanmatakupada shalat."

'Ya Allah berilah kamikekuatan untuk mengikuti mereka'

4. Kisah Shalat Beberapa Orang Sahabat ra.
Mujahid rah.a. menceritakan shalatnya Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair ra., "Jika mereka telah berdiri tegak untuk shalat, maka mereka seolah-olah kayu yang terpaku ke bumi." Mereka tidak bergerak sedikit pun di luar gerakan shalat. Menurut alim ulama, Ibnu Zubair ra. telah belajar shalat dari Abu Bakar ra., dan Abu Bakar ra. telah mempelajarinya langsung dari Nabi saw.. Apa yang dilakukan Nabi saw. dalam shalatnya, diikuti oleh Abu Bakar ra., dan shalat beliau diikuti Ibnu Zubair ra..

Tsabit ra. berkata, "Jika Abdullah bin Zubair ra. berdiri untuk shalat, maka ia laksana sebatang kayu yang ditancapkan ke bumi." Seseorang bercerita, "Demikian lama Ibnu Zubair ra. bersujud, tanpa bergerak sedikit pun, sehingga burung-burung hinggap dengan tenang di atas punggungnya. Pernah, beliau ruku' demikian lama dari awal malam hingga Shubuh tiba. Kadang-kadang beliau menghabiskan malamnya hanya dengan bersujud."

Dalam suatu pertempuran, Ibnu Zubair ra. shalat di masjid. Tiba-tiba, salah satu dinding masjid terkena serangan musuh dan runtuh. Sebagian bongkahan dinding itu telah menimpa leher beliau.

Meskipun demikian, beliau tetap shalat tanpa memendekkan shalatnya, baik ketika sujud ataupun ruku'. Pada saat yang lain, ketika beliau sedang shalat dan anaknya Hasyim sedang tidur di sisi beliau, tiba-tiba ada seekor ular terjatuh dari atap dan membelit anaknya. Anak itu menjerit ketakutan, seisi rumah pun panik sehingga ribut. Akhirnya, mereka berhasil membunuh ular itu. Tetapi, Ibnu Zubair ra. tetap tenang dalam shalatnya. Setelah salam, beliau bertanya, "Sepertinya ada keributan, ada apa?" Isterinya menjawab, "Semoga Allah merahmatimu. Anak ini hampir mati dan kamu tidak mengetahuinya." Jawab Beliau, "Pikirkanlah olehmu, jika saya memalingkan perhatian dari shalat, maka bagaimana jadinya shalatku?" (Kxtzb Al-Bidayah dan lainnya).

Ketika Umar bin Khattab ra. ditikam pisau, yang menyebabkan ia meninggal dunia, darah terus mengalir dari lukanya sehingga beliau sering tidak sadarkan diri. Walaupun demikian keadaannya, jika disampaikan kepadanya waktu shalat tiba, maka beliau segera mengerjakannya. Beliau berkata, "Tiada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat."

Utsman bin Affan ra., sering mendirikan shalat sepanjang malam dan menghatamkan Al-Qur' an hanya dalam satu raka'at. (Muntakhab)

Sedangkan, kebiasaan Ali ra. adalah jika tiba waktu shalat, tubuhnya akan bergetar dan pucat wajahnya. Seseorang bertanya, "Mengapa keadaanmu seperti ini?" Jawab beliau, "Telah tiba saatnya bagi saya untuk menunaikan amanat yang Allah Ta'ala berikan kepada saya, yang enggan diterima oleh langit, bumi, dan gunung."

Seseorang bertanya kepada Khalaf bin Ayub ra., "Apakah lalat-lalat tidak mengganggumu ketika shalat?" Jawabnya, "Seorang pendosa yang tertangkap polisi, ketika dihukum, ia akan berusaha sabar tanpa bergerak sedikit pun. Dan itu ia banggakan. Ia berkata, "Walaupun saya dipukuli saya tetap sabar dan tabah." Lalu, bagaimana dengan diriku, jika aku berdiri di hadapan Rabb-ku, dan terganggu hanya karena lalat?"

Muslim bin Yasar rah.a. ketika akan shalat, ia berkata kepada keluarganya, "Teruskanlah perbincangan kalian, aku tak akan terpengaruh sedikit pun dengan obrolan kalian." Suatu ketika, beliau shalat di Masjid Jami' Basrah. Tiba-tiba, sebagian tembok masjid runtuh. Orang-orang berkumpul dan ribut. Namun beliau tetap shalat, seolah-olah tidak mendengar apapun.

Hatim Asham rah.a. ditanya, bagaimana caranya beliau shalat. Beliau menjawab, "Jika waktu shalat telah tiba, maka setelah berwudhu aku berjalan ke tempat shalat. Lalu, aku duduk sejenak sehingga seluruh tubuhku mulai tenang, kemudian aku berdiri memulai shalat. Saat itu, aku membayangkan bahwa*"Baitullah Ka'bah berada di depanku, dan kakiku seolah-olah berada di atas Shirat, surga berada di sebelah kananku, dan neraka berada di sebelah kiriku, dan membayangkan malaikat pencabut nyawa, berada di belakangku; Aku merasa inilah shalatku yang terakhir. Setelah itu, aku berusaha shalat dengan penuh khusyu' dan khudhu', dan aku berada diantara dua perasaan, yaitu takut dan harap; apakah shalatku ini diterima ataukah tidak." (Ihya)

5. Kisah Shalat Dua Sahabat Muhajirin Dan Anshar
Setibanya Nabi saw. dari suatu peperangan, beliau bangun mendirikan shalat malam. Beliau bersabda, "Siapakah yang siap menjadi penjaga pada malam ini?" Maka, Ammar bin Yasir ra. dari Muhajirin dan Abbad bin Bashar dari Anshar berkata, "Kami siap berjaga malam." Nabi saw. memerintahkan mereka agar berjaga-jaga di sebuah bukit yang terdapat jalan bagi musuh untuk menyerang. Keduanya pergi ke bukit tersebut. Sesampainya di sana, pemuda Anshar itu berkata kepada saudaranya dari Muhajirin, "Mari, kita bagi malam ini menjadi dua bagian, bagian malam pertama, aku yang berjaga dan kamu beristirahat. Dan bagian kedua, kamu yang berjaga dan saya yang beristirahat. Maka, malam ini dapat dijaga bergantian. Jika terasa ada musuh yang datang, maka yang berjaga dapat membangunkan kawannya yang sedang tidur. Jika langsung kita berdua berjaga, bisa-bisa kita berdua mengantuk." Maka, pemuda Anshar mendapatkan jaga bagian pertama, dan pemuda Muhajirin tidur. Sambil bertugas, Abbad ra. mendirikan shalat. Ternyata, seorang musuh mengintainya. Kemudian, dari jarak jauh ia membidikkan anak panahnya ke arah Abbad ra.. Tetapi, Abbad ra. masih berdiri tegak, tidak bergoyang sedikit pun. Melihat hal ini, musuh pun melepaskan lagi anak panahnya. Tetapi ia tetap berdiri tegak. Musuh kembali melepaskan anak panahnya yang ketiga. Ketiga-tiganya menancap di badan Abbad ra.. Kemudian Abbad ra. mencabut ketiga anak panah itu dengan tangannya. Setelah tercabut, ia meneruskan shalat, ruku' dan sujud dengan tenangnya. Selesai shalat, Abbad ra. membangunkan kawannya. Ketika musuh melihat Abbad ra. membangunkan kawannya, ia segera melarikan diri dan ia tidak tahu berapa banyak lagi tentara Islam di situ. Ketika Ammar ra. bangun, dilihatnya badan Abbad ra. penuh darah, dengan bekas tiga anak panah tertancap di tubuhnya. Ammar ra. berkata kepada Abbad ra, "Subhanallah, kenapa engkau tidak membangunkanku dari tadi?" Jawab Abbad ra., "Ketika aku shalat tadi, aku mulai membaca surat Al-Kahfi, dan hatiku enggan untuk ruku' sebelum menyelesaikan surat ini. Tetapi, aku pun memperkirakan bahwa, jika aku dipanah terus menerus, aku bisa mati, dan tugas dari Rasulullah saw. untuk menjaga beliau tidak dapat ditunaikan. Saya mengkhawatirkan keselamatan Nabi saw.. Jika tidak, aku akan menyelesaikan bacaan surat itu, sebelum ruku', walaupun aku terpaksa harus mati dipanah musuh." (Baihaqi, AbuDaud)

Faedah:
Demikianlah shalat para sahabat ra., dan keasyikan shalat mereka. Walaupun panah demi panah menancap di tubuhnya, dan darah mengalir dari lukanya, ia tetap asyik shalat tanpa sedikit pun berubah. Sedangkan shalat kita, hanya karena nyamuk, pikiran kita menjadi kacau.

Ada perbedaan pendapat Fiqhiyah, mengenai darah yang mengalir dalam shalat. Imam Hanafi berpendapat membatalkan wudhu, sedangkan menurut madzhab Syafi'i tidak membatalkan. Mungkin, pendapat para sahabat ra. demikian, atau hal itu belum menjadi suatu perbedaan karena Nabi saw. masih hidup, atau karena belum adanya hukum atas hal itu.

6. Kisah Abu Thalhah ra. Mewakafkan Kebunnya
Suatu ketika, Abu Thalhah ra. sedang shalat di kebunnya. Tiba-tiba, seekor burung terbang di antara pepohonan. Burung itu terbang kesana-kemari, lalu masuk ke dalam rimbunan daun yang lebat, dan ia tidak bisa keluar dari rimbunan tersebut. Melihat kejadian ini, perhatian Abu Thalhah terarah pada tingkah laku burung itu, sehingga ia terlupa jumlah rakaat yang telah ia lakukan. Ia sangat kesal atas hal ini. Beliau sadar, karena kebunnya ini, musibah telah menimpanya. Ia terlupa dalam shalat. Setelah shalat, beliau langsung menjumpai Nabi saw.. Dan ia sampaikan semua kejadian tersebut, lalu berkata, "Ya Rasulullah, kebunku ini telah menyebabkan saya lalai dalam shalat. Oleh karena itu, saya sedekahkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu."

Peristiwa seperti ini pun pernah terjadi pada masa khalifah Utsman ra.. Ketika seorang Anshar sedang shalat di kebunnya. Kebetulan ketika itu sedang musim kurma berbuah. Matanya terus memandang senang ke arah buah-buah tersebut. Hatinya bergembira melihat kurma-kurma itu telah masak. Berarti panennya akan bagus. Perhatiannya kepada kurma-kurma itu, membuat ia lupa berapa rakaat yang telah ia kerjakan. Mengetahui hal ini, hatinya sangat sedih dan kecewa. Ia menyadari bahwa karena kebunnya, ia telah ditimpa musibah dalam shalatnya. Ia segera menemui khalifah Utsman ra., dan berkata, "Ya Amirul Mukminin, saya infakkan kebun ini fi sabilillah. Gunakanlah sekehendakmu." Kebun itu akhirnya dijual seharga 50.000 dirham, dan hasilnya digunakan fi sabilillah.

Faedah:
Demikianlah gairah keimanan sahabat ra.. Karena shalat adalah sesuatu yang sangat berharga bagi mereka, maka mereka mudah menyedekahkan kebunnya serharga 50.000 dirham di jalan Allah. Syekh Waliyullah rah.a. dalam kitab 'Qaulul Jamil' menukilkan tentang tingkat hubungan dalam tasawuf, beliau menulis; 'Tiada hubungan yang harus didahulukan kecuali untuk mentaati Allah, dan bergairah atasnya. Para sahabat ra. bersemangat untuk menjaga ketaatan kepada Allah, mangapa harus memperhatikan ke lainnya?

7. Kisah Ibnu Abbas ra. Tidak Mempedulikan Matanya Karena Shalat
Suatu ketika, sebelah mata Ibnu Abbas ra. selalu berair, ada seorang tabib datang mengobatinya. Tabib itu berkata, "Saya akan mengobati tuan, tetapi tuan harus berhati-hati selama lima hari, tuan jangan bersujud di tanah. Tuan boleh bersujud di atas kayu yang lebih tinggi." Ibnu Abbas ra. menjawab, "Tidak mungkin. Demi Allah, saya tidak akan melakukannya walaupun satu raka'at. Saya mendengar Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa meninggalkan satu shalat dengan sengaja, maka ia akan menjumpai Allah swt. dalam keadaan Allah murka kepadanya." (Durrul Mantsur)

Faedah:
Secara syariat, agama membolehkan shalat seperti itu jika terpaksa. Perbuatan itu tidak termasuk meninggalkan shalat. Tetapi karena demikian kuat semangat para sahabat ra. dalam inengikuti shalat Nabi saw., sehingga Ibnu Abbas ra. merasa lebih baik matanya tidak sembuh daripada harus meninggalkan cara shalat Rasulullah saw.. Para sahabat ra. sanggup mengorbankan dunia dan isinya untuk dapat menjalankan shalat sesuai contoh Nabi saw.. Sedangkan kita sekarang, tanpa malu kita selalu beralasan agar dapat memudahkan shalat kita.

Padahal ketika dihadapkan di medan Mahsyar barulah akan diketahui hakekat yang sebenarnya dari ucapannya. Dan apa yang dapat kita perbuat?

8. Kisah Para Sahabat ra. Meninggalkan Tokonya Ketika Waktu Shalat
Suatu hari, Ibnu Umar ra. pergi ke pasar. Kemudian tibalah waktu shalat berjamaah. Setiap pemilik toko langsung menutup tokonya dan segera pergi ke masjid. Ibnu Umar ra. berkata, "Merekalah orang-orang yang telah Allah firmankan dalam ayat;


"Laki-laki yang perdagangan dan jual beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang. "
(An-Nur :3 7)

Ibnu Abbas ra. berkata, "Mereka sangat sibuk dengan perniagaan dan jual beli, tetapi jika terdengar suara adzan shalat, maka mereka segera meninggalkan perniagaannya segera pergi ke masjid." Beliau juga berkata, "Demi Allah, mereka adalah para pedagang, namun perdagangan mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah swt.."

Suatu ketika, Abdullah bin Mas'ud ra. pergi ke pasar. Lalu terdengar adzan, ia melihat setiap orang meninggalkan tokonya dan segera pergi ke masjid. Dia berkata, "Mereka inilah orang yang Allah swt. telah berfirman;

"Laki-laki yang perdagangan dan jual beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, dan dari mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. "
(An-Nur: 37)

Nabi saw. bersabda, "Pada hari Hisab, ketika seluruh manusia dikumpulkan dalam satu tempat, maka Allah berfirman, "Siapakah orang yang selalu memuji Allah ketika senang dan susah?" Maka, sekumpulan manusia akan bangkit dan masuk ke surga tanpa hisab. Lalu diumumkan lagi, "Siapakah orang-orang yang meninggalkan tempat tidurnya dan menghabiskan waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah dengan rasa takut dan harap?" Maka, sekumpulan manusia bangkit dan masuk surga tanpa hisab. Lalu diumumkan lagi, "Siapakah orang-orang yang perniagaannya tidak menghalangi mereka dari mengingat Allah?" Maka, sekumpulan manusia bangun dan masuk surga tanpa hisab. Setelah ketiga kumpulan itu masuk surga, barulah dimulai hisab atas manusia lainnya. {Durrul Mantsur)

9. Kisah Shalat Khubaib ra. Dan Kesyahidannya Bersama Zaid Serta Ashim ra.
Terbunuhnya orang-orang kafir pada perang Uhud, telah menyalakan api dendam di hati para pemuka kafir Quraisy. Sulafah, yang kedua putranya telah terbunuh dalam perang tersebut, telah bersumpah, jika ia menjumpai Ashim ra. (sahabat yang telah membunuh kedua anaknya), ia akan membunuhnya dan akan meminum darah dari tempurung kepalanya. Untuk itu, ia mengumumkan akan memberi hadiah 100 ekor unta kepada siapapun yang dapat membawa kepala Ashim ra. kepadanya. Mendengar sayembara itu, Sufyan bin Khalid sangat bergairah dan berkeyakinan bahwa ia akan dapat membawa kepala Ashim ra. kepada Sulafah. Lalu, la mengirim beberapa lelaki dari kaum Adhal Waqarah ke Madinah, berpura-pura memeluk Islam. Lalu mereka meminta Nabi saw. agar mengirim beberapa orang sahabat untuk memberikan ta'lim dan tabligh di kampung mereka. Juga memohon agar Ashim ra. turut serta dalam rombongan tersebut. Alasan mereka, nasehat Ashim ra. disukai orang-orang. Nabi saw. mengirim sepuluh orang sahabat ra., (riwayat lain enam sahabat) untuk menyertai kaum Adhal Waqarah, termasuk Ashim ra..

Dalam perjalanan pulang, ternyata orang-orang Adhal Waqarah ingkar janji. Mereka menyuruh musuh agar menyerang para sahabat, sehingga para sahabat ra. itu telah diserang oleh 200 orang yang diantara mereka ada seratus pemanah handal yang terkenal. Suatu riwayat menyebutkan, bahwa Nabi saw. mengirim beberapa orang Mekkah untuk mencari berita tentang mereka. Di tengah perjalanan, kaum Muslimin yang berjumlah enam atau sepuluh orang itu di serang oleh musuh dari Bani Lihyan sejumlah 200 orang. Melihat musuh demikian banyak, mereka lari ke arah bukit Fadfad. Kaum kafir itu berkata, "Kami tidak ingin menumpahkan darah kalian, kami hanya ingin menukar kalian dengan harta penduduk Mekkah. Kemarilah, kami tidak akan membunuh kalian!" "Kami tidak mempercayai janji orang kafir," sahut para sahabat sambil melepaskan anak-anak panah mereka dan mulailah pertempuran terjadi. Ketika anak panah telah habis, maka mereka menyerang dengan lembing. Ashim ra. berkata menyemangati kawan-kawannya, "Mereka telah menipu kita. Jangan panik. Yakinlah, bahwa syahid adalah ghanimah. Allah kekasih kita bersama-sama kita dan para bidadari surga sedang menunggu kita." Sambil berkata demikian, ia menyerang musuh dengan gagah berani, sampai lembingnya patah. Lalu ia gunakan pedangnya, namun musuh sangat banyak, sehingga ia gugur sebagai syahid. Di akhir hayatnya, beliau berdo'a, "Ya Allah, sampaikanlah berita kami kepada Rasulullah saw.." Dan do'a ini langsung dikabulkan oleh Allah swt.. Ketika itu juga Nabi saw. mengetahui kejadian tersebut. Dan ketika Ashim ra. mengetahui bahwa Sulafah berniat akan meminum darah dari tengkoraknya, maka ia berdo'a," Ya Allah, telah kukorbankan kepalaku di jalan-Mu, maka, selamatkanlah kepalaku." Allah menunaikan doa Ashim ra.. Ketika kaum kafir berniat akan memenggal kepalanya, Allah swt. mengirimkan sekumpulan lebah untuk melindungi mayat Ashim ra. dari berbagai arah, sehingga musuh gagal memenggal kepalanya. Akhirnya, mereka membiarkan mayat Ashim ketika itu, dan mayat itu akan diambil pada malam hari, jika lebah-lebah sudah tiada. Tetapi, pada malam itu turun hujan lebat, sehingga banjir telah menghanyutkan mayat Ashim ra..

Sementara itu, Tujuh atau tiga orang Muslimin telah syahid, yang tinggal adalah Khubaib, Zaid bin Datsanah, dan Abdullah bin Thariq ra.. Mereka bertiga tetap bertahan di atas bukit. Kafirin itu terus membujuk mereka, "Turunlah kemari, kami tidak akan ingkar janji." Akhirnya, mereka mempercayai janji musuh itu. Mereka turun dari bukit, dan seketika itu juga mereka diserang oleh musuh kafir. Abdullah bin Thariq ra. berteriak, "Kalian mengingkari janji. Aku tidak akan pernah mempercayai kalian-lagi. Aku lebih menyukai mati syahid bersama teman-temanku. Musuh memaksanya berjalan, tetapi ia tidak bergerak. Akhirnya, mereka menjadikannya syahid.

Tinggallah dua sahabat yang tersisa. Keduanya dibawa ke Mekkah dan dijual sebagai budak Zaid bin Datsanah ra. telah dibeli oleh Sofwan bin Umayah seharga lima puluh ekor unta, sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Sedangkan, Khubaib ra. telah dibeli oleh Hujair bin Abu Ahab seharga 100 ekor unta, untuk balas dendam atas kematian ayahnya. Dalam Bukhari diriwayatkan, ia telah dibeli oleh anak-anak Harits bin Amir karena ia telah membunuh Harits dalam perang Badar.

Zaid langsung dibawa Sofwan ke luar tanah Haram, dan ia serahkan Zaid ra. kepada budaknya, sambil berkata, "Bunuhlah ia." Dan ia sendiri hanya menyaksikan saja bersama orang-orang yang berkumpul menyaksikan pembunuhan tersebut, termasuk Abu Sofyan. Ketika algojo siap membunuh Zaid ra., Abu Sofyan bertanya, "Hai Zaid, Demi Tuhan, aku bertanya kepadamu, apakah kamu suka jika lehermu yang akan dipenggal ini digantikan dengan kepala Muhammad saw. dan kamu dibebaskan dapat berkumpul dengan keluargamu?" Zaid ra. menjawab, "Demi Allah! Sedikit pun aku tidak akan rela jika ada duri kecil menusuk kaki Nabi saw., walaupun aku dapat bersenang-senang dengan keluargaku." Jawaban ini menakjubkan kaum Quraisy. Abu Sufyan berkata, "Aku belum pernah melihat kasih sayang yang demikian tinggi seperti kasih sayang para sahabat ra. kepada Nabi saw.." Setelah itu Zaid dipenggal hingga syahid.

Sedangkan, Khubaib ra. ditawan oleh Hujair beberapa hari. Seorang budak perempuan Hujair, yang di kemudian hari memeluk
Islam berkata, "Ketika Khubaib ditahan oleh kami, kami pernah melihatnya sedang memakan anggur sebesar kepala manusia. Padahal, ketika itu di Mekkah tidak ada anggur, sama sekali." Ia bercerita, ketika hari kematian Khubaib ra. telah dekat, ia telah meminta pisau cukur untuk membersihkan kumisnya. Permintaannya itu dipenuhi. Diberikan sebuah gunting kepadanya. Kebetulan ada seorang anak kecil bermain-main di dekatnya. Semua penghuni rumah itu langsung ketakutan, karena di tangan Khubaib ra. ada sebuah gunting dan anak itu berada di dekatnya. Khubaib ra. berkata, "Kalian tidak paham, apakah kalian pikir aku sanggup membunuh anak kecil yang tidak berdosa? Aku tidak mungkin melakukannya." Kemudian ia dibawa keluar tanah Haram. Sebelum dilaksanakan hukuman mati atasnya, ia ditanya, "Jika kamu menginginkan sesuatu sebutkanlah." Jawabnya, "Ijinkan aku shalat dua rakaat, karena tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia fana ini dan akan menemui Allah swt." Permintaannya itu dikabulkan. Ia laksanakan shalat dua raka'at dengan tenang. Setelah selesai, ia berkata, "Seandainya aku tidak khawatir, kalian menyangka aku takut mati sehingga shalatku ini lama, niscaya aku akan menambah lagi shalat dua raka'at." Dia pun diikat, lalu dia berdo'a, "Ya Allah, adakah seseorang yang akan menyampaikan salamku yang terakhir kepada Rasulullah saw.?" Ternyata, salamnya itu telah sampai kepada Nabi saw. melalui wahyu Allah swt.. Nabi saw. menjawab, "Waalaikum salam ya Khubaib." Lalu Nabi saw. bersabda kepada para sahabatnya, "Khubaib telah mati syahid di tangan kaum Quraisy."

Pembunuhan Khubaib ra. dilakukan oleh empat puluh orang Quraisy yang menikam dengan lembing dari empat arah, sehingga badannya hancur. Diantara mereka ada yang berkata, "Katakan, apakah kamu suka jika Muhammad saw. menggantikan tempatmu pada saat ini, dan kamu kami bebaskan?" Jawab Khubaib ra., "Demi Allah yang Maha Agung, aku tidak suka nyawaku ini ditebus dengan penderitaan Nabi saw. walaupun hanya duri kecil yang menancap di badan Rasulullah saw.."

Faedah:
Setiap lafadz dalam kisah-kisah di atas mengandung pelajaran bagi kita. Namun, ada dua pelajaran istimewa dalam kisah di atas. Pertama, para sahabat sangat mencintai Nabi saw. melebihi kecintaan pada diri mereka sendiri. Mereka bersumpah lebih rela kehilangan nyawa mereka daripada harus melihat Rasulullah saw. menderita, walaupun sepele. Walau pun hanya ucapan Khubaib ra. namun ia sangat tidak rela jika penderitaannya itu digantikan oleh Rasulullah saw.. Memang orang-orang kafir senantiasa menyakiti Nabi saw.. Kedua, Bagaimana keagungan dan kecintaan mereka pada shalat.

Biasanya, jika seseorang akan meninggal dunia, maka yang diingat adalah istri, anak, dan keluarganya. Sedangkan para sahabat, selain ingin mendirikan shalat pada saat-saat terakhir, mereka juga ingin memberi salam kepada Rasulullah saw..

10. Kisah Keinginan Rabi'ah ra. Bersama Rasulullah saw. Di Surga
Rabi'ah ra. bercerita, "Saya senantiasa melayani Rasulullah saw. pada malam hari. Sayalah yang menyediakan air wudhu beliau, menyediakan siwaknya, sajadah, dan keperluan lainnya. Suatu ketika, karena senang dengan pelayanan saya, beliau bertanya, "Sebutkan, apa yang sangat kamu inginkan?" Jawab saya, "Ya Rasulullah, saya hanya ingin bersamamu di surga." Beliau bertanya lagi, "Apa permintaanmu selain itu?" Jawab saya, "Tidak ada lagi, hanya itulah yang saya inginkan." Sabda Nabi saw., "Baiklah, kamu harus membantuku dengan sering sujud kepada Allah."

Faedah:
Kisah di atas mengandung peringatan bahwa segala keinginan kita tidak akan tercapai hanya dengan berdo'a kepada Allah. Do'a harus diiringi dengan perbuatan dan usaha ke arahnya. Dan sebaik-baik amalan yang terpenting adalah shalat. Lebih sering kita shalat, maka akan lebih banyak bersujud kepada Allah swt.. Seseorang yang hanya duduk-duduk saja sambil berkata, "Saya telah meminta dari ulama anu, ulama anu." Ini adalah suatu kesalahan besar. Allah swt. menjalankan dunia ini melalui sebab. Memang terkadang Allah swt. menjalankan sesuatu hanya dengan kudrat-Nya. Untuk menunjukkan bahwa Allah tidak tergantung kepada sebab. Namun secara umum, dunia dan segala sesuatunya ini berjalan dengan sebab. Sungguh mengherankan jika untuk keduniaan, kita tidak hanya duduk berdo'a kepada Allah swt.. Padahal untuk agama, sangat penting disertai usaha, takdir dan do'a. Tidak ragu lagi, bahwa do'a para wali Allah memang penting, Tetapi Nabi saw. bersabda, "Bantulah do'aku dengan memperbanyak sujud."
Seruan untuk Roh Keluar dari Jasad

Seruan untuk Roh Keluar dari Jasad

Dalam suatu hadits diterangkan, dari Aisyah ra. beliau berkata: "Aku sedang duduk dengan bersila di dalam rumah, pada waktu itu Rasulullah SAW. masuk, kemudian memberi salam kepadaku, dan aku hendak berdiri untuk menjawab salam beliau sebagaimana kebiasaanku setiap kali beliau masuk rumah. Kemudian beliau bersabda : "Duduklah kamu di tempat dudukmu, tidak ada buatmu untuk berdiri, wahai ummul mu'minin". Lalu Aisyah melanjutkan ceritanya, maka duduklah Rasulullah SAW. dan meletakkan kepalanya di atas pangkuanku, hingga beliau tertidur berbaring. Dengan tidak sengajaanku mencari uban di jenggot beliau dan aku mendapatkan sebelas uban yang sudah putih, seraya aku berfikir dalam benakku, "Sesungguhnya dia akan wafat sebelum aku. 

Kalau demikian halnya, maka tinggallah umat ini tanpa seorang Nabi". Kemudian aku menangis hingga air mata ini mengalir di pipiku dan menetes di wajah Rasulullah, maka terbangunlah beliau dari tidurnya dan bersabda : "Apa gerangan yang menyebabkanmu menangis, wahai ummul mu'minin?" Kemudian aku menceritakan itu kepada beliau, lantas beliau bertanya: "Keadaan apa yang sangat menyusahkan mayit?" Aku berkata : "Katakanlah ya Rasulullah". Beliau bersabda : "Kau dulu yang mengatakan". Maka aku menjawab : "Tidak ada keadaan yang lebih menyusahkan atas diri mayit kecuali pada waktu keluar dari rumahnya". Sedang anak-anaknya berduka cita di belakangnya, seraya mengatakan : Aduh ... bapakku, aduh ... ibuku dan berkata pula orang tua: Aduh... anakku. 

Kemudian Rasulullah bersabda: "Ini adalah pedih dan apabila yang lebih pedih dari itu?" Aku menjawab : "Tidak ada suatu keadaan yang lebih pedih atas diri mayit kecuali waktu diletakkan di liang lahat, ditimbun tanah, kemudian pulanglah semua sanak kerabatnya, anak-anaknya dan juga kekasihnya. Dan mereka serahkan mayit tersebut kepada Allah SWT. beserta amal perbuatannya lalu datang kepadanya Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir". Kemudian Rasulullah bersabda : "apalagi yang lebih pedih dari pada itu?" Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengerti". Maka Rasulullah bersabda : "Wahai Aisvah. sesungguhnya kepedihan yang sangat atas diri mayit adalah ketika orang-orang yang memandikan sudah masuk ke rumah hendak memandikannya. 

Lalu mereka lepas cincin mayit muda dari jari-jarinya, mereka melepas baju pengantin dari badannya dan melepaskan serban-serban para guru dan ahli fiqih dari kepalanya untuk segera dimandikan. Maka disaat melihat mayit dalam keadaan telanjang itulah ruh berseru dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Lalu ruh itu berkata: "Wahai orang-orang yang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamu, agar kamu lepaskan pakaian-pakaianku ini dengan lemah lembut karena sesungguhnya waktu ini aku telah istirahat akibat kesakitan pencabutan oleh Malaikat Izrail".

Dan ketika air disiramkan kepadanya, dia berseru : "Demi Allah, orang-orang yang memandikan, jangan kau siramkan airmu yang panas, jangan pula kaujadikan air itu terlalu panas, dan tidak pula terlalu dingin, karena tubuhku telah terbakar dari pencabutan ruh". Dan ketika mereka memandikan mayit, maka berkatalah ruh : "Demi Allah, wahai orang-orang yang memandikan, janganlah kau pegang kuat-kuat, karena tubuhku sangat terluka lantaran pencabutan ruh". Dan apabila telah selesai dimandikan kemudian diletakkan dalam kain kafan dan diikat di arah kedua kakinya, maka ruh itu berserah : "Wahai orang-orang yang memandikan, janganlah kau ikat kain kafan kepalaku sehingga aku dapat melihat istriku, anak-anakku dan kerabat-kerabatku. Karena inilah saat terakhir aku melihat mereka. Aku berpisah dengan mereka dan tiada pernah melihat mereka hingga datang hari kiamat".

Ketika mayit dikeluarkan dari rumahnya, maka mayit itu berseru : "Demi Allah, wahai jamaah pengantarku, janganlah kau segerakan aku hingga aku berpamitan dengan rumahku, keluargaku, sanak kerabatku dan hartaku". Lalu berseru pula : "Wahai jama'ah pengantarku, kutinggalkan istriku dalam keadaan janda, maka janganlah kalian menyakitinya, dan kutinggalkan anak-anakku dalam keadaan yatim, maka janganlah kalian menyakiti mereka, karena sesungguhnya pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku dan aku tidak akan kembali kepada mereka untuk selama-lamanya". Dan ketika mayit itu diletakkan di atas keranda, maka mh itu berseru : "Demi Allah, Wahai jama'ah pengantarku, janganlah kalian segerakan aku hingga aku mendengar suara istriku, anak-anakku, serta sanak-kerabatku, karena pada hari ini, aku akan berpisah dengan mereka sampai hari kiamat".

Dan ketika mayit dipikul di atas keranda dan orang-orang yang mengantarkan sudah berjalan dengan tiga kali langkah, maka berserulah ruh itu: "Wahai kekasih-kekasihku, teman-temanku dan anak-anakku, janganlah kamu tertipu oleh dunia sebagaimana aku tertipu olehnya, dan janganlah kamu mempermainkan zaman sebagaimana dia telah mempermainkan aku. Maka ambillah aku sebagai contoh olehmu. Sesungguhnya telah aku kumpulkan harta untuk semua ahli warisku, sedangkan mereka tidak mau sedikitpun menanggung semua dosa dan kesalahan-kesalahanku. Dan di atas dunia Allah SWT menghisab kepadaku, sedangkan kamu semua bersenang-senang dengan dunia dan kamu tidak pernah mendo'akanku, ketika kamu menshalati atas jenazah".

Dan ketika sebagian keluarganya dan sahabat-sahabatnya telah kembali dari tempat shalat, maka berserulah ruh itu : "Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya aku telah mengetahui, bahwa mayit itu lupa di waktu hidupnya, dan tetapi kamu jangan lupa kepadaku dengan kecepatan ini sebelum kalian kuburkan aku hingga kalian melihat pada tempatku. Wahai saudara-saudaraku sesungguhnya aku mengetahui, bahwa wajah mayit itu lebih dingin dari pada air yang dingin di dalam hatinya orang yang hidup, tetapi janganlah kamu kembali dengan secepat ini”. Dan ketika mayit itu diletakkan di dekat tanah kuburnya, maka berserulah mayit itu : "Demi Allah, wahai saudara-saudaraku sesungguhnya aku telah berdo'a untukmu, tetapi kamu tidak mau mendo'akan kepadaku".

Dan ketika mayit diletakkan di dalam liang lahat, maka berserulah mayit itu : "Demi Allah, wahai ahli warisku, tidaklah aku mengumpulkan harta yang banyak kecuali aku tinggalkan untuk kalian. Maka ingatlah kepadaku dengan memperbanyak amal kebaikan, karena Ai-Qur’an telah mengajari kalian berbagai sopan santun dan janganlah kalian lupa mendoakanku".

Dan atas dasar ini, ada sebuah cerita dari Abi Qilabah ra. dan cerita itu menerangkan, bahwasannya Abi Qilabah bermimpi di dalam tidurnya, ada suatu kejadian yang seolah-olah pekuburan itu telah pecah dan mayit-mayitnya sama keluar dari kuburnya, lalu mayit-mayit itu duduk di tepi kuburan, sedang dihadapan mereka masing-masing terdapat talam dari cahaya,d an Abi Qilabah melihat bahwa salah satu di antara ahli kubur itu terdapat seorang yang tiada cahaya sedikitpun dimukanya. Lalu dia bertanya kepadanya: "Apa sebabnya di wajahmu tidak terlihat secercah cahaya pun?"

maka mayat tersebut menjawab : "Sesungguhnya mereka itu mempunyai anak dan beberapa teman yang menghadiahkan kepadanya, mereka sama bersedekah di dunia untuk ditujukan kepada mereka yang mati dan nur inilah hasil dari apa yang mereka hadiahkan kepada mereka yang mati. Sedangkan aku mempunyai anak yang tidak shalih serta tidak pernah mendoakanku dan tidak pernah berhadapan untuk diriku, maka dari itu tidak secercahpun cahaya yang aku miliki, hingga aku merasa malu kepada tetanggaku". Ketika Abi Qilabah terbangun maka dia memanggil anak dari mayit yang diimpikan tersebut dan menceritakan kepadanya tentang apa yang dilihatnya dalam mimpi. Maka anak tersebut berkata : "Aku bertaubat dihadapanmu dan tidaklah aku akan mengulangi terhadap perbuatanku yang lalu untuk selama-lamanya". Maka anak tersebut mulai menyibukkan diri dengan suatu ketaatan, do'a dan bershadaqah demi ayahnya. Dan ketika selang beberapa waktu Abi Qilabah melihat pekuburan itu yang kedua kalinya dalam mimpinya, maka terlihat olehnya cahaya di muka mayit tersebut yang lebih terang dari cahaya matahari dan lebih banyak dari cahaya para tetangga-tetangganya, seraya mayit tersebut berkata: "Wahai Abi Qilabah, mudah-mudahan Allah SWT. membalas kebaikan bagimu karena aku telah selamat dari rasa malu diantara tetangga-tetanggaku".

Dalam hadits lain diceritakan, sesungguhnya Malaikat Izrail itu masuk pada seorang laki-laki di negeri Iskandaria, kemudian laki-laki itu bertanya: "Siapa kamu?" Malaikat Izrail menjawab: "Saya adalah Malaikat Izrail”. Maka bergetarlah tulang-tulang laki-laki tersebut. Maka Malaikat Maut bertanya kepada laki-laki itu : "Apa yang kau lihat pada dirimu ini?". Laki-laki tersebut menjawab: "karena merasa takutdari api neraka". Kemudian Malaikat Izrail berkata pada laki-laki itu : ' Aku tuliskan untukmu sebuah kalam yang bisa menyelamatkanmu dari api neraka". Laki-laki tersebut menjawab: "Ya, lalu Malaikat Izrail meminta selembar kertas dan ditulisnya sebuah lafadh :

Bismillahirrahmanirrahiim

Seraya berkata :
"kalimat ini bisa membebaskanku dari api neraka.

Ada seorang arif yang mengatakan : "Dalam kalimat terdapat nama dzat yang sangat terkasih, lalu bagaimana untuk mengerti nama tersebut? : "Kemudian orang yang membaca Basmalah tersebut berkata: "Semua orang berkata bahwa dunia ini beserta malaikat mautnya tidak bisa menyamai sedikitpun (pada bobot Basmalah). Dan aku berkata : Sesungguhnya dunia tanpa Malaikat Izrail, tidak bisa menyamai sedikitpun, karena sesungguhnya Malaikat Izrail itu menyampaikan kekasih kepada yang dikasihi.
Sejarah Gerakan terhadap Madinah

Sejarah Gerakan terhadap Madinah

Ancaman terhadap Madinah

Pasukan Usamah ibn Zaid telah berangkat ke Utara. Suku-suku besar bangsa Arab yang mendiami wilayah bagian tengah Arab ia telah melibatkan diri dalam gerakan Riddat itu sewaktu terberita Nabi Besar Muhammad jatuh sakit; dan sewaktu ter-berita kemangkatan Nabi Muhammad maka sikap mereka itu lebih agressip hingga pejabat-pejabat setempat, yang ditunjuk dan diangkat Nabi Besar Muhammad untuk wilayah setiap suku-besar itu terpaksa pulang ke Madinah, dan melaporkan perikea-daan pada setiap wilayah itu kepada Khalif Abubakar. Suku-suku besar itu mendiami wilayah yang bagaikan melingkari Madinah.
Penduduk yang masih tinggal di Madinah mulai menaruh kuatir, terutama perempuan-perempuan yang ditinggalkan suami dan anak-anak yang ditinggalkan bapanya.

Khalif Abubakar segera mengambil tindakan beijaga-jaga. Penduduk yang masih tinggal itu, terutama perempuan-perempuan dan anak-anak, diungsikan untuk berdiam sekitar Masjid Nabawi. Dikuatirkan untuk terjadi penyerbuan secara mendadak. Sedangkan Ali- ibn Abithalib dan Zubair ibn Awwam dan Abdullah ibn Mas’ud diangkat mengepalai regu-regu pengawalan pada setiap malam.

Gerakan Thulaihah Al Asadi

Di dalam lingkungan sukubesar Asad pada bagian tengah Arabia itu maju ke depan seorang tokoh, Thulaihah ibn Khu-wailid Al Asadi. Dia itu tahadinya seorang datu (dukun-sihir) sebelum memeluk Islam. Sewaktu terberita Nabi Besar Muhammad jatuh sakit .maka iapun maju ke depan di dalam lingkungan sukubesar itu dan mengaku dirinya seorang Nabi.

Ia menghapuskan kemestian sujud pada setiap Shalat. Kepala dan wajah itu diciptakan Tuhan bukan untuk dihinakan mencium bumi lima kali dalam sehari semalam. Selanjutnya menghapuskan kewajiban Zakat bagi setiap orang yang terpandang hartawan. > Ia cepat beroleh pengikut dalam lingkungan Awwam sukubesar Asad itu.

Seorang tokoh terkemuka dalam lingkungan sukubesar Ghatfan, Uyain-ah ibn Hashan, mengungkapkan pendiriannya : ’’Seorang Nabi dari sekutu kita itu lebih baik daripada seorang Nabi dari sukubesar Kurais.” Thulaihah dengan begitu lantas beroleh pengikut yang luas dalam lingkungan sukubesar Ghatfan. Lambat-laun meluas pengikutnya dalam lingkungan sukubesar Thai, sukubesar Fezara, dan lain-lain sukubesar dalam wilayah bagian Tengah itu.

Thulaihah ibn Khuwailid Al Asadi itu dengan diiringkan pengawalnya datang pada akhirnya ke Madinah Al Munawwarah untuk menjumpai Khalif Abubakar. Ia menuntut supaya diakui kenabiannya dan menuntut supaya diakui ajarannya. Itulah syarat yang diajukannya untuk hidup berdampingan secara damai.

Perundingan antara Khalif Abubakar dengan Umar ibn Khattab dan tokoh-tokoh Al Shahabi lainnya, yang masih tinggal di Madinah, berlangsung dengan sangat serius sekali. Ada pihak yang menganjurkan sikap lunak menjelang pasukan Usamah ibn Zaid pulang kembali dengan jalan menerima-persyaratan damai itu. Tetapi Khalif Abubakar mengambil pendirian tegas bahwa syariat Islam, yang diwariskan Nabi Besar Muhammad itu, tidak bisa ditawar-tawar. Allah menjanjikan bantuan-Nya kepada kaum Mukmin yang tabah dalam setiap perikeadaan yang terjepit. Abubakar percaya sepenuh-penuhnya kepada janji Allah itu. (Surah Al Anfal ayat 65 dan Surah Al Anfal ayat 9). Allah memestikan seorang Mukmin harus sanggup menghadapi sepuluh lawan.

Serangan terhadap pasukan Thulaihah

Thulaihah dengan pengiringnya itu pulang dengan gagal. Sebetulnya dia telah mempersiapkan, pasukannya pada perbatasan wilayah Madinah. Khalif Abubakar tidak menyia-nyiakan tempo. Pada malam itu juga, sepulang perutusan Thulaihah itu, iapun membentuk suatu pasukan yang langsung berada di bawah pimpinannya.

Tokoh-tokoh Al Shahabi mencegahnya untuk ikut dalam pasukan itu. Semuanya bermohon supaya ia tetap tinggal di Madinah. Jikalau seorang panglima gugur maka ia akan dapat menunjuk panglima lainnya. Tetapi jikalau ia gugur maka akibatnya akan bukan kecil. Tetapi Khalif Abubakar telah bertekad untuk langsung memimpin pasukan tersebut. Usianya yang telah lanjut tidak merupakan alasan baginya untuk membenarkan permohonan tersebut.

Pasukan itu pada malam itu berangkat untuk melakukan serangan mendadak mendahului lawan. Sayap kanan dipimpin oleh Nukman ibn Muqarran dan sayap kiri dipimpin oleh Abdullah ibn Muqarran dan sayap tengah dipimpin oleh Suwaid ibn Muqarran. Pasukan cadangan langsung dipimpin oleh Khalif Abubakar.

Menjelang.fajar mendadak, pada suatu dataran tinggi, berhadapan dengan perkemahan pasukan lawan, pecahlah pertempuran yang teramat sengit. Pasukan Thulaihah itu pada akhirnya kucar-kacir dan meluputkan diri dan dikejar terus menerus sampai kepada suatu tempat, bernama Zul-Qisha, sebuah waha subur yang sudah jauh masuk ke dalam daerah kediaman sukubesar Ghatfan, terletak belasan mil dari Madinah.

Itulah kemenangan pertama pada masa pemerintahan Khalif Abubakar. Suatu pasukan ditempatkan di situ di bawah pimpinan Nukman ibij Muqarran. Kemenangan itu pada hakikatnya kecil akan tetapi efeknya sangat besar terhadap suku-suku Arab yang tengah melibatkan dirinya dalam gerakan Riddat. Selanjutnya menciptakan suasana adem-pauze yang melegakan bagi penduduk Madinah.

Menghadapi gerakan Riddat

Empatpuluh hari kemudian datanglah kembali pasukan Usamah ibn Zaid dalam keadaan utuh sambil membawa harta rampasan perang Kelegaan makin memuncak di ibukota Madinah Al Munawwarah.

Sementara itu gerakan Riddat itu telah makin meluas di semenanjung Arabia. Wilayah bagian selatan A rabia, yang tahadi-nya kekuasaan Islam telah pulih kembali setelah kematian Aswad Al Insa, berbalik belot-Agama itu meluas kembali setelah terbe-rita kemangkatan Nabi Besar Muhammad. Kecuali dalam wilayah Yaman maka gerakan Riddat itupun meluas ke dalam wilayfh Hadramaut dan wilayah Mahra dan wilayah Oman. Kelompok-kelompok Mukmin yang masih teguh keimanannya terpaksa menyingkir dan bertahan, bagi keselamatan dirinya, pada daerah-daerah pegunungan menjelang datang balabantuan dari Madinah.

Pasukan besar yang baharu datang itu diberi kesempatan istirahat beberapa waktu lamanya. Kemudian Khalif Abubakar membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan Al Liwak (panji Pasukan) kepada satu persatunya. Panglima setiap pasukan beserta wilayah yang menjadi tujuan bagi satu persatunya, tercatat sebagai berikut :
  1. Khalid ibn Walid, ditugaskan menghadapi Thulaihah ibn Khuwailid dan jikalau selesai haruslah maju menghadapi Malik ibn Nuwairah dalam wilayah tengah bernama Al Batthah.
  2. Ikramah ibn Amru ibn Hisyam, yakni putera Abu Jahal itu, ditugaskan menghadapi Musailamah dalam wilayah bani Hanifah pada pesisir timur Arabia, bagian dari wilayah Yamamah.
  3. Muhajir ibn Abi-Umayyah ditugaskan menghadapi sisa-sisa pasukan Aswad Al Insa dan membantu kaum Peranakan (Al Abnak) menghadapi gerakan Kais ibn Maksyuh dan sehabis itu maju ke dalam wilayah Kindah dan Hadramaut.
  4. Khalid ibn Said ditugaskan menghadapi suku-suku besar bangsa Arab dalam wilayah tengah bagian utara, sampai perbatasan Syria dan Irak.
  5. Amru ibn Ash ditugaskan menghadapi sukubesar Qu-dha’ah dan sukubesar Wadi’ah dalam wilayah utara bagian barat-laut.
  6. Huzaifah ibn Muhsin Al Ghalfahi ditugaskan menghadapi penduduk wilayah Daba pada pesisir tenggara Arabia.
  7. Arfajah ibn Hartsamah ditugaskan menghadapi gerakan Riddat dalam wilayah Mahra dan wilayah Oman pada pesisir selatan Arabia.
  8. Sarhabil ibn Hasanah ditugaskan mengikuti jejak Panglima Ikramah ibn Hisyam, sebagai pasukan cadangan, dan bilamana selesai haruslah maju ke dalam wilayah-Yamamah.
  9. Maan ibn Hajiz ditugaskan menghadapi sukubesar Sa-lim dan sukubesar Hawazin di dalam wilayah sekitar Taif.
  10. Suwaid ibn Muqarran ditugaskan menghadapi kaum Riddat di dalam wilayah Tihamah sepanjang pesisir Laut Merah.(11).Ailak ibn Muqarran ditugaskan menghadapi kaum Riddat dalam wilayah Bahrain.
Itulah susunan pasukan yang harus berangkat dari ibukota Madinah. Sedangkan Umar ibn Khattab dan Ali ibn Abithalib dan Zubair ibn Awwam ditugaskan mengepalai regu-regu pertahanan Ibukota, dan Utsman ibn Affan mendampingi Khalif Abubakar sebagai penasihat.

Setiap pasukan itu dibekali alMansyurut (Pengumuman) yang harus disampaikan kepada suku-suku Arab yang melibatkan dirinya dalam gerakan Riddat. Isi al-Mansyurat itu panjang. Kandungan isinya memanggil kembali kepada Jalan yang Benar. Jikalau masih berkeras kepala maka baharulah dihadapi dengan kekerasan.

Selanjutnya Khalif Abubakar menyerahkan selembar Surat Janji (al-’Ahdu) kepada setiap Panglima Pasukan, berisikan

Amanat Perang, yang mengaturkan tatatertib dan disiplin ketentaraan. Setiap kitab-kitab tarikh tertua memungutnya dengan lengkap, termasuk Tarikh Al Thabari, akan tetapi kami di sini cuma sekedar menjelaskan kandungan isinya yang paling pokok seperti di atas itu.
Kisah Umar bin Khattab ra.

Kisah Umar bin Khattab ra.

Kisah Umar bin Khattab ra.

Kisah Umar bin Khattab ra. Sebelum Masuk Islam

Umar ra. adalah seorang sahabata yang namanya telah menjadi suatu kebanggaan bagi kaum muslimin hingga hari ini. Nama itu meningkatkan gairah keiamanan dan menggentarkan hati-hati orang kafir selama 1.400 tahun yang lalu hingga kini. Dahulu sebelum Islam, ia sering mengganggu, dan menyakiti orang-orang yang masuk Islam. Bahkan, ia pernah akan membunuh Rasululla saw..

Suatu ketika, orang-orang kafir telah bermusyawarah diantara mereka, apakah ada orang yang berani membunuh Muhammad (saw.). Umar segera menyahut, "Sayalah yang akan membunuhnya!" Mereka berkata, "Ya! kamulah, yang layak melakukannya!" Umar langsung menghunus pedangnya dan pergi untuk membunuh Rasulullah saw.. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan seorang sahabat dari kabilah Zuhrah yang bernama Sa'ad ra. bertanya, "Mau pergi kemana, wahai Umar?" Jawab Umar ra., "Saya akan membunuh Muhammad saw. (Na'udzubilahi). Sa'ad menjawab, "Jika demikian, Banu Hasyim, Banu Zuhrah, dan Banu Abdi Manaf tentu tidak akan berdiam diri, mereka pasti akan membalas membunuhmu!" Umar terkejut dengan ancaman itu. Umar berkata, "Nampaknya kamu pun telah meninggalkan agam nenek moyang kita. Jika demikian, kamulah yang akan kubunuh lebih dahulu!" Setelah berkata demikian, Umar segera menarik pedangnya. Sa'ad ra. menyahut, "Ya, saya memang telah Islam!" Umar langsung menghunuskan pedangnya. Namun sebelum bertarung, Sa'ad berkata, "Hai Umar, dengarlah dulu kabar mengenai rumahmu! Saudara perempuanmu dan iparmu, juga telah masuk Islam." Mendengar itu, Umar sangat marah dan langsung pergi ke rumah saudarinya.

Ketika itu, di rumah saudari perempuan Umar ada Kabbab ra.. Dengan menutup pintu dan jendela, suami istri itu sedang membaca Al-Qur'an. Tiba-tiba , Umar ra. datang dan berteriak agar dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab ra. segera bersembunyi, dan meninggalkan lembaran-lembaran ayat suci Al-Qur'an. Lalu saudari perempuannya membukakan pintu. Tangan Umar ra. langsung memukul kepala saudari perempuannya hingga berdarah. Umar ra. berkata, "Kamu telah mengkhianati dirimu sendiri, kamu telah ikuti agama yang jelek itu!" Kemudian, Umar masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada saudarinya, "Apa yang kamu lakukan? Dan suara siapakah yang telah ku dengar tadi?" Saudarinya menjawab, "Kami sedang membicarakan hal yang biasa." Umar bertanya, "Apakah kamu telah meninggalkan agama moyangmu dan masuk kedalam agama baru?" Jawab saudara iparnya, "Bagaimana jika agama baru itu ternyata lebih baik?" Mendengar itu, Umar langsung menarik janggutnya, dan mendorongnya hingga terjatuh, lalu Umar memukulinya sampai puas di atas tanah. Saudarinya berusaha memisahkan mereka. Tetapi, mukanya ditampar keras oleh Umar sampai bibirnya berdarah, padahal ia adalah saudarinya sendiri.

Saudarinya berkat, "Hai Umar! apakah kami dipukuli hanya karena kami telah masuk Islam? Memang benar, kami sudah masuk Islam, apa yang ingin engkau lakukan kepada kami, lakukanlah!" Setelah itu, pandangan mata Umar tertuju kepada lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Quran yang tergeletak, karena tertinggal begitu saja. Dan kemarahannya mulai sedikit mereda. Dan ia merasa malu atas perlakuannya terhadap saudarinya yang telah menyebabkan darah menetes dari wajah saudarinya sendiri. Umar berkata, "Bagus, sekarang katakan apa ini?" Saudarinya menjawab, "Kamu tidak suci, dan lembaran ini tidak boleh disentuh oleh tangan yang tidak suci." Umar mendesaknya, namun saudarinya enggan memberikannya jika tanpa mandi dan berwudhlu. Setelah umar mandi, ia mengambil lembaran-lembaran tersebut, lalu membacanya. Ternyata, di dalamnya berisi surat Thaha ayat 14, ia terus membacanya hingga ayat yang artinya :
"Akulah Allah, Tiada Tuhan selain-Ku. Maka sembahlah Aku, dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku." (Thaha:14)

Selesai membaca ayat-ayat tersebut, Umar langsung berubah. Ia berkara, "Sekarang temukan aku dengan Muahmmad saw." Mendengar hal itu, Kabbab ra. segera keluar dari tempat persembunyiannya, dan berkata, "Hai Umar, aku sampaikan kabar gembira untukmu; Kemari, pada malam Jum'at, aku mendengar Rasulullah saw. berdo'a, "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa saja dari kedunya yang lebih Engkau sukai. (Karena kekutan keduanya sangat terkenal). Dan sekarang telah diketahui bahwa doa Nabi saw. telah dikabulkan padamu." Setelah kejadian itu, beliau dipertemukan dengan Rasulullah saw., dan beliau masuk Islam pada Jum'at Shubuh. (Khasoish).

Islamnya Umar ra. adanya suatu pukulan berat bagi kafir Quraisy. Walaupun demikian, kaum muslimin masih sangat sedikit jumlahnya, apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang kafir di seluruh Arab. Namun, keislamannya telah menimbulkan semangat baru bagi kaum muslimin, sehingga kaum musrikin telah lebih berupaya untuk menghentikannya. Berbagai cara telah dicoba tetapi kaum muslimin semakin berani, bahkan mereka berani mendirikan shalat di Masjidil Haram. Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, "Islamnya Umar ra. adalah kemenangan kaum muslimin, dan hijrah Umar ra. adalah pertolongan bagi kaum muslimin, dan kekhalifahannya adalah rahmat bagi kaum muslimin.

Kisah Umar Bin Khattab Setelah Menjadi Khalifah

Rasa Takut Umar Bin Khattab ra.
Kadangkala Umar r.a memegang sebatang kayu dan berkata, ” Seandainya aku menjadi sebatang kayu ini.” Terkadang ia berkata, ” Seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Suatu ketika, saat ia sibuk dengan pekerjaannya, seseorang mendatanginya dan berkata, ” Si fulan telah menzhalimiku. Engkau hendaknya menuntut balas untukku.” Umar r.a. segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu sambil berkata, “Ketika kusediakan waktuku untukmu, kamu tidak datang. Sekarang, aku sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk menuntutkan balas.” Orang itu pun pergi. Lalu Umar r.a. menyuruh sesorang untuk memanggil kembali orang tersebut. setelah datang, Umar r.a. memberikan cambuk kepadanya dan berkata, ” Balaslah aku.” Jawab orang itu, ”

Aku telah memaafkanmu karena Allah.” Umar r.a. segera pulang ke rumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat. Lalu ia berbicara kepada dirinya sendiri, “Hai Umar, dahulu kamu rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki-laki yang mengadukan nasibnya dan berkata, ” Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku, tetapi kamu telah memukulnya. Kelak pada hari Kiamat, apa jawabanmu di hadapan Rabbmu?” Lama sekali Umar menghukumi dirinya sendiri. (Usudul-Ghabah).Pelayan Umar r.a., Aslam r.a.a, berkata, “Suatu ketika aku bersama Umar pergi ke Harrah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu terlihat nyala api di atas gunung. Umar berkata, “Itu mungkin kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu di luar kota. Marilah kita lihat keadaan mereka, bagaimana penjagaan malamnya!” Seibanya di sana, tampak seorang wanita dengan beberapa anak kecil menangis di sekelilingnya. Wanita itu sedang merebus air dalam kuali di atas tungku yang menyala. Umar r.a. memberi salam kepada wanita tersebut dan meminta izin untuk mendekat. Ia berkata, “Mengapa anak-anak ini menangis?” Jawab wanita itu, “Mereka kelaparan.” Umar r.a. bertanya, “Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu?” Jawabnya, “Panci ini berisi air, hanya untuk menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasak makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga Allah menghukum Amirul-Mukminin Umar yang tak mau tahu kesusuhanku ini.” Umar r.a. menangis dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana mungkin Umar mengetahui keadaanmu?” Jawabnya, “Dia pemimpin kami, tetapi tidak memperhatikan keadaan kami.”

Aslam r.a. melanjutkan ceritanya, “Lalu Umar mengajakku kembali ke Madinah. Ia pun mengeluarkan sekarung gandum, kurma, minyak lemak, dan beberapa helai pakaian, juga beberapa dirham dari Baitul-Mal. Setelah karung penuh, ia berkata kepadaku, “Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku.” Aku menjawab, “Biarkan aku yang membawanya, ya Amirul-Mukminin.” Sahut Umar r.a., “Tidak, letakkan saja di pundakku.” Dua tiga kali aku menawarkan diri dengan sedikit memaksa. Ia berkata, “Apakah kamu akan memikul dosa-dosaku pada hari Kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan meikulnya, dan aku yang bertanggung jawab terhadap hal ini.” Aku pun terpaksa meletakkan karung itu dibahunya. Lalu ia bawa karung itu ke rumah tadi dan aku ikut bersamanya. Setibanya di sana, ia langsung memasukkan tepung dan sedikit lemak, ditambah kurma lalu diaduk, dan ia sendiri yang menyalakan tungkunya.”

Aslam bercerita, “Kulihat asap mengenai janggutnya yang lebat, ia memasak sampai matang. Lalu, ia sendiri yang menghidangkan makanan itu dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Selesai makan, anak-anak itu bermain denagn riangnya. Wanita itu pun sangat senang, ia berkata “Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya engkau lebih berhak menjadi khalifah dari pada Umar.” Untuk menyenangkan hati ibu tadi, Umar r.a. berkata, “Jika engaku menjumpai khalifah, engkau akan menjumpaiku di sana.” Kemudian Umar r.a. meletakkan kedua tangannya di bawah dan duduk di atas tanah. Beberapa saat kemudian ia meninggalkan mereka. Umar r.a. berkata kepada Aslam r.a., “Aku tadi duduk di situ karena aku telah melihat mereka menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa.” (Asyharu Masyahir).

Dalam shalat -shalat Subuhnya, Umar r.a. selalu membaca surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Kadangkala ia membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat lainnya sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika, Umar r.a. membaca surat Yusuf dalam Shubuhnya. Ketika sampai di ayat:

yang artinya : “Ya’qub menjawab, “Sesungguhya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Yusuf : 86)

Ia menangis terisak-isak sampai tidak terdengar suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Qur’an sambil menangis di dalam shalat Tahajjudnya hingga terjatuh dan sakit.

Faedah

Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat ditakuti oleh raja-raja. Setelah 1300 tahun yang lalu, adakah hari ini seorang raja, pejabat, atau pemimpin biasa yang memiliki tanggung jawab dan kasih sayang terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti umar r.a.?
Adab Ziarah ke Makam Wali Allah

Adab Ziarah ke Makam Wali Allah

Adap-adap dalam Berziarah Ke Makam Waliyullah

Ketika mau masuk pintu gerbang makam wali, mulai dengan kaki kanan. Jangan mengeluarkan suara dan hidupkan hati dengan dzikir khofi. Berjalanlah dengan khusu' sampai ke depan pintu makam. Sebelum duduk, sampaikan salam dengan lafadz berikut :
Assalamu'alaikum Yaa Waliyyallohi Tahiyyatan Minnii Ilaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu.

Artinya : "Salam bagimu wahai kekasih Allah, hormat dariku (sendiri)/dari kami (berombongan) dengan rahmat Allah dan berkah-Nya.

Terus membaca surat Al-Faatihah dalam posisi masih berdiri. Selanjutnya duduk bersama-sama dan kontrollah dalam hati agar kondisi dalam keadaan sedang berdzikir khofi. Lalu bertawasullah dengan cara seperti di berikut ini :

Bismillahir rahmanir rohimi, Ila hadl rotin nabiyyil musthofa muhammadin shollallohu 'alaihi wa sallama wa 'ala alihi wa ash habihi wa azwajihi wa dzurriyyatihi wa ahli baitihi wa liman dakhola fi baitihi ajma'ina, syay'ul lillahi lahumul fatihata. Artinya : Ya Allah semoga disampaikan pahala yang ini ke hadapan Nabi Muhammad Saw, semoga Allah menambah rahmat kepada Nabi serta keselamatan kepada keluarga, sahabat, istri, anak cucu, ahli rumahnya dan siapa saja yang masuk ke dalam rumahnya, segala perkara kepunyaan Allah.

Tsumma ila arwahi abaihi wa ummahaatihi wa ikhwanihi minal anbiya'i wal mursalina, wal mala'ikatil muqorrobina, wal karubiyyina wasy syuhada'i wash sholihina wa ali kulliw wa ash habi kulliw wa ila ruhi abina adama wa ummina hawa wama tanasala bainahuma ila yaumid dini, syay'ul lillahi lahumul fatihata. Artinya : "Semoga disampaikan kepada ruh dari ayah-ayahnya, ibu-ibunya, saudara-saudaranya dari pada para nabi, kepada mursalin dan malaikat karobin dan mereka yang mati syahid dan kepada para solihin dan keluarganya dan sahabatnya dan kepada ruh bapak kita sekalian yakni Nabi Adam dan Ibu kita sekalian yakni Siti Hawa dan keturunan dari keduanya hingga hari kiamat, segala perkara kepunyaan Allah."

Tsumma ila arwahi sadatina wa mawalina, wa a'immatina abi bakrin wa 'umaro wa 'ustmana wa 'aliyiw wa ila baqiyatish shohabati wal qurobati wattabi'ina wa tabi'it tabi'ina lahum bi ihsani ila yaumid dini, syay'ul lillahi lahumul fatihata. Artinya : "Semoga disampaikan kepada ruh-ruh para pembesar Islam kita dan kepada yang mengurus kita dan kepada Imam kita sekalian yakni Abu Bakar, 'Umar, 'Ustman dan 'Ali dan kepada semua sahabat dan kerabat, kepada tabi'in dan yang mengikuti tabi'in, segala perkara kepunyaan Allah."
Malik Bin Dinar,  Anak Uang Emas

Malik Bin Dinar, Anak Uang Emas

Malik bin Dinar al-Sami adalah putera seorang budak berbangsa Persia dari Sijistan (Kabul) dan menjadi murid Hasan al-Bashri. Ia terhitung sebagai ahli Hadits Shahih dan merawikan Hadits dari tokoh-tokoh kepercayaan di masa lampau seperti Anas bin Malik dan Ibnu Sirin.
Malik bin Dinar adalah seorang kaligrafer (penulis) Al-Qur'an yang terkenal. Ia meninggal sekitar tahun 130 H/748 M.

AWAL JULUKANNYA

Ketika Malik dilahirkan, ayahnya adalah seorang budak tetapi Malik adalah seorang yang merdeka. Orang-orang mengisahkan bahwa pada suatu ketika Malik bin Dinar menumpang sebuah perahu. Setelah berada di tengah lautan, awak-awak perahu rneminta: “Bayarlah ongkos perjalananmu!”.

“Aku tak mempunyai uang”, jawab Malik.

Awak-awak perahu memukulinya hingga ia pingsan. Ketika Malik siuman, mereka menagih ongkos lagi:

“Bayarlah ongkos perjalananmu!”.

“Aku tak mempunyai uang”, jawab Malik sekali lagi, dan untuk kedua kalinya mereka memukulinya hingga pingsan.

Ketika Malik siuman kembali maka untuk ketiga kalinya mereka mendesak.

“Bayarlah ongkos perjalananmu!”

“Aku tak mempunyai uang”.

“Marilah kita pegang kedua kakinya dan kita lemparkan dia ke laut", pelaut-pelaut tersebut berseru.

Tangan dan kaki Malik sudah dipegani dan hampir dilemparkan k« laut namun, saat itu juga tiba-tiba semua ikan di laut mendongakkan kepali) mereka ke permukaan air dan masing-masing membawa dua keping dinar emas di mulutnya. Malik menjulurkan tangan, dari mulut seekor ikan diambilnya dua dinar dan uang itu diberikannya kepada awak-awak porahu Melihat kejadian ini pelaut-pelaut tersebut segera berlutut. Bukan hanya itu saja yang membuat para awak perahu keder, sepasang mata mereka terbelalak heran saat Malik dengan tenangnya keluar dari perahu dan berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja, Malik kemudian meninggalkan perahu tersebut. Karomah inilah penyebab mengapa ia dinamakan Malik bin Dinar (Malik anak si uang emas).

Tentang pertaubatan Malik bin Dinar, kisahnya adalah sebagai berikut. Ia adalah seorang lelaki yang sangat tampan, gemar bersenang-senang dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah.

Malik tinggal di Damaskus di mana golongan Mu’awiyah telah membangun sebuah masjid yang besar dan mewah. Malik ingin sekali diangkat sebagai pengurus masjid tersebut. Maka pergilah ia ke masjid itu. Di pojok ruangan masjid itu dibentangkannya sajadahnya dan di situlah ia selama setahun terus-menerus melakukan ibadah sambil berharap agar setiap orang akan melihatnya sedang melakukan shalat.

“Alangkah munafiknya engkau ini”, ia selalu berkata kepada dirinya sendiri.

Setahun telah berlalu. Apabila hari telah malam, Malik keluar dari masjid itu dan pergi bersenang-senang.

Pada suatu malam ketika ia sedang asyik menikmati musik di kala semua teman-temannya telah tertidur, tiba-tiba dari kecapi yang sedang dimainkannya terdengar sebuah suara: “Malik, mengapakah engkau belum juga bertaubat?”

Mendengar kata-kata yang sangat menggetarkan hati ini, Malik segera melemparkan kecapinya dan berlari ke masjid.

“Selama setahun penuh aku telah menyembah Allah secara munafik”, ia berkata kepada dirinya sendiri. ‘'Bukankah lebih baik jika aku menyembah Allah dengan sepenuh hati? Aku malu. Apakah yang harus kulakukan? Seandainya orang-orang hendak mengangkatku sebagai pengurus masjid, aku tidak akan mau menerimanya”.

Ia bertekad akan beribag khusyuk kepada Allah. Tidak lagi riya’ atau karena pamrih agar dilihat orang lain. Pada malam itulah untuk pertama kalinya ia,shalat dengan sepenuh keikhlasan.

Keesokan harinya,, seperti biasa, orang-orang berkumpul di depan masjid.

“Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak”, mereka berseru. “Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaiki masjid ini”.

Maka mereka bersepakat bahwa yang paling tepat menjadi pengawas masjid itu adalah Malik. Segera mereka mendatangi Malik yang ketika itu sedang shalat. Dengan sabar mereka menunggu Malik menyelesaikan shalatnya.

“Kami datang untuk memintamu agar sudi menerima pengangkatan kami ini”, mereka berkata.

“Ya Allah”, seru Malik, “setahun penuh aku menyembah-Mu secara munafik dan tak seorang pun yang memandang diriku. Kini setelah kuberikan jiwaku kepada-Mu dan bertekad bahwa aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku, Engkau menyuruh dua puluh orang menghadapku untuk mengalungkan tugas tersebut ke leherku. Demi kebesaran-Mu, aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku ini”.

Malik berlari meninggalkan masjid itu kemudian menyibukkan diri beribadah kepada Allah, dan menjalani hidup prihatin serta penuh disiplin beribadah baik yang wajib maupun yang sunnah. Ia menjadi seorang yang terhormat dan saleh. Ketika seorang hartawan kota Bashrah meninggal dunia dan ia meninggalkan seorang puteri yang cantik, si puteri mendatangi Tsabit al-Bunani untuk memohon pertolongan.

“Aku ingin menjadi isteri Malik”, katanya, “sehingga ia dapat menolongku di dalam mematuhi perintah-perintah Allah”.

Keinginan dara ini disampaikan Tsabit kepada Malik.

‘'Aku telah menjatuhkan thalak kepada dunia” Jawab Malik. "Wanita itu adalah milik dunia yang telah kuthalak, karena itu aku tidak dapat menikahinya”.

BERANDALAN ITU TERNYATA. ..

Ada seorang pemuda tetangga Malik, tingkah lakunya sangat berandal dan mengganggu ketentraman. Malik sering terganggu oleh tingkah laku si pemuda berandal ini, namun dengan sabar ia menunggu agar ada orang lain yang tampil untuk menegur si pemuda tersebut. Tetapi orang-orang datang menghadap Malik dengan keluhan-keluhan mereka terhadap si pemuda. Maka pergilah Malik mendatangi pemuda itu dan meminta agar ia merubah tingkah lakunya.

Dengan bandel dan seenaknya si pemuda menjawab: “Aku adalah kesayangan sultan dan tidak seorang pun dapat melarang atau mencegahku untuk berbuat sekehendak hatiku”.

“Aku akan mengadu kepada sultan”, Malik mengancam.

“Sultan tidak akan mencela diriku”, jawab si pemuda. “Apa pun yang kulakukan, sultan akan menyukainya.”

“Baiklah, jika sultan tidak dapat berbuat apa-apa”, Malik meneruskan ancamannya, “aku akan mengadu kepada Yang Maha Pengasih”, sambil menunjuk ke atas.

“Allah?”, jawab si pemuda. “Ia terlampau Pengasih untuk menghukum diriku ini”.

Jawaban ini membuat Malik bungkam, tak dapat mengatakan apa-apa. Si pemuda ditinggalkannya. Beberapa hari berlalu dan tingkah si pemuda benar-benar telah melampaui batas. Sekali lagi Malik pergi untuk menegur si pemuda, tetapi di tengah perjalanan Malik mendengar seruan yang ditujukan kepadanya.

“Jangan engkau sentuh sahabat-Ku itu!”

Masih dalam keadaan terkejut dan gemetar Malik menjumpai si pemuda.

Melihat kedatangan Malik, si pemuda menyentak: “Apa pulakah yang telah terjadi sehingga engkau datang ke sini untuk kedua kalinya?”

Malik menjawab: “Kali ini aku datang bukan untuk mencela tingkah lakumu. Aku datang semata-mata untuk menyampaikan kepadamu bahwa aku telah mendengar seruan yang mengatakan....”

Si pemuda berseru: “Wahai! Kalau begitu halnya, maka gedungku ini akan kujadikan sebagai tempat untuk beribadah kepada-Nya. Aku tidak perduli lagi dengan semua harta kekayaanku ini”.

Setelah berkata demikian ia pun pergi dan meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan memulai pengembaraan di atas dunia ini.

Malik mengisahkan bahwa beberapa lama kemudian di kota Mekkah ia bersua dengan pemuda tersebut dalam keadaan terlunta-lunta menjelang akhir hayatnya.

“Ia adalah Sahabatku” si pemuda berkata dengan terengah-engah. “Aku akan menemui Sahabatku”. Setelah berkata demikian ia lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

TEGUH DALAM BERPANTANGNYA

Telah bertahun-tahun bibir Malik tidak dilewati makanan yang manis maupun yang asam. Setiap malam ia pergi ke tukang roti dan membeli dua potong roti untuk membuka puasanya. Kadang-kadang roti yang dibelinya itu masih terasa hangat; dan ini menghibur hatinya dan dianggapnya sebagai perangsang selera.

Pada suatu hari Malik jatuh sakit dan ia sangat ingin memakan daging. Sepuluh hari lamanya keinginan itu dapat ditindasnya. Sewaktu ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi, maka pergilah ia ke toko makanan untuk membeli dua tiga potong kaki domba dan menyembunyikan kaki domba tersebut di lengan bajunya.

Si pemilik toko menyuruh seorang pelayannya membuntuti Malik untuk menyelidiki apa yang hendak dilakukannya. Tidak berapa lama kemudian si pelayan kembali dengan air mata berlinang. Si pelayan memberikan laporannya: “Dari sini ia pergi ke sebuah tempat yang sepi. Di tempat itu dikeluarkannya kaki-kaki domba itu, diciumnya dan ia berkata kepada dirinya sendiri. ‘Lebih daripada ini bukanlah hakmu’. Kemudian diberikannya roti, dan kaki-kaki domba tersebut kepada seorang pengemis. Kemudian ia berkata pula kepada dirinya sendiri: ‘Wahai jasmani yang lemah, jangan kau sangka bahwa aku menyakitimu karena benci kepadamu. Hal ini kulakukan agar pada hari Berbangkit nanti, engkau tidak dibakar di dalam api neraka. Bersabarlah beberapa hari lagi, karena pada saat itu godaan ini mungkin telah berhenti dan engkau akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi”.

Pada suatu ketika Malik berkata: “Aku tidak mengerti apakah maksudnya ucapan: ‘bila seseorang tidak memakan daging selama empat puluh hari maka kecerdasan akalnya akan berkurang! Aku sendiri tidak pernah makan daging selama dua puluh tahun, tetapi kian lama kecerdasan akalku makin bertambah juga'’.

Selama empat puluh tahun Malik tinggal di kota Bashrah dan selama itu pula ia tidak pernah memakan buah korma yang segar. Apabila musim korma tiba, ia berkata: “Wahai penduduk kota Bashrah, saksikanlah betapa perutku tidak menjadi kempis karena tidak memakan buah korma dan betapa perut kalian tidak gembung karena setiap hari memakan buah korma”.
Namun setelah empat puluh tahun lamanya, batinnya diserang kegelisahan. Betapa pun usahanya namun keinginannya untuk memakan buah korma segar tidak dapat ditindasnya lagi. Akhirnya setelah beberapa hari berlalu, keinginan tersebut kian menjadi-jadi walaupun tak pernah dikabulkannya, dan Malik akhirnya tak berdaya untuk menolak desakan nafsu itu.

“Aku tidak mau memakan buah korma”, ia menyangkal keinginannya sendiri. “Lebih baik aku dibunuh atau mati”.

Malam itu terdengarlah suara yang berkata: “Engkau harus memakan beberapa buah korma. Bebaskan jasmanimu dari kungkungan”.

Mendengar suara ini jasmaninya yang merasa memperoleh, kesempatan itu mulai menjerit jerit.

“Jika engkau menginginkan buah kurma”, Malik menyentak, “berpuasalah terus-menerus selama satu minggu dan shalatlah sepanjang malam, setelah itu barulah akan kuberikan buah kurma kepadamu”.

Ucapan ini membuat jasmaninya senang. Dan seminggu penuh ia shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari. Setelah itu ia pergi ke pasar, membeli beberapa buah korma, kemudian pergi ke masjid untuk memakan buah-buah korma tersebut di sana.

Tetapi dari loteng sebuah rumah, seorang bocah berseru: “Ayah!

seorang Yahudi membeli korma dan hendak memakannya di dalam masjid”.

“Apa pula yang hendak dilakukan Yahudi itu di dalam masjid?” si ayah menggerutu dan bergegas untuk melihat siapakah Yahudi yang dimaksudkan anaknya itu. Tetapi begitu melihat Malik, ia lantas berlutut di depan tokoh sufi besar yang bisa berjalan di atas air itu.

“Apakah artinya kata-kata yang diucapkan anak itu?”, Malik mendesak.

“Maafkanlah ia guru”, si ayah memohon, “la masih anak-anak dan tidak mengerti. Di sekitar ini banyak orang-orang Yahudi. Kami selalu berpuasa dan anak-anak kami menyaksikan betapa orang-orang Yahudi makan di siang hari. Oleh karena itu mereka berpendapat hahvva setiap orang yang makan di siang hari adalah seorang Yahudi. Apa-apa vang telah diucapkannya, adalah karena kebodohannya. Maafkanlah dia”.

Mendengar penjelasan tersehut Malik sangat menyesal. Ia menyadari bahwa anak itu telah didorong Allah untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Ya Allah”, seru Malik, “sebuah korma pun belum sempat kumakan dan Engkau menyebutku Yahudi melalui lidah seorang anak yang tak berdosa. Seandainya korma-korma ini sempat termakan olehku niscaya Engkau akan menyatakan diriku sebagai seorang kafir. Demi kebesaran-Mu aku bersumpah tidak akan memakan buah korma untuk selama-lamanya“
Copyright © Mendalami. Template by: Petunjuk Onlene