Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Jalan Orang-Orang Ma'rifat

Jalan Orang-Orang Ma'rifat

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang telah menerangi hati orang-­orang ma'rifat dengan berdzikir kepadaNya, menggerakkan lidah mereka dengan mensyukuri nikmatNya, dan memak­murkan organ-organ tubuh mereka dengan berkhidmah kepa­daNya. Mereka ini adalah taman surga manusia yang tempat gembalaan mereka Di kebun-kebun ahli ma'rifat itu, orang-orang menumpahkan cinta mereka. Allah selalu menyebut-nyebut me­reka dan mereka menyebut-nyebut Allah. Alalh mencintai me­reka dan mereka mencintai Allah. AJlah meridlai mPreka dan mereka ridla kepada Allah.

Modal ma'rifat mereka adalah kefakiran. Menejemen me­reka adalah getaran hati karena mengingat Allah. Ilmu mereka adalah obat penghapus dosa. Ma'rifat mereka adalah obat hati. Mereka adalah lampu-lampu yang memancarkan hujjah-hujjah Allah. Mereka adalah kunci. Kunci pembuka gudang-gudang hikmah Allah. Imam mereka adalah rembulan yang bersinar terang dan panglima mereka adalah cahaya, dan dia itu adalah junjungan seluruh umat manusia, yaitu Muhammad bin Abdul­lah bin Abdul Muththallib. Beliau adalah Rasul penutup, buah suci dari pohon yangdiberkati, yangpangkalnya adalah taubid dan cabang-cabangnya adalah taqwa.


"(Pohon itu) tumbuh tidak di sebelah timur juga tidak di sebelah barait yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atus cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehen­daki. dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. '' (QS Al Nuur: 35).



"Barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka baginya tidak ada cahaya sedikit pun.'' (QS. Al Nuur: 10).

Shalawat Nabi menerangi langit dan bumi. Jejak-jejak ca­hayanya meninggi dan bersemayam dalam hati orang-orang yang suci. Shalawatnya mengharumkan dunia. menjadi kabar gembira bagi para Nabi. Shalawatnya juga menaungi keluarga­nya yang sud dan para sahabatnya yang disucikan.

Murid-murid Sufi
Mengawali untuk menjadi murid sufi, ia berkeliling di atas tiga prinsip utama, yaitu khauf, raja' dan hub (takut, harap, dan cinta). Khauf (takut) adalah cabang ilmu, rajak (berharap) adalah cabang keyakinan, sedang hub (cinta) adalah cabang ma'rifat. Bukti khauf adalah lari (dari dosa]. Bukti raja' adalah mencari (Allah). Dan bukti hub adalah memutlakkan atau meng­utamakan Dzat yang dicintai. Perumpamaan tiga hal itu adalah Masjidil Haram, masjid, dan Ka'bah. Barangsiapa masuk Mas­jidil Haram, ia pasti aman dari gangguan makhluk. Barangsiapa masuk masjid (masjid umum), tubuhnya harus dijaga dari melakukan maksiat. Barangsiapa masuk Ka'bah, maka hatinya aman dari mengingat selain Allah. Jika seorang hamba mene­tapi kebaikan ini, ia ditetapkan mampu memandang di kegelap­an malam dan di terangnya siang. Ia tahu jika salah satunya muncul, maka yang satu hilang. Jika gelapnya malam muncul, maka terangnya siang hilang. Jika cahaya siang naik, maka kege­lapan malam turun menghilang.

Demikian juga dengan cahaya ma'rifat. Jika cahaya ma'rifat bersinar, maka kegelapan maksiat menghilang dari peredaran tubuh. Jika suatu keadaan yang diridhainya mengondisikannya untuk menyongsong maut. ia bersyukur kepada Allah atas taufiq dan pemeliharaan Nya. Jika suatu keadaan yang dibencinya me­nguasainya dan maut bersamanya, ia beralih dari keadaan itu dengan keteguhan tekad dan kesempurnaan perjuangan. Ia tahu bahwa tidak ada tempat berlindung dari murka Allah kecuali kembali kepada Allah. Ia juga sadar bahwa tidak ada yang bisa mengantarkannya untuk sampai kepada Allah kecuali bersamaNya. Ia menyesal atas kesalahan-kesalahan yang per­nah diperbuatnya. Ia prihatin atas usianya yang pernah dipakai untuk berbuat dosa. Ia kembali dan memohon pertolongan ke­pada Allah agar menyucikan badan wadagnya dari dosa-dosa dan menjernihkan batinnya dari aib. Ia memutus senar nyanyi­an Iupa dari hatinya, memadamkan api yang membakar syah­watnya, berjalan lurus di atas titian kebenaran, dan mengenda­rai kendaraan kejujuran. Sesungguhnya siang adalah bukti ke­hidupan akhirat dan malam adalah bukti kehidupan dunia. Ti­dur adalah saksi kematian. Seorang hamba pasti mendatangi apa yang telah lewat dan menyesali apa yang telah berlalu.

"Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya." (QS. Al Qiyamah: 13). 
Perjalanan Rasulullah saw. Ke Thaif

Perjalanan Rasulullah saw. Ke Thaif

Selama sembilan tahun sejak kerasulannya, Nabi Muhammad saw. telah berusaha menyampaikan ajaran Islam dan membawa hidayah untuk memperbaiki kaumnya di Makkah, namun sangat sedikit yang menerima ajakan beliau, kecuali mereka yang sejak awal telah masuk Islam. Selain mereka, ada yang belum masuk Islam, tetapi siap membantu Rasulullah saw.. Dan sebagian besar kafirin Makkah selalu menyakiti beliau dan para sahabatnya. Abu Thalib termasuk orang yang belum memeluk Islam, namun hatinya sangat mencintai Rasulullah saw., ia akan melakukan apapun yang dapat menolong Nabi saw..
Pada tahun kesepuluh kenabian, ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum kuffar bertambah kesempatan untuk mencegah perkembangan Islam, dan menyakiti kaum muslimin.

Atas hal ini, Rasulullah saw. pergi ke Thaif. Di sana ada suatu kabilah bernama Tsaqif, yang sangat banyak anggotanya. Beliau saw. berpendapat, jika mereka memeluk Islam, maka kaum muslimin akan terbebas dari siksaan kaum kafirin, dan akan menjadikan kota itu sebagai pusat penyebaran Islam. Setibanya di Thaif, Nabi saw. langsung menemui tiga orang pemuka masyarakat dan berbicara dengan mereka, mengajaknya kepada Islam, juga mengajak mereka untuk ikut membantu penyebaran agama ini. Namun, mereka bukan saja menolak, adat bangsa Arab yang terkenal dengan penghormatan terhadap tamu pun tidak mereka lakukan.

Mereka menerima beliau dengan perilaku yang sangat buruk. Mereka menunjukkan rasa tidak suka dengan kedatangan Nabi saw.

Pada mulanya beliau berharap kedatangannya kepada tokoh masyarakat itu, akan disambut baik dan sopan. Tetapi sebaliknya, seseorang dari mereka ada yang berkata, "Oh, kamukah yang dipilih oleh Allah sebagai Nabi-Nya?" Yang lainnya berkata, "Apakah tidak ada orang selainmu yang lebih pantas dipilih oleh Allah sebagai Nabi?" Yang ketiganya berkata, "Saya tidak mau berbicara denganmu, karena jika kamu memang benar seorang Nabi seperti yang kamu akui, dan kemudian aku menolakmu, tentu akan mendatangkan bencana. Dan jika kamu berbohong, maka tiada gunanya berbicara denganmu. "

Setelah menemui mereka yang sulit diharapkan itu, Nabi saw. pun berharap agar dapat berbicara dengan selain mereka. Inilah sifat Nabi saw. yang selalu bersungguh-sungguh, teguh pendirian, dan tidak mudah putus asa. Ternyata, tidak satu pun diantara mereka yang mau menerimanya. Bahkan mereka membentak Rasulullah saw., "Keluarlah kamu dari kampung ini! Pergilah kemana saja yang kamu suka!"

Ketika Nabi saw. sudah tidak dapat mengharapkan mereka, dan bersiap-siap akan meninggalkan mereka, mereka telah menyuruh para pemuda kota agar mengikuti Nabi saw., lalu mengganggu, mencaci, serta melempari beliau dengan batu, sehingga sandal beliau penuh dengan darah. Dalam keadaan seperti inilah Rasulullah saw. meninggalkan Thaif. Ketika pulang, Rasulullah saw. menjumpai suatu tempat yang dianggap aman dari kejahatan mereka. Beliau saw. berdoa kepada Allah swt.

"Ya Allah, aku  mengadukan kepada-Mu kelemahan kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai yang Maha Rahim dari sekalian rahimin, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang merasa lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang akan menguasaiku, atau kepada keluargaku yang Engkau berikan segala urusanku, tiada suatu keberatan asalkan tetap dalam ridha-Mu. Afiat-Mu lebih berharga bagiku. Aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu, yang menyinari segala kegelapan, dan yang membaguskan urusan dunia dan akherat, Dari turunnya murka-Mu atasku atau turunnya adzab-Mu atasku. Kepada Engkaulah kuadukan keadaanku, hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu."

Demikian sedih doa Nabi saw., sehingga Jibril as. datang, memberi salam kepada beliau dan berkata, "Allah swt. telah mendengar perbincanganmu dengan kaummu, dan Allah pun mendengar jawaban mereka, dan Dia telah mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya." Malaikat itu pun datang, dan memberi salam kepada Nabi saw., seraya berkata, "Apapun yang engkau perintahkan, akan kulaksanakan. Bila engkau suka, akan kubenturkan kedua gunung di samping kota ini, sehingga siapapun yang tinggal diantara keduanya akan mati terhimpit. Jika tidak, apapun hukuman yang engkau inginkan, aku siap melaksanakannya." Rasulullah saw. yang bersifat kasih dan mulia ini menjawab, "Saya hanya berharap kepada Allah swt., andaikan pada saat ini, mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan keturunan mereka kelak akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah."

Hikmah :
Demikianlah akhlak seorang Nabi yang mulia. Kita mengaku bahwa diri kita adalah pengikutnya, namun ketika kita ditimpa sedikit kesulitan, kita akan mencela, bahkan menuntut balas. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, sambil terus mengaku bahwa kita adalah umat Nabi saw.. Padahal dengan pengakuan itu, seharusnya segala tingkah laku kita mengikuti beliau. Nabi saw. pun, jika mendapat kesulitan dari orang lain, beliau tidak pernah mendoakan keburukan, juga tidak pernah ingin menuntut balas.
Tausiah: Keimanan Yang Kuat Kepada-Nya

Tausiah: Keimanan Yang Kuat Kepada-Nya

Apabila dunia dan orang-orangnya memalingkan muka mereka yang hina, lapar, dahaga, yang telanjang, hatinya terpanggang, merambah ke setiap sudut dunia, di tempat-tempat sunyi, di masjid yang jemu dan kecewa, dan sebagainya, janganlah engkau berkata bahwa Allah telah membuatmu miskin, menjauhkan dunia darimu, menjatuhkanmu, menjadi musuhmu dan membuatmu kacau. Jangan engkau menganggap bahwa Allah telah menghinamu, tidak memberi kecukupan duniamu. Jangan pula menganggap Dia menyuramkan kehidupanmu. Jangan iri kepada mereka yang siang malam mendapat nikmat dan anugerah-Nya. Jangan beranggapan sebagai sama-sama muslim, tetapi Allah tidak adil.

Wahai orang yang malang! Sesungguhnya Allah memperlakukanmu seperti ini karena fitrahmu suci dan kesejukan kasih sayang-Nya yang terus-menerus melimpah kepadamu dalam bentuk kesabaran, sikap berserah diri, ikhlas, dan berpengetahuan. Kemudian dalam keadaan yang papa di dunia, ternyata engkau mendapatkan cahaya iman dan tauhid.

Dengan demikian, sesungguhnya pohon keimananmu mempunyai akar yang kuat, memiliki benih yang kuat, penuh dedaunan, buah, cabang, dan rantingnya lebat, sehingga menimbulkan keteduhan. Setiap saat bertambah besar, tak perlu lagi dibantu atau dipupuk.

Cahaya iman dan tauhid, pepohonan iman dan tauhid itu, ditentukan oleh Allah bagimu dan kelak kau dapatkan tepat pada waktunya, entah engkau menyukai atau tidak. Oleh sebab itu, janganlah serakah terhadap sesuatu yang menjadi milikmu dan jangan pula mencemaskannya. Janganlah menyesal atas bagian yang diberikan kepada orang lain. Ada dua alternatif yang bukan menjadi milikmu, yaitu ia akan menjadi milikmu atau dapat juga menjadi hak orang lain. Apabila ia memang milikmu, ia akan datang kepadamu dan kau akan dibawa kepadanya sehingga pertemuan antara engkau dan milikmu akan segera terwujud. Adapun yang bukan milikmu engkau akan dijauhkan darinya dan ia pun menjauhimu. Dengan demikian, engkau dan ia (yang bukan milikmu) tak akan dapat bersama. Allah SWT. berfirman:



Artinya:
"Janganlah engkau layangkan kedua matamu kepada (perhiasan) yang Kami berikan kepada bermacam-macam orang di antara mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia, untuk itu Kami cobai mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu dalam Surga lebih baik dan lebih kekal."
(Q.S. Thaha [20]: 131)

Dari ayat tersebut, jelaslah bagimu bahwa Allah SWT., melarangmu untuk memerhatikan yang bukan hakmu. Dia telah memberi peringatan bahwa yang selain ini adalah cobaan. Dengan cobaan itu, Dia memberi ujian kepadamu, sedangkan keikhlasanmu menerima bagianmu itu lebih baik bagimu, lebih suci, dan lebih disukai.

Oleh sebab itu, hal-hal yang demikian itu hendaknya engkau jadikan sebagai pedoman menempuh jalan Allah SWT. untuk mendapatkan kebaikan, rahmat, kegembiraan, dan keindahan. Allah SWT. telah berfirman:


Artinya:
"Seseorang tidak mengetahui, apa yang disembunyikan untuknya di antara bermacam-macam kesenangan, sebagai balasan yang telah mereka amalkan." (Q.S. As-Sajdah [32]: 17)

Oleh sebab itulah, satu-satunya kebaikan ialah kelima jalan pengabdian, penghindaran dari dosa, dan tak ada yang lebih besar dan lebih disukai Allah, selain yang telah kusebutkan kepadamu. Semoga Allah SWT. memberi karunia kepadamu dan kepadaku berupa kemampuan untuk melakukan yang disukai-Nya.
Keselamatan, Uzlah dan Beribadah

Keselamatan, Uzlah dan Beribadah

Keselamatan

Carilah keselamatan! Semoga orang yang mencarinya menemukannya. Tentu lebih mengherankan jika ada orang lebih memilih mencari musibah. Di zaman sekarang ini, keselamatan benar-benar merupakan kemuliaan. Keselamatan terdapat dalam khumul (menyembunyikan diri dan tidak memilih menjadi orang yang dikenal, padahal ia orang yang sangat alim dan cakap. Orang yang khumul tetap hidup di masyarakat ramai, tetapi ia menyamarkan penampilannya supaya tidak dikenal orang). Jika keselamatan tidak dalam khumul, maka uzlah (mengasingkan diri di tempat yang sepi) adalah pilihannya dan uzlah memang tidak seperti khumul. Jika tidak bisa 'uzlah, maka diam bisa jadi gantinya. Diam memang tidak sama dengan 'uzlah. Jika diam tidak membahayakannya, maka bicaralah yang bermanfaat dan tidak membahayakan, dan memang berbicara yang bermanfaat tidak seperti diam.

Jika benar-benar menginginkan keselamatan, maka jangan mempertentangkan sesuatu yang berlawanan atau menciptakan persaingan di antara berbagai pola yang berbeda-beda. Jika ada orang yang mengatakan "sayalah", maka jawablah. "ya kamu." jika ia mengatakan, "milik saya', maka jawablah, "Ya milikmu. "Keselamatan ada dalam hilangnya popularitas. Hilangnya popularitas terdapat dalam hilangnya kehendak, dan hilangnya kehendak ada dalam meninggalkan sikap yang mengaku-aku berilmu atau berkuasa. Ia hanya mengutamakan Allah.

'Uzlah
Orang 'uzlah membutuhkan sepuluh hal, yaitu mengetahui yang hak dan yang batil, zuhud dan memilih kesulitan, melakukan khalwah dan mencari selamat, memperhatikan akibat, memandang orang lain lebih utama daripada dirinya, menyingkirkan keburukan dirinya dari manusia, tidak malas bekerja, tidak heran atas apa yang dimilikinya, rumahnya sepi dari sesuatu yang berlebih-lebihan (bagi murid dibolehkan memilih jatah lebih untuk satu hari, sedangkan bagi orang yang ma'rifat hanya dibolehkan memiliki jatah yang pas), dan memutuskan apa saja yang dapat memutuskan hubungan dengan Allah.

Rasulullah saw. berkata kepada  Hudzaifah bin Al Yaman, " Jadikanlah rumahmu tertutup."  'Isa bin Maryam as. berkata, "Kuasailah lidahmu, luaskan rumahmu, dan tempatkan dirimu di tempat singa yang buas dan api yang membakar. Manusia adalah daun bila tanpa duri, maka ia menjadi duri tanpa daun. Manusia adalah obat bagi orang yang mencari kesembuhan, lalu mereka jadi penyakit yang tidak ada obatnya.

Dawud Al Tha'i pernah ditanya, "Mengapa kamu tidak bergaul dengan manusia?" Ia menjawab,  "Bagaimana saya bergaul dengan orang yang akan mengikuti aib-aib saya yang besar. Tidak ada makhluk yang mengetahuinya, baik yang kecil maupun yang hina. Barangsiapa bermanis-manis dengan Allah, maka ia kasar kepada selainNya. "Al Fudhlail berkata, "Jikakamu mampu menempati suatu tempat yang tidak kamu kenal atau tidak mengenalmu, maka lakukan." Sulaiman berkata, "Keinginanku pada dunia adalah memakai mantel kumal, tinggal di suatu perkampungan yang tidak seorangpun mengenal saya, dan tidak mempunyai persediaan makan pagi dan makan sore."
Rasulullah saw., 
"Akan datang suatu zaman yang ketika itu orang berpegangan agamanya seperti orang yang menggenggam sebutir batu yang membara, dan baginya suatu pahala (sebanding dengan) 50 pahala kalian."

'Uzlah bisa menjaga tubuh, mengosongkan hati, tidak tergoda dengan hak makhluk, menutup pintu dunia, menghancurkan senjata setan, dan memakmurkan yang zahir dan yang batin.

Ibadah
Penuhilah kewajiban! Jika kamu berhasil memenuhi kewajibanmu, maka engkau adalah engkau. Tambahilah ibadah sunnah untuk menjaga ibadah wajib. Setiap kali ibadah bertambah, tambah pula rasa syukur dan khauf. Yahya bin Mu'adz berkata "Saya heran terhadap orang yang mencari keutamaan, tapi meninggalkan kewajiban. Jika seorang punya hutang, maka apa yang menjadi miliknya menjadi hak pemilik tagihan."
Abu Bakar Al Warraq berkata, "Pada masa ini dermakanlah empal hal untuk empat hal : keutamaan didermakan pada kewajiban, yang zahir didermakan pada yang batin, akhlak didermakan kepada nafsu, dan bicara didermakan pada perbuatan."
Hukum, Kepemimpinan, Niat dan Dzikir

Hukum, Kepemimpinan, Niat dan Dzikir

Hukum

Kata Al Qalb yang bermakna hati ini, huruf akhirnya bisa dibaca empat macam, yaitu di-rafa'. di-fathah, di-kasrah. dan di-sukun. Al Qalb yang di-rafa' mengandung makna dzikir pada Allah, Al Qalb yang di-fathah mengandung makna tidla, Al Qalb yang di-kasrah mengandung makna sibuk pada selain Allah, dan Al Qalb yang di-sukun mengandung makna lupa kepada allah. Alamat rafa' ada tiga: adanya kesesuaian, hilangnya perbedaan, dan langgungnya kerinduan. Alamat fathah juga ada tiga, yaitu: tawakkal, benar, dan yakin. Alam at kasrah ada tiga pula, yaitu: ujub atau bangga diri, riya', dan tamak. Ketiganya merupakan penggabungan sikap yang berorientasi kepada keduniaan. Alamat sukun pun ada tiga yaitu: kehilangan manisnya taat, tidak merasakan pahitnya maksiat. dan penyamaran halal.

Kepemimpinan


Rasulullah saw. Bersabda

"Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim."

Ilmu itu adalah ilmu jiwa. Karena itu, wajib atas setiap murid untuk bersyukur atau udzur. Karena itu pula utamakan ilmu. Jika ditolak, maka berbuat adillah. Taatnya gerakan dengan taufiq, diamnya dengan pemeliharaan, dan demikian itu tidak bisa berjalan lurus kecuali dengan melanggengkan kebutuhan.
Kuncinya adalah mengingat mati. Karena dengan meng­ingatnya, jiwa bisa terbebas dari rasa terpenjara dan selamat dari permusuhan. Tiang penyangganya adalah mengembalikan umur kepada hati yang satu. Demikian itu tidak akan bisa disatukan kecuali dengan berpikir dalam keseluruhan waktu.
Pintu berpikir adalah pengosongan diri. Penyebah pengosong­an adalah zuhud. Tiang zuhud adalah taqwa. Punuk taqwa ada­lah khauf TaIi pengekang khauf adalah yakin. Sistem keyakin­an adalah menyepi dan lapar Kesempurnaan menyepi adalah sungguh-sungguh dan sabar Jalan sungguh-sungguh dan kesa­baran adalah kebenaran, dan bukti kebenaran adalah ilmu.

Niat

Dalam setiap gerak dan diamnya, seorang hamba wajib niat. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya semua amal [bergantung] pada niat-[nya] dan bagi setiap orang mendapatkan apa yang diniati, dan niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya."
Niat itu berbeda mengikuti perbedaan waktu. Orang yang melakukan sesuatu.dengan niat pasti merasakan kelelahan. Se­dangkan yang tidak berniat, ia merasakan kelonggaran. Me­mang tidak ada yang lebih sulit dari pada menjaga niat.

Dzikir

Jadikanlah hatimu sebagai kiblat lidahmu. Ketika berdzi­kir, hayatilah rasa malu dalam beribadah dan rasa takut kepada Allah. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui rahasia hatimu, me­lihat zahir perbuatanmu, dan mendengar suara lirih ucapanmu. Karena itu, sucikanlah hatimu dengan kesedihan, dan nyalakan ruangan di dalamnya dengan api ketakutan. Jika hijab atau tabir lupa hilang dari hatimu, maka dzikirmu bersamaNya dan dzikirNya untukmu. Allah swt. berfirman [yang artinya]: "Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar.” (QS. Al  'Ankabut: 45). Ia mengingatmu, tetapi tidak butuh kamu, sedangkan engkau mengingatNya dan memang butuh kepada­Nya. Dia berfirmah [yang artinya]: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram." (QS. Al Ra'd: 28). Tenang­nya hati dalam dzikir kepada Allah dan ketakutannya juga ber­sama dzikir pada Allah.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. '' (QS. Al Anfal: 2).
Dzikir ada dua. Pertama, dzikir murni atau dzikir ikhlas yang sesuai dengan gerakan hati. Dzikir ini merontokkan seluruh pandangan kepada selain Allah. Kedua, dzikir shafi atau jernih yang dilakukan dengan melenyapkan angan-angan bahwa diri­nya berdzikir. Rasulullah saw. bersabda:

"Saya tidak mampu menghitung puji-pujian untukmu. Eng­kau sebagaimana yang Engkau puji atas diriMu sendiri."
Tausiah: Batas Taubat

Tausiah: Batas Taubat

Wahai saudaraku, Rasulullah saw. telah bersabda:
Barangsiapa dibukakan pintu kebaikan baginya, maka hendaklah dia menggunakan kesempatan itu, sebab hal itu tidak di ketahui kapan pintu kebaikan itu di tutup baginya.
Wahai saudaraku, selagi pintu kesempatan dan pintu hidup masih dibuka, maka hendaknya engkau dapat memeliharanya dengan baik. Siapa tahu dalam waktu dekat, pintu ditutup kembali dan rohmu dicabut dari kerongkongan.

Jagalah akhlakmu yang baik selagi dirimu masih bisa melakukannya. Masukilah pintu taubat selagi masih terbuka bagimu. Jauhkanlah dirimu dari pintu-pintu yang dapat menyebabkan dosa dan kemaksiatan. Sebab pintu-pintu maksiat itu senantiasa terbuka lebar bagimu.
Wahai saudaraku, bangkitlah dari sesuatu yang meresahkan dirimu. Sucikanlah dirimu dari segala kotoran. Perbaikilah diri dari sesuatu yang merusak. Jernihkanlah dirimu dari kekeruhan. Kendalikan dirimu dari kesenangan duniawi. Kembalilah kepada Tuhanmu, yang telah kau jadikan tempat kembali.
Wahai saudaraku, kembalilah kepada Allah dengan sepenuh hati. Jadikanlah doamu sebagai pemikat. Jangan berdoa kepada-Nya selagi hatimu tiada berkonsentrasi kepada-Nya. Ketahuilah, bahwa pada saatnya nanti, jika Kiamat telah tiba, semua manusia mengakui perbuatan yang pernah dilakukan didunia; jelek atau buruk. Engkau akan menyeasal dan tiada berguna. Saat itulah terjadi perhitungan amal perbuatan. Tiada yang terselipi sedikit pun. Dan engkau pun tak mampu berkelit untuk berbohong.

Rasulullah saw. bersabda :
Dunia ini adalah perladangan akhirat, maka barangsiapa menanam kebaikan, maka dia akan merasakan hasilnya dengan perasaan puas, barangsiapa yang menanam keburukan maka dia akan menghasilkan penyesalan.

Wahai saudaraku, sekarang engkau masih belum dapat membuktikan tentang kematian. Jika saatnya nanti nyawa telah direnggut malaikat Izrail, barulah engkau menyadari betapa penyesalan tiada guna.

Wahai Allah, bangkitkanlah kami dari kelalaian, jagalah kami dari hati tumpul yang menyebabkan diriku jadi lalai kepadaMu. Amiin. Ya Robbal 'Alamiin.

Wahai saudaraku, engkau berkutat dengan sesuatu yang buruk bisa mendatangkan keburukan pada dirimu sendiri. Hal itu dapat pula melenyapkan kebaikanmu. Karenanya, berjalanlan dibawah naungan Al-Qur'an dan Sunah Rasul. Engkau pasti menjadi manusia selamat dan beruntung.
Wahai saudaraku, janganlah engkau melupakan waktumu. Jangan membiarkan sisa umurmu berlalu dengan sia-sia. Jangan engkau tenggelamkan dirimu dalam kesibukan mencari makan, berangan-angan tinggi yang tidak pasti kau temukan jawabannya. Hal yang demikian itu hanyalah menjadi penghalang bagi dirimu untuk sampai kepada Allah. Juga menghinakan kedudukanmu di hadapan-Nya. Hendaklah engkau malu kepadaNya, dengan sebenar-benarnya malu.

Wahai saudaraku, sesungguhnya duduk dengan tenang sambil berdzikir (mengingat Allah) di dalam hati merupakan akhlak orang makrifat (arif), merupakan perbuatan orang sidiq, yang kelak tempatnya di dalam surga. Oleh karenanya, jadilah sebagai hamba yang ridha atas takdirNya dengan cara mendekatkan diri kepadaNya secara total.

Wahai saudaraku, bermunajatlah kepadaNya. Karena dengan munajat, dapatlah menyingkap tabir penghalang antara dirimu dengan Tuhanmu. Bertaqarublah kepadaNya dalam hati yang hakiki.

Firman Allah dalam Surat Assyura 11
Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai denganNya, dan Dialah (Allah) Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Wahai saudaraku, surga telah dijanjikan oleh Allah swt kepada setiap hamba beriman, yang mereka bisa melihat Dzat-Nya tanpa hijab, tanpa keraguan sedikit pun. Jika dirimu beramal semata-mata karena Allah, maka engkau akan dekat kepada-Nya dan Dia selalu melihatmu sebagai balasan bagimu.

Wahai saudaraku, janganlah engkau mencari nikmat, tetapi carilah siapa yang memberi nikmat kepadamu. Karena sesungguhnya nikmat tidak akan engkau temukan selama-lamanya. Namun jika engkau telah menemukan Pemberi Nikmat, maka engkau akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki (selama-lamanya), dunia dan akhirat.

Wahai saudaraku, hendaknya engkau selalu mengingat akan kematian. Bersabarlah dan bertawakallah jika engkau mendapat cobaan. Serahkan dirimu kepadaNya dalam setiap keadaan. Jika tiga tingkatan ini engkau miliki dengan sempurna, maka Allah akan "mendatangimu" ketika ajalmu datang.

Engkau harus sabar jika sesuatu terlepas dari dirimu. Engkau senantiasa bergantung kepadaNya. Selamatlah jiwamu dari dunia dan akhirat. Jangalah bergantung kepada dunia. Bergantunglah hanya kepada Allah. maka Allah akan memberi rahmatNya kepadamu dari segala penjuru. Jika engkau mampu memelihara jiwamu, tentu engkau akan selamat dari bujukan syetan dan bujukan nafsumu sendiri. Insya Allah engkau termasuk golongan manusia sebagaimana firman Allah ini :

Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka. (QS. Al Hijr 42)

Hati mereka selalu berhubungan dengan Allah dan selalu bergantung kepadaNya sehingga mereka terbebas dari tipu daya syetan. Mereka mendapatkan pertolongan dari Allah. Jika pertolongan itu telah sempurna engkau miliki, maka dunia dan akhirat akan menjadi pelayanmu tanpa paksa.

Wahai suadaraku, laluilah pintu Tuhanmu dan tetaplah engkau di sana, niscaya engkau akan mendapatkan petunjuk tentang jalan yang benar dan jalan yang bathil.

Janganlah engkau mencari sesuatu untuk menambah atau mengurangi. Sebab setiap kepastian itu telah dimiliki oleh setiap individu. Tak seorang pun di antaramu mempunyai apa yang akan terjadi, dan apa kehendak Allah.

Tuhanmu telah selesai dari menciptakan dan menetapkan rizki, menetapkan mati, menggerakan qadam dengan demikian Allah tetap mengetahui dengan keberadaan ni.

Sesungguhnya Allah telah menentukan segala sesuatu yang ditutup dengan perintah dan larangan agar hukum-hukum Allah itu berlaku bagi segenap manusia.

Firman Allah SWT.

Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya dan merekalah yang akan di tanya (QS. Al Ambiya' 23)

Jika engkau telah berbuat khilaf atau sengaja berbuat salah, maka segeralah kembali kepadaNya dengan cara bertaubat. Mengapa? agar kekeliruan dan kebodohanmu itu tidak meninggalkan bekas dosa. Tentu saja untuk bertaubat haruslah engkau penuhi beberapa syarat, di antaranya ialah menghentikan perbuatan yang salah itu dan engkau harus benar-benar menyesalinya. Di samping itu engkau harus mempunyai tekad yang kuat untuk tidak mengulangi kebodohan itu lagi.

Jika kesalahan dan kebodohan itu masih saja terulang, berarti taubatmu hanyalah taubat yang 'main-main'. Engkau tidak sungguh-sungguh. Hal itu justru akan menambah-nambah kemurkaan Allah kepada dirimu.

Dan Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang mukmin agar supaya kamu semua beruntung.
(QS. An Nur 31)

Sumber : Intisari Ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani
Pustaka Media Surabaya

Mengenal Jiwa dan Ruh Manusia

Mengenal Jiwa dan Ruh Manusia

 Jiwa dan Ruh Manusia

Ketahuilah bahwa Allah menciptakan manusia dari dua unsur yang berbeda. Pertama, jasad yang gelap dan tebal, dibawah instruktur alam, tersusun dari tanah, dan tidak bisa sempurna kecuali dengan kehadiran unsur lain. Kedua, jiwa yang bersifat individual, menyinari, mengetahui, melaksanakan, menggerakan, dan menyempurnakan tubuh. Allah menciptakan tubuh dari sari-sari makanan, merawatnya dengan unsur-unsur debu, meratakan dasar-dasarnya, menyempurnakan pilar-pilarnya, menentukan ujung-ujungnya, dan menampakkan permata jiwa dari Yang Satu, Yang Sempurna, Yang Menyempurnakan, dan memberi faidah. Saya tidak mengartikan jiwa yang kuat adalah kuat mencari makanan, juga bukan kuat menggerakkan syahwat dan nafsu amarah, juga bukan kuat yang diam dalam hati yang melahirkan kehidupan dan menggerakkan indra.

Gerakan berasal dari hati, kemudian mengalir ke seluruh organ tubuh. Kekuatan yang melahirkan gerakan ini dinamakan ruh hewan. Indra, gerak, syahwat, dan amarah adalah tentaranya. Sedangkan kekuatan yang membutuhkan makanan dan bersimpan dalam jantung dinamakan ruh alam. Mengunyah dan menolak adalah bagian dari sifat-sifatnya. Kekuatan yang membentuk, melahirkan, menumbuhkan, dan kekuatan-kekuatan lain yang lahir dari kekuatan ini adalah pelayan tubuh. Tubuh atau jasad itu sendiri adalah pelayan ruh hewan karena ia menerima kekuatan dari ruh itu dan bekerja sesuai dorongan gerakannya. Jiwa yang saya maksudkan sebagai permata individual yang sempurna memiliki ciri-ciri mengingat, menghapal, berpikir, memilah-milah, dan meriwayatkan. Ia juga menerima semua ilmu. Karena itu, ia disebut kepala ruh dan pemimpin kekuatan. Semua organ tubuh dan jiwa-jiwa yang lain melayaninya dan melaksanakan perintahnya. Jiwa yang demikian ini punya kemampuan bicara, yang setiap kelompok memberinya nama sendiri-sendiri. Para ahli hikmah menamakannya (kemampuan bicara ini) ruh Al Nathiqah. Al Quran menamakannya Al Naf's Al Muthma ’innah (jiwa yang tenang) dan ruh amr. Para sufi menamakannya qalb atau hati. Perbedaan hanya dalam nama dan maknanya satu.

Qalb, ruh, dan nafsu muthma'innah (hati, ruh dan jiwa yang tenang) menurut kami semuanya adalah nama-nama untuk nafsu nathiqah (jiwa yang berbicara). Nafsu nathiqah adalah permata yang selalu hidup, aktif, dan mengetahui. Jika kita mengucapkan ruh atau hati secara mutlak, maka yang kami maksud adalah permata yang mulia ini. Sedang para sufi menmakan ruh hewan dengan istilah nafsu. Allah menamakannya nafsu, bahkan memperkuatnya denganketerangan: "Nafsumu yang terletak di antara dua lambungmu." Yang dimaksud dengan dua lambung adalah kekuatan syahwat dan kekuatan nafsu amarah. Dua kekuatan ini dibangkitkan dari hati yang terletak di antara dua lambung. Jika kamu mengetahui perbedaan-perbedaan penamaan, maka ketahuilah bahwa para pengkaji hanva sekedar mengungkapkannya dengan ungkapan yang berbeda-beda. Dalam hal ini mereka melihat berbagai pikiran yang berbeda-beda. Para ahli kalam yang hanya mengetahui ilmu debat mengategorikan jiwa sebagai tubuh. Mereka berkata, “Nafsu adalah tubuh yang halus yang ditutupi tubuh yang tebal.” Mereka tidak mampu melihat perbedaan antara ruh dan jasad kecuali dengan kehalusan dan ketebalan. Sebagian mereka mengategorikan ruh sebagai jiwa, dan sebagian dokter condong pada pendapat ini. Ada pula yang memandang darah adalah ruh. Mereka puas dengan keterbatasan pendapat mereka yang sebenarnya hanya berpijak pada khayalan, dan tidak mau mencari bagian yang ketiga.

Ketahuilah, bagian-bagian yang membentuk manusia ada tiga, vaitu jasad, jiwa, dan permata tunggal yang berharga. Ruh hewan adalah badan halus yang seakan-akan merupakan sebuah lampu bemvala yang diletakkan dalam piala hati, yang saya mengartikannya sanubari vang bergantung di dada. Sedangkan kehidupan adalah cahaya lampu dan darah adalah makanannya. Indra dan gerakan adalah cahayanya. Syahwat adalah panasnya. Marah adalah minyaknya. Kekuatan pencari makanan yang tersimpan dalam jantung adalah pelayan, penjaga dan wakilnya. Ruh yang demikian terdapat dalam semua hewan. Manusia adalah badan dan jejak-jejaknya adalah jiwa. Ruh ini tidak menunjukkan pada ilmu, juga tidak mengetahui jalan makhluk, dan tidak juga Sang Maha Pencipta. Ruh ini juga menjadi pelayan yang tertawan yang akan mati dengan kematian badan. Seandainya darah bertambah, lampu itu tetap akan padam disebabkan tambahnya panas. Seandainya darah berkurang, lampu itu juga akan padam dikarenakan bertambahnya dingin. Padamnya lampu (ruh) adalah sebab matinya badan. Tidak ada perintah agama dan beban hukum Tuhan pada ruh ini karena seluruh hewan tidak terkena hukum taklifi (aturan-aturan Tuhan yang diberlakukan kepada mereka).

Manusia vang dikenai hukum taklifi disebabkan makna lain vang memang hanya dikhususkan kepada manusia sebagai bekal khusus. Makna itu adalah nafsu nathiqah dan ruh muth-ma'inna. Ruh ini tidak bersama badan, juga tidak dengan ruh hewan, karena ruh ini dari perkara Allah atau amr Allah. “Katakan, 'ruh itu termasuk urusanKu. " (QS. Al isra’: 85). "Hai jiwa yang' tenang\ kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlaiNya.” (QS. Al Fajr: 27-28)

Urusan atau amr Tuhan bukanlah badan juga bukan jiwa, tetapi kekuatan keTuhanan, seperti akal pertama, Lauhil Mah-fuzh, dan Al Qulam (pena Allah). Semua itu adalah permata tunggal vang terpisah dari benda-benda. Bahkan, ia adalah cahaya mumi vang bisa diketahui akal, tetapi tidak bisa diindra. Ruh dan qalb atau hati adalah istilah kita untuk menyebut permata tunggal yang berharga itu. Ruh ini tidak bisa rusak, tidak bisa lenyap, tidak punah, tidak mati, bahkan terpisah dari badan. Ia menunggu saat kembali kepada Tuhan pada hari kiamat sebagai mana yang dijan jikan dalam syara’.
Ilmu-ilmu hikmah yangditopang dengan hujjah-hujjah yang kuat dan beberapa dalil lain menjelaskan bahwa ruh nathiqah bukanlah badan juga bukan jiwa, tetapi permata berharga yang sifatnya tetap, tidak berubah dan tidak rusak. Kami tidak perlu mengulang-ulang argumen karena sudah disebutkan berkali-kali. Siapa saja yang menginginkan penjelasan lebih luas bisa melihat buku-buku saya di bab tentang ruh.

Cara kami menjelaskan masalah ini tidak dengan kekuatan hujjah, tetapi dengan kekuatan mata batin dan berpedoman pada penglihatan iman. Allah swt. terkadang mengaitkan ruh ini dengan amratau urusanNva dan kadang pula dengan keagungan kemuliaanNya.

Sabda beliau yang lain:

"Ruh-ruh orang-orang yang mati syahid dalam rongga burung hijau."

Jiwa atau ruh hewan tidak tetap ada setelah lenyapnya ruh Tuhan karena ruh ini tidak menetap pada zatnya. Sedangkan badan menerima untuk dipilah-pilah, sebagaimana dikatakan di atas bahwa badan tersusun dan materi dan bentuk. Setelah kita menemukan ayat-ayat di atas, beberapa hadis, dan hujjah-hujjah akal, kita tahu bahwa ruh merupakan permata tunggal yang sempurna dan hidup dengan zatnya sendiri. Dari ruh ini lahirlah baik buruknya agama. Ruh alam dan ruh hewan serta seluruh kekuatan badan adalah tentaranya. Ruh tunggal ini menerima berbagai macam informasi dan hakikat makhluk dengan tanpa badan kasar yang membungkusnya. Jiwa atau ruh tunggal ini mampu mengetahui hakikat kemanusian dengan tanpa melihat manusianya sebagaimana ia juga mengetahui malaikat dan setan tanpa harus mengetahui wujudnya. Jiwa ini untuk mengetahui hakikat-hakikat tersebut tidak perlu melihat sosok wujud yang menjadi kerangka hakikat-hakikat di atas, karena memang panca indra tidak mampu menjangkaunya.

Seorang sufi berkata, “Hati memiliki mata sebagaimana tubuh manusia. Badan kasar melihat dengan mata kasar, sedangkan objek yang hakiki atau esensiil hanya bisa dilihat dengan mata akal.”
Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seorang hamba kecuali hatinya memiliki dua mata.”
Dengan dua mata batin itu, manusia bisa mengetahui sesuatu yang gaib. Jika Allah swt. menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka kedua mata batinnya dibukakan untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat mata zahirnya. Itulah ruh tunggal atau jiwa murni yang tidak akan mati dengan matinya badan karena Allah swt. mengajaknya ke pintuNya: [artinya]: “Kembalilah /hai jiwa yang tenang/ kepada Tuhanmu(QS. Al Haj r: 28).

Ruh pasti berpisah dengan badannya. Di antara tabiat ruh adalah ketika kekuatan tubuh atau energi hewaniah dan alam tidak berfungsi, maka kekuatan penggeraknya diam. Diamnya kekuatan penggerak ini dinamakan maut. Karena keterbatasan kekuatan tubuh, maka ahli tarekat, vakni pengamal tasawuf, lebih memilih bersandar pada kekuatan ruh dan hati daripada kekuatan badan kasar.

Apabila ruh dikategorikan sebagai “urusan’’ yang berasal dari Tuhan, maka ruh di tubuh manusia seperti makhluk asing. Visinya berorientasi kepada yang asal dan tempat kembalinya. Manfaat yang diperoleh dari sisi asal (esensi) lebih banyak daripada yang diperoleh dari sisi tubuh kasar apabila yang asal itu kuat dan tidak dikotori oleh kotoran tabiat. Jika engkau mengetahui bahwa ruh adalah permata tunggal yang berharga dan engkau juga mengetahui bahwa tubuh merupakan tempat ruh, maka sudah pasti jiwa tidak menampak kecuali dengan permata tunggal atau ruh.

Ketahuilah bahwa permata atau ruh ini tidak bersemayam di suatu tempat atau menempati suatu tempat, dan badan bukanlah tempat ruh juga bukan tempat semacam hati. Badan adalah alat ruh dan hati, di samping sebagai kendaraan jiwa. Zat ruh itu sendiri tidak ada hubungannya dengan unsur-unsur badan, juga tidak terpisah darinya, tetapi ruh merangkul badan, memberi faidah, mengaktifkan fungsi gerak, dan mengalirkan cahaya kehidupan. Cahaya kehidupan yang pertama muncul di otak karena otak adalah penampakan kehidupan yang teristimewa. Di depan otak berfungsi sebagai perisai, di tengah berfungsi sebagai menteri dan unit-unit menejer, dan di akhir berfungsi sebagai gudang simpanan berharga.

Unsur-unsur yang terdapat dalam diri manusia ada yang berjalan ada pula yang berkendaraan. Ruh hewan adalah pela van. Ruh alam adalah wakil. Badan adalah kendaraan. Dunia adalah medan. Kehidupan adalah bekal. Gerakan adalah perdagangan. Ilmu adalah keuntungan. Akhirat adalah tujuan atau tempat kembali. Svari’at adalah jalan. Nafsu am marah adalah penjaga. Nafsu lawwamah adalah tukang mengingatkan. Panca indra adalah para pengawas dan pembantu. Agama adalah baju besi. Akal adalah guru. Rasa adalah murid. Sementara Allah selalu mengawasi di balik semua itu. Jiwa dengan sifat dan alat-alat yang tersebut di atas tidak menempati tubuh yang tebal, juga tidak berhubungan dengan zat tubuh, tetapi memberinya faidah. Jiwa menghadapkan dirinya ke hadapan Allah, dan Allah memerintahkan jiwa untuk mencari faidah sampai ajal tiba. Selama perjalanan ini, ruh tidak memiliki kesibukan kecuali mencari ilmu karena ilmu menjadi perhiasannya di kampung akhirat. Mengapa ilmu menjadi perhiasan ruh ataujiwa di akhirat? Karena perhiasan harta dan anak keturunan adalah perhiasan kehidupan dunia. Mata disibukkan dengan aneka ragam pemandangan. 

Telinga disibukkan dengan suara-suara. Lidah sibuk menyusun kata-kata. Ruh hewan menyenangi kenikmatan marah. Ruh alam menyukai kelezatan makan dan minum. Sedangkan ruh muthmainnah, yakni hati, tidak menginginkan apa-apa kecuali ilmu, tidak ridha kecuali dengan ilmu, dan sepanjang umurnya dipakai untuk belajar. Seluruh harinya dihiasi dengan ilmu sampai waktu memisahkannya. Seandainya ruh muthmainnah, jiwa atau hati menerima sesuatu yang lain yang bukan ilmu, sesungguhnya ia menerimanya hanya karena untuk kemaslahatan badan, bukan untuk memenuhi keinginan zat jiwa itu sendiri, juga bukan karena dorongan karakter aslinya. Jika kamu mengetahui keadaan ruh, sifatnya yang lang geng, dan kerinduannya pada ilmu, maka kamu harus mengetahui klasivikasi ilmu, karena ilmu itu banyak dan kami akan mengelompokkannya secara ringkas.
Pembagian Ilmu dalam Islam

Pembagian Ilmu dalam Islam

Ketahuilah bahwa ilmu terbagi menjadi dua: pertama adalah (1) ilmu syar’i dan (2) ilmu akal. Kebanyakan ilmu syar’i bersifat rasional bagi yang ahli ilmu, dan kebanyakan ilmu rasional juga bersifat syar’i bagi orang yang ahli ma’rifat. “Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka ia tidak mempunyai cahaya [sedikitpunj.” (QS. Al Mur: 40).

Ilmu Syar’i

Ilmu ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu ilmu pokok dan ilmu cabang. Ilmu pokok atau ilmu dasar adalah ilmu tauhid. Ilmu ini memandang Dzat Allah, sifat-sifatNya yang qadim, sifat-sifat perbuatanNva, dan sifat-sifat DzatNya dengan nama-nama yangtelah diperkenalkan olehNya. Ilmu ini juga merenungkan keadaan para Nabi, para pemimpin dan para sahabat, di samping juga memikirkan keadaan maut, kehidupan, kiamat, hari kebangkitan, padang mahsyar, dan perhitungan akhir. Orang yang “melihat” Allah dan ahli ilmu syar’i pertama kali berpedoman ayat-ayat Al Quran, kemudian hadis-hadis Rasulullah saw., dan terakhir dalil-dalil aqli dan argumen-argumen analog. Mereka juga mengambil dalil-dalil yang digunakan dalam ilmu mantiq dan filsafat. Kelompok yang menggunakan dalil-dalil yang terakhir ini sering kali meletakkan kata-kata bukan pada tempatnya, kemudian mereka mengutarakan berbagai pernyataan dengan permata tunggal, jiwa, dalil, penalaran, logika dan hujjah. Karena logika, maka tidak jarang satu kata memiliki makna yang beragam sesuai dengan siapa yang mengatakannya. Para filsuf mengartikan jiwa atau ruh dengan makna tertentu, kaum sufi memaknainya dengan makna lain, dan ahli kalam atau kaum teolog juga punya makna sendiri. Dalam bahasan ini, penulis tidak perlu mengutarakan makna-makna yang berbeda-beda ini menurut pikiran kelompok-kelompok mazhab. Mereka ini adalah kaum yang ahli ilmu kalam, ilmu tauhid dan mereka diberi julukan ulama kalam. Nama ilmu kalam masyhur untuk sebutan ilmu tauhid.

Di antara ilmu yang bisa dikategorikan ilmu pokok adalah tafsir karena Al Quran adalah sesuatu yang paling agung, paling mulia, dan paling benar. Dalam Al Quran terdapat berbagai persoalan yang tidak bisa dijangkau oleh akal kecuali orang yang telah diberi Allah pemahaman. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah satu ayat pun di antara ayat-ayatAl Quran kecuali memiliki [bentuk] zahir dan [bentuk] batin, dan satu batinnya mempunyai satu batin hingga tujuh batin/'
Dalam riwayat lain disebutkan hingga memiliki sembilan batin. Rasulullah saw. juga bersabda: “Setiap huruf di antara huruf-huruf Al Quran mempunyai batasan dan setiap batasan ada tempat terbitnya.”

Dalam Al Quran terhimpun berbagai ilmu pengetahuan. Allah swt. mengabarkan bahwa seluruh ilmu dan segala yang ada, baik yang tampak, samar, kecil, besar, bisa dihitung, bisa dinalar maupun yang tidak bisa dinalar terdapat dalam Al Quran. “Tidak ada yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahjiizh).'’ (QS. Al Anam: 59).

“Supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya memperoleh pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29).

Apabila Al Quran dihitung sebagai perkara yang terbesar, maka siapakah mufassir (ahli tafsir) yang telah memenuhi hak Al Quran dan siapa pula ulama yang keluar dari batas-batasnya. Memang benar, setiap mufassir diwajibkan menjelaskan tafsirannya sesuai dengan kemampuannya, menurut ukuran kekuatan akalnya, dan sebanding dengan inti ilmunya. Ilmu Al Quran menunjukkan ilmu pokok, ilmu cabang, ilmu syar’i, dan ilmu rasional. Seorang mufassir atau ulama tafsir harus memahami Al Quran dari berbagai sisi, mulai dari sisi bahasa, arti kiasan, struktur kalimat, tingkat-an-tingkatan gramatika, kebiasaan orang Arab, filosofis, hingga pendapat-pendapat kaum sufi sampai penafsirannya mendekati kenyataan (hakiki). Seandainya pemahamannya dalam satu sisi terbatas, tetapi dengan ilmu tertentu ia mendapatkan kepuasan, berarti ia belum keluar dari batas-batas penafsiran. Pada posisi ini, ia berpedoman pada hujjah iman dan kekuatan argumen.

Hadis juga termasuk ilmu pokok. Nabi saw. adalah orang yang paling fasih di antara bangsa Arab dan non-Arab. Beliau seorang mahaguru yang senantiasa mendapatkan wahyu dari Allah swt. Akalnya meliputi dan menjangkau semua yang berada di atas dan yang di bawah. Setiap kata dari kata-katanya, bahkan setiap huruf di antara huruf-huruf yang disabdakannya di bawahnya pasti ditemukan lautan rahasia dan simpanan yang berharga. Karena itu, ilmu hadis dan mengetahui hadis-hadisnya adalah perkara yang agung. Tidak seorang pun yang mampu mengetahui dan memahami sabda Nabi saw. kecuali jiwanya telah terdidik dengan senantiasa mengikuti Allah (dengan meneladani Rasul) dan menghilangkan kebengkokan-kebengkokan dari hatinya dengan menegakkan Sunnah Nabi saw.

Barangsiapa ingin berbicara tentang tafsir Al Quran, menafsiri hadis-hadis Rasul, dan benar dalam berbicara, maka wajib atasnya, yang pertama, menguasai ilmu bahasa dan paham ilmu nahwu, i’rab, dan sharaf. Ilmu bahasa adalah tangga dan jembatan yang mengantarkan kepada semua ilmu. 

Barangsiapa tidak mengetahui ilmu bahasa, maka tidak ada jalan baginya untuk menguasai macam-macam ilmu. Barangsiapa ingin mendaki suatu hamparan yang berada di atas, maka wajib baginya menyiapkan tangga, kemudian mendaki. Ilmu bahasa dalam hal ini ibarat sarana, jembatan, dan tangga. Karena itu, pencari ilmu membutuhkan hukum-hukum bahasa. Dengan demikian, ilmu bahasa adalah dasar dari semua dasar Hal pertama yang harus diketahui dari ilmu bahasa adalah ilmu alat. Selain itu, pengkaji juga harus memperhatikan syair-syair Arab, terutama yang disusun di zaman Jahili. Karena syair Jahili kekuatan bahasanya sangat tajam, daya imajinasi dan emosinya kuat. Ilmu nahwu atau gramatika Arab yang diibaratkan timbangan juga harus dikuasai. Setiap ilmu memiliki kekhasannya sendiri-sendiri, seperti mantik atau ilmu logika adalah untuk ilmu hikmah, ilmu ‘arudl untuk syair, dan timbangan untuk menakar biji-bijian. Setiap apa saja yang tidak ditimbang dengan timbangan, maka tidak diketahui hakikat tambahan dan pengurangan. Itulah sebabnya ilmu bahasa diibaratkan jalan yang menghubungkan padu ilmu tafsir dan hadis. Ilmu Al Quran dan hadis adalah dalil yang menunjukkan pada ilmu tauhid. Ilmu tauhid adalah ilmu yang tidak satu pun jiwa bisa selamat kecuali berpedoman dengannya, dan ia juga tidak terbebas dari ancaman hari akhir kecuali dengan mengilmuinya.

Bagian kedua dari ilmu syar'i adalah ilmu cabang. Ilmu jenis ini ada kalanya bersifat ilmu semata dan ada pula yang berupa amalan atau perbuatan. Ilmu pokok adalah pengetahuan mumi, yakni ilmiah. Sedangkan ilmu cabang adalah perbuatan. Ilmu amaliah (perbuatan) ini mencakup tiga hak, yaitu hak Allah, hak hamba atau ibadah, dan hak jiwa.

Hak Allah dalam perspektif ini adalah rukun-rukun ibadah, seperti bersuci, shalat, zakat, haji, jihad, dzikir, berhari raya, shalat jumat, dan ibadah-ibadah sunnah. Sedangkan hak hamba adalah pintu-pintu adat atau kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Dalam hal ini, hak hamba terbagi menjadi dua. Pertama, mu’amalah, seperti jual-beli, syirkah atau perkongsian, hibah, investasi modal, pinjaman, dan berbagai jenis piutang. Kedua adalah akad perjanjian, seperti nikah, talak, memerdekakan budak, dan faraid. Umufiqih mencakup dua sisi hak hamba ini. Karena itu, ilmu fiqih adalah ilmu yang mulia, memberi manfaat umum, dibutuhkan, dan semua manusia membutuhkannya.

Hak yang ketiga adalah hak jiwa, yaitu ilmu akhlak. Akhlak adakalanya tercela dan wajib dibuang. Akhlak ada juga yang baik dan wajib dimiliki. Akhlak jenis ini harus menjadi hiasan jiwa. Akhlak yang tercela dan yang terpuji sama-sama dijelaskan dalam Al Quran dan Al Sunnah. Barangsiapa berakhlak dengan salah satu akhlak yang baik, ia masuk surga.

Ilmu Akal

Ini adalah jenis ilmu yang sulit dan membingungkan, ka-dang-kadang benar dan kadang pula salah. Jika diklasivi-kasikan, ilmu akal tersusun dalam tiga tingkatan, yaitu tingkatan pertama, tingkatan kedua, dan tingkatan ketiga. Tingkatan yang pertama adalah tingkatan yang tertinggi, yaitu ilmu pasti dan ilmu logika. Di antara ilmu-ilmu yang bisa dikelompokkan ilmu alam adalah ilmu hitung, ilmu teknik atau arsitektur, ilmu alam yang mencakup ilmu perbintangan, ilmu bumi, dan ilmu cuaca. 

Sedangkan ilmu logika adalah ilmu yang mengajarkan cara membuat batasan, definisi, dan rumusan tentang sesuatu yang bisa diketahui dengan logika atau bayangan. Di samping itu, ilmu ini juga mengajarkan cara membuat perbandingan dan argumen-argumen berbagai ilmu yang diperoleh dengan cara yang benar. Ilmu logika berputar mengikuti kaidah-kaidah berikut ini, yaitu diawali dengan satuan-satuan tunggal, kemudian dengan susunan dari satuan-satuan tunggal, kemudian berhi-potesa, kemudian membandingkan, kemudian membagi-bagi perbandingan, dan diakhiri mencari hujjah atau argumen.

Tingkatan kedua, yakni tingkatan tengah-tengah adalah ilmu alam. Orang yang menggeluti ilmu ini memandang tubuh secara mutlak, memperhatikan unsur-unsur alam, benda-benda langit, benda-benda padat, esensi benda, gerak dan diamnya sesuatu, keadaan langit dan segala apa saja yang bergerak atau yang memberi aksi dan reaksi. Dari ilmu ini, maka lahirlah ilmu yang mengamati keadaan susunan benda-benda yang ada, nyawa dan jenis-jenisnya, alat-alat indra dan bagaimana indra mengetahui objeknya, kemudian berkembang menjadi ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran adalah ilmu badan, anatomi tubuh, penyakit, obat-obatan, penyembuhan dan apa-apa yang berkaitan dengannya. Cabang-cabang ilmu yang berkembang dari ilmu kedokteran adalah ilmu yang mampu mendeteksi pengaruh obat atau penyakit, ilmu pertambangan, dan ilmu yang mengetahui rahasia di balik benda-benda. Ilmu ini bisa berkembang hingga ke puncaknya sampai menghasilkan ilmu kimia, yang di antara fungsinya bisa untuk mengobati tubuh yang sakit yang terdapat dalam rongga tubuh.
Tingkatan ketiga adalah ilmu yang tertinggi, yaitu ilmu yang mampu memandang sesuatu yang ada. 

Ilmu ini dibagi menjadi ilmu yang wajib dan ilmu yang mungkin. Kemudian ilmu ini memandang Pencipta sesuatu yang ada, DzatNya, semua sifatNya, perbuatanNya, perintah dan hukumNya, qa-dla’Nya, dan urutan penampakan sesuatu yang ada. Bertolak dari sini, ilmu menguak sesuatu yang luhur, sangat bernilai, yaitu jiwa, akal, nafsu yang sempurna, kemudian merenungkan keadaan malaikat dan setan, yang akhirnya mengantarkan kepada ilmu kenabian, kemukjizatan, karo-mah, keadaan jiwa yang suci, keadaan jiwa yang tidur, tersadar, bang'un, dan maqam-maqam ru’yah. Dari ilmu ini, maka lahirlah ilmu jimat, mantra-mantra, tumbal, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengannya. Ilmu-ilmu yang dipaparkan di atas memiliki pasal-pasal, urut-urutan, dan tingkatan-ting-katannya yang masing-masing membutuhkan penjelasan tersendiri. Akan tetapi, kami cukup meringkasnya sampai di sini saja.

Ilmu Tasawuf

Ketahuilah bahwa ilmu akal pada mulanya bersifat tunggal, satu, kemudian darinya lahir ilmu yang tersusun dari yang tunggal. Dalam ilmu yang tersusun ini diketahui seluruh keadaan alam secara satuan-satuan. Di antara ilmu yang tersusun itu terdapat ilmu sufi dan cara-cara pengamalnya membina pribadi. Para sufi memiliki ilmu khusus dengan cara yang jelas dan ilmu mereka meliputi ilmu hal, waktu, pendengaran, wijd, syauq, sakr; shahwu, itshat, muhu, faqr, fana', wilayah, iradah, syekh, murid, dan apa saja yang berkaitan dengan keadaan spiritual mereka dan sifat-sifat serta maqamat. Insyaallah kami akan membahas tiga macam ilmu ini dalam kitab khusus, dan sekarang kami tidak mempunyai tujuan selain menjabarkan klasifikasi ilmu dan jenis-jenisnya dalam risalah ini. Semua ini kami jelaskan secara ringkas. Barangsiapa menginginkan keterangan tambahan, maka dipersilakan menelaah kitab-kitab tasawuf yang lain. Setelah penjelasan tentang klasifikasi dan jenis-jenis ilmu dipaparkan, maka ketahuilah dengan yakin bahwa setiap cabang ilmu menuntut beberapa syarat untuk mengukirnya di dalam jiwa para pencarinya. Sesudah memahami macam-macam ilmu, kamu wajib mengetahui cara-cara menghasilkannya. Setiap ilmu mempunyai cara tertentu untuk mendapatkannya. Insyaallah kami akan memaparkannya berikut ini.

Cara Mendapatkan Ilmu

Ketahuilah bahwa ilmu manusia (kemanusiaan) diperoleh melalui dua cara: pertama dengan cara ta’allum insani (belajar melalui perantaraan manusia) dan kedua dengan cara ta'allum rabbani (belajar secara langsung kepada Tuhan).

Cara pertama: mendapatkan ilmu dengan cara yang pertama adalah cara yang diatur berdasarkan aturan-aturan atau undang-undang yang dibuat manusia, dan langkah-langkah dan prosesnya bisa diindra. Tekniknya dengan mendekati para cerdik cendekia. Adapun cara ta'allum rabbani adalah cara yang ditempuh dengan melalui dua arah. Pertama dari arah luar, yang ditempuhnya dengan belajar, dan kedua adalah dari arah dalam yang diperolehnya dengan aktif berpikir. Berpikir yang diproses dari dalam jiwa kedudukannya seperti belajar yang bersifat kasatmata. Belajar adalah proses pengambilan manfaat dari diri yang bersifat juz’iy (bagian). Berpikir adalah proses pengambilan manfaat jiwa dari jiwa yang bersifat kulli (menyeluruh). Jiwa yang kulli pengaruhnya lebih dahsyat dan proses pembelajarannya lebih kuat dari semua proses belajar kepada ulama dan para ahli pikir.
Ilmu dipusatkan atau ditanamkan di dasar jiwa yang paling dalam dengan kekuatan, yang ibaratnya seperti sebutir biji-bijian yang ditanam dalam tanah. Sedangkan permata berharga yang juga diibaratkan ilmu letaknya di dasar lautan atau di perut bumi atau dalam hati. Belajar adalah upaya pencarian mengeluarkan sesuatu yang berharga itu dari sesuatu yang bersifat energi menjadi perbuatan. Belajar intensif adalah mengeluarkan mutiara (ilmu) dari kekuatan menjadi perbuatan. Jiwa orang yang belajar intensif seperti jiwa pengajar. Orang alim yang memberi manfaat seperti petani. Murid yang mencari manfaat seperti bumi. Ilmu yang hakikatnya merupakan kekuatan adalah seperti benih. Ilmu yang hakikatnya adalah perbuatan seperti tumbuh-tumbuhan. Jika jiwa murid sempurna, maka kedudukannya seperti pohon yang berbuah atau seperti permata yang berhasil dikeluarkan dari dasar lautan.

Apabila kekuatan badan mengalahkan jiwa, maka murid butuh tambahan belajar dan masa yang lama, di samping harus mampu memikul kesulitan, kelelahan, dan mencari manfaat. Jika cahaya akal mengalahkan sifat-sifat indra, maka pencari ilmu hanya butuh sedikit berpikir daripada banyak belajar. Dengan berpikir sesaat (satu menit, satu jam atau satu hari), jiwa yang terbuka mampu mendapatkan manfaat-manfaat (ilmu) yang tidak mungkin diperoleh jiwa yang beku yang belajar setahun.

Dengan demikian, sebagian orang memperoleh ilmu dengan belajar dan sebagian lagi memperolehnya dengan berpikir. Belajar butuh berpikir. Manusia tidak mampu mempelajari segala hal, baik yang bersifat juz’iyah (parsial atau spesifik) maupun kulliyah (universal), dan semua yang diketahui umat. Bahkan, ia hanya mampu mempelajari sesuatu, lalu mengeluarkannya menjadi ilmu dengan berpikir. Kebanyakan ilmu yang bersifat pemikiran atau teoritis dan ilmu-ilmu praktis atau terapan dihasilkan oleh jiwa para ahli hikmah dengan kejernihan otak mereka, kekuatan pikiran mereka, dan ketajaman dugaan mereka dengan tanpa menambah belajar. Seandainya manusia tidak mengeluarkan apa yang diketahuinya pertama kali dengan berpikir, tentu urusan kehidupan menjadi panjang dan problem tidak teratasi secara berlarut-larut. Ketika gelapnya kebodohan tidak hilang dari hati manusia, maka ilmu sulit diperoleh hanya mengandalkan belajar. Karena jiwa tidak mampu mempelajari seluruh ilmu pengetahuan dengan belajar semata, tetapi sebagian ilmu diperoleh dengan berpikir, sebagian lagi dengan berguru sebagaimana dilakukan orang pada umumnya, sebagian lagi dikeluarkan dari sanubarinya dengan kejernihan berpikir. Semua ini pernah dibuktikan para ulama, dan atas dasar ini pula, mereka menyusun kaidah-kaidah mencari ilmu.

Seorang insinyur pun tidak mampu mempelajari semua yang dibutuhkan, walaupun sepanjang usianya digunakan untuk itu. Ia hanya belajar secara global, kemudian mendalaminya secara mendetil sebatas objek-objek yang dibutuhkannya. Setelah itu, ia berpikir, membandingkan, dan kemudian mengeluarkan ilmu baru. Demikian juga seorang dokter. Ia juga tidak mampu mempelajari secara terperinci dan mendetil berbagai penyakit dan cara pengobatannya, termasuk obat-obatnya, tetapi ia hanya mampu mempelajari teori-teori atau informasinya secara global. Termasuk juga ahli perbintangan, tidak mampu mempelajari seluruh perbintangan. Ia belajar secara global, kemudian memikirkannya, dan memberi keputusan dengan berbagai hukum yang berbeda-beda. Demikian juga seorang ahli fiqih dan sastra. Para seniman dan ahli musik juga demikian. Seseorang berhasil menciptakan alat musik rebana, kemudian datang pemusik berikutnya, ia menemukan alat itu, lalu berpikir dan akhirnya mengeluarkan alat musik yang berbeda yang dihasilkan dari alat musik pertama.

Seluruh arsitek, ilmuwan atau psikolog ilmu dasar atau ilmu awalnya diperoleh dari belajar, kemudian selebihnya dihasilkan dari berpikir. Jika pintu berpikir terbuka dan tembus pada jiwa, maka cara berpikir dan memprediksi dapat diketahui dengan tepat. Jika sudah demikian, hati dan sanubari menjadi lapang, terbuka, dan tercerahkan, sehingga kekuatan yang tersimpan dalam jiwa keluar menjadi kekuatan nyata (ilmu aplikatif) dengan tanpa belajar yang panjang dan kelelahan yang bertumpuk-tumpuk.

Cara kedua adalah ta’lim rabbany, yakni belajar langsung kepada Tuhan. Cara ini ditempuh melalui dua pola. Pola yang pertama dengan turunnya wahyu ke dalam jiwa. Jiwa jika sudah mencapai kesempurnaan, maka kotoran tabiat dan ambisi serta angan-angan yang fana menjadi hilang. Jiwa yang sudah dalam kondisi demikian siap menghadap Penciptanva, memegang teguh wujud kepenciptaannya, dan menerima anugerah dan luberan cahayaNva. Allah swt. dengan pertolonganNya menerima jiwa itu dengan sepenuhnya, memandangnya dengan pandangan ke Tuhanan, dan menjadikannya papan untuk menuliskan ilmuNya. Bahkan, jiwa yang kullv dijadikan Allah pena, lalu ilmuNya dilukiskan di atas “papan” jiwa itu dengan “pena” jiwa. Akal yang kully akan menjadi seperti pengajar, dan jiwa yang suci seperti pelajar. Semua ilmu akan diperoleh oleh jiwa yang suci itu dari seluruh gambar atau rupa akan dilukis dalam jiwa yang suci dengan tanpa belajar dan berpikir. Kondisi demikian ini menggambarkan kebenaran firman Allah kepada NabiNya saw.: “Dia mengajarimu tentang apa yang belum kamu ketahui. ” (QS. Al Misa’: 113).

Ilmu para nabi derajatnya lebih mulia daripada ilmu semua makhluk karena ilmu mereka diperoleh dari Allah dengan tanpa penengah dan wasilah. Penjelasan ini ditemukan dalam kisah Nabi Adam as. dan para malaikat. Sepanjang usia, para malaikat belajar. Dengan belajar selama bertahun-tahun, mereka menguasai berbagai macam ilmu sehingga mereka menjadi sekelompok makhluk yang paling alim dan paling tahu di antara segala yang ada (selain Allah). Sedangkan Adam as bukanlah seorang yang alim karena ia tidak belajar. Maka para malaikat menjadi bangga, merasa besar dan sombong, lalu berkata: “Padahal kami (para malaikat) senantiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu.” (QS. Al Baqarah: 30). Kata para malaikat, kami mengetahui hakikat sesuatu.
Menyaksikan kenyataan seperti ini, Adam as kembali ke pintu Tuhannya, mengeluarkan hatinya dari semua eiptaan, lalu menghadap kepada Tuhannya dengan mohon pertolongan, lalu Allah mengajarinya semua nama-nama, “Kemudian (Dia/ mengemukakannya kepada para malaikat.” (QS. Al Baqarah: 3i). Setelah itu, Allah berfirman kepada para malaikat, “Sebutkan-lah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al Baqarah: 31), Mendapat tantangan seperti ini, para malaikat menjadi merasa kecil di hadapan Adam. Ilmu mereka menjadi sedikit. Kapal yang menjadi kendaraan kebanggaan dan kesombongan mereka menjadi pecah, lalu mereka tenggelam dalam lautan kelemahan. “Mereka (para malaikat) berkata: Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami/' (QS. Al Baqarah: 32). Setelah para malaikat menyerah, Allah swt. berkata kepada Adam, '‘Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu.” (QS. Al Baqarah:33). Adam as. mengabarkan kepada mereka macam-macam pengetahuan, baik yang tampak maupun yang samar atau yang tertutup.

Dari peristiwa ini, orang-orang berakal mengakui bahwa ilmu gaib yang diperoleh dari wahyu lebih kuat dan lebih sempurna daripada ilmu-ilmu yang diperoleh dengan cara belajar. Akhirnya, ilmu wahyu menjadi warisan para Nabi dan hak para Rasul. Semenjak Nabi Muhammad saw., Allah menutup pintu wahyu. Beliau adalah Rasulullah sekaligus Nabi penutup. Beliau juga menjadi orang yang paling tahu dan paling fasih. Beliau bersabda:

“Tuhanku mendidikku dan memperbaiki didikkanku."

Beliau juga pernah berkata kepada umatnya demikian: ‘Saya adalah orang yang paling tahu dan paling takut kepada Allah di antara kalian Ilmu Rasulullah saw. adalah paling sempurna, paling mulia dan paling kuat karena ilmunya diperoleh dari ta’lim rabbani (pengajaran Tuhan). Tidak satupun ilmu yang di peroleh dengan ta’lim insany mampu mengungguli ilmu ta’lim rabbani. Allah swt. berfirman: 

“Yang diajarkan kepadanya oleh [Jibril] yang sangat kuat.” (QS. Al Najm: 5).

Pola kedua' dari ta'lim rafobam adalah ilham. Ilham adalah peringatan jiwa yang kully kepada jiwa yang juz'iy sesuai dengan ukuran sifat, penerimaan, dan kuatnya penerimaan jiwa yang juz’iy atas jiwa yang kully. Ilham adalah pengaruh atau jejak wahyu. Wahyu adalah informasi langit yang menjelaskan perkara gaib secara terang-terangan. Sedangkan ilham adalah penjelasan yang bersifat isyarat atau sindiran. Ilmu yang diperoleh dari wahyu dinamakan ilmu nubuwah. Sedangkan ilmu yang diperoleh dari ilham dinamakan ilmu ladunni. Ilmu ladunni ini adalah ilmu yang perolehannya tanpa melalui perantara. Artinya, dalam perolehannya antara jiwa yang mendapatkannya dengan Tuhan yang memberikannya tidak ada perantara atau penengah. Kalau diibaratkan, ilmu ladunni seperti cahaya yang memancar dari lampu gaib yang menimpa hati yang bening, kosong dan lembut.
Telah dijelaskan bahwa akal kully (akal pertama) lebih mulia dan lebih sempurna, kuat dan dekat kepada Sang Pencipta daripada jiwa yang kully (jiwa pertama). Jiwa yang kully lebih mulia dan lembut daripada seluruh makhluk. Dari luapan akal kully, maka lahirlah ilham, dan dari pancaran jiwa yang kully juga lahir ilham. Wahyu adalah perhiasan para nabi, sedangkan ilham perhiasan para wali. Ilmu wahyu hakikatnya sama dengan jiwa tanpa akal atau wali tanpa nabi. Dengan demikian, ilham tanpa wahyu adalah lemah, yang kedudukannya seperti wahyu yang kuat dengan disandarkan pada mimpi. Ilmu adalah ilmu para nabi dan para wali. Ilmu wahyu dikhususkan kepada para rasul, seperti yang diwahyukan kepada Adam as, Musa as, Ibrahim as, Muhammad saw., dan para rasul yang lain.

Nubuwah menerima jiwa yang suci. Jiwa nubuwah yang suci ini menerima hakikat pengetahuan dan segala sesuatu yang rasional untuk dipancarkan kepada orang-orang yang mencari manfaat dan yang siap menerima Ilmu ladunni dimiliki oleh orang-orang yang memiliki derajat kenabian dan kewalian sebagaimana yang dicapai Khidras. Allah swt. berfirman: “Dcm Kami mengajarkannya ilmu dari sisi Kami' (QS. Al Kahfi: 65).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Saya memasukkan lidahku ke dalam mulutku, lalu dalam hatiku terbuka seribu pintu ilmu, yang setiap pintunya ada seribu pintu.” Dalam kesempatan lain, ia juga berkata, “Seandainya saya diberi tempat duduk, lalu saya duduk di atasnya, pasti saya mampu memutuskan perkara penganut Taurat dengan Taurat mereka, memutuskan perkara penganut Injil dengan Injil mereka, dan memutuskan perkara penganut Al Quran dengan Al Quran mereka.”

Ini adalah derajat keilmuan yang tidak mungkin diperoleh dengan belajar semata, yakni belajar yang bersifat ta’allum insany. Derajat ini hanya mungkin dicapai dengan kekuatan ilmu ladunni. Ali ra juga bercerita tentang kisah yang terjadi di masa Nabi Musa as, yaitu mengenai kitabnya yang sebanyak 40 pikulan. Seandainya Allah mengizinkannya untuk menjelaskan makna-makna Al Fatihah, niscaya penjelasannya melampaui 40 pikulan. Ini tentu ilmu yang sangat banyak, luas dan terbuka, yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan ilmu ladunni.

Seandainya Allah swt. menghendaki kebaikan kepada ham-baNya, pasti Dia akan menghilangkan hijab atau penutup antara DiriNya dengan jiwa hamba itu, yang jiwa itu kemudian menjadi papan (lauh). Jiwa yang menjadi papan itu dimunculkan di permukaannya rahasia-rahasia alam, lalu dituliskan di atasnya makna-makna alam itu, lalu jiwa itu mengungkapkannya sekehendaknya kepada orang yang dikehendaki. Hakikat ilmu hikmah hanya diperoleh dengan ilmu ladunni, dan orang yang belum mencapai tingkatan ini, ia tidak akan menjadi orang yang bijak, karena hikmah merupakan pemberian Allah semta. Allah swt. berfirman: "Allah menganugerahkan Al Hikmah (pemahaman yang mendalam tentang Al Quran dan Al Sun-nah) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan harangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah itu. ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran [dari firman Allah]." (QS. Al Baqarah: 296).

Demikian itu dikarenakan orang-orang yang telah mencapai derajat ilmu ladunni, mereka tidak butuh ilmu yang lain, juga tidak perlu susah-susah belajar. Mereka cukup belajar sedikit dan mengetahui ilmu yang banyak. Mereka cukup bersusah-susah atau berpayah-payah sedikit, lalu mengeluarkan ilmu yang banyak.

Ketahuilah bahwa wahyu jika sudah teiputus dan pintu risalah apabila sudah ditutup, manusia tidak butuh lagi para rasul. Dakwah sudah dimenangkan setelah hujjah diluruskan dan agama disempurnakan. Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (QS. Al Maidah:3). Sedangkan pintu ilham tidak ditutup. Pancaran cahaya jiwa yang kully tidak akan terputus selama jiwa manusia membutuhkannya dan senantiasa memperteguh, memperbaruhi dan meng-ingatNya. Manusia tidak butuh risalah dan dakwah, tetapi mereka butuh peringatan karena mereka sering tenggelam dalam keraguan dan syahwat. AJlah swt. menutup pintu wahyu sebagai tanda bagi hamba-hambaNya, dan membuka pintu ilham sebagai rahmatNya.

Tata Tertib Jiwa Untuk Memperoleh Ilmu Ladunni

Ketahuilah bahwa ilmu dipusatkan dalam jiwa manusia dan semuanya menerima segala ilmu. Gagalnya jiwa dari mendapatkan ilmu disebabkan sesuatu dari luar yang mendatangi jiwa. Hal ini diisyaratkan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

"Manusia diciptakan dalam keadaan hanif (lurus/muslim),lalu setan memperdaya mereka
Beliau juga bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrahSifat dasar jiwa siap menerima bentuk-bentuk yang rasional dengan kekuatan kesuciannya yang asli dan karakter dasarnya. Akan tetapi, ketika turun di dunia, sebagian jiwa menjadi sakit, sehingga sebab sakitnya ini, jiwa tersebut terhalangi untuk bisa melihat berbagai hakikat. Sebagian jiwa yang lain tetap dalam keadaan sehat seperti aslinya, tidak berpenyakitan juga tidak rusak. Jiwa yang seperti ini selamanya hidup dan selalu siap menerima ilmu. Jiwa yang sehat adalah jiwa nubuwah yang mampu menerima wahyu dan diberi kekuatan untuk memperlihatkan mukjizat. Jiwa nubuwah ini senantiasa dalam keadaan sehat dan tidak pernah berubah meskipun diserang berbagai penyakit, sehingga para nabi menjadi dokter-dokter jiwa dan mengajak manusia kembali kepada jiwa yang suci.

Di dunia, jiwa yang sakit diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan. Ada jiwa yang terpengaruh oleh penyakit ringan, sehingga mendung lupa yang menyelimuti kesadarannya tidak begitu tebal (tipis) dan dirinya masih disibukkan dengan belajar. Kemudian pemilik jiwa ini mencari kesehatan yang asli, sehingga penyakitnya lambat laun menghilang dan mendung lupa yang menyelimutinya lenyap. Ada pula jiwa yang sepanjang usinya belajar, sibuk dengan menuntut dan mencari kesehatan asal, lalu penyakitnya hilang dengan pengobatan ringan. Mendung lupa yang menyelimuti kesadarannya menghilang dengan sedikit mengingat. Ada juga jiwa yang sepanjang usianya belajar, sibuk untuk memperoleh ilmu dan menyehatkan ruhaninya, tetapi tidak berhasil memahami apapun karena unsur-unsur jiwanya sudah rusak. Unsur-unsur jiwa jika sudah rusak tidak bisa diperbaiki.
Di samping itu ada juga jiwa yang kadang-kadang ingat, terkadang lupa, dan terkadang sakit, lalu merendahkan dirinya dan menemukan sedikit cahaya dan pancaran yang lemah. Jiwa ini mengalami kondisi yang kontradiktif ketika menghadapi dunia dan tenggelam di dalamnya. Ketenggelamannya sesuai dengan kuat dan lemahnya jiwa, seperti jiwa yang sehat ketika sakit dan jiwa yang sakit ketika sehat. Penyakit ini akan hilang jika jiwa dalam kondisi stabil dengan adanya ilmu ladunni dan mengetahui bahwa jiwa di awal penciptaannya sudah alim dan jernih. Jiwa menjadi bodoh karena sakit disebabkan lekatnya jiwa pada tubuh yang tebal, menetap di tempat yang kotor dan gelap, dan ia tidak mampu mewujudkan ilmu yang tidak ada.

Seorang ayah yang cinta dan merindukan anaknya ketika dihadapkan pada urusan memelihara anaknya, ia tentu lupa pada semua urusan dan cukup memikirkan satu urusan, yaitu urusan anak. Jiwa karena sangat rindu dan mencintai fitrahnya, ia akan menetap dalam kerangka fitrahnya, sibuk memakmurkan dan memeliharanya, dan sangat prihatin terhadap kemaslahatannya. Akhirnya, ia tenggelam dalam lautan tabiat dan di tengah-tengah usianya, ia butuh belajar untuk mengingat apa yang lupa dan sangat menginginkan kembalinya kekayaan batin yang hilang. Belajar tidak lain adalah proses kembalinya jiwa kepada intan permata dan mengeluarkan apa yang tersimpan dalam sanubari menjadi tindakan guna mendapatkan kesempurnaan batin dan kebahagiaan jiwa.

Jiwa yang lemah tidak mampu mengarahkan batinnya menuju hakikat intan permatanya dan mengikuti guru yang alim dan penyayang serta minta tolong kepadanya agar membantunya dalam mencari apa yang dicita-citakannya. Jiwa semacam ini seperti orang sakit yang tidak mengetahui cara mengobati penyakitnya. Ia hanya mengetahui bahwa kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga yang dicari-carinya.

Karena itu, ia harus kembali kepada dokter jiwa yang cakap dan penyayang. Ia mengutarakan keadaannya kepada dokternya dan minta perlindungan kepadanya agar menyembuhkan dan menghilangkan penyakitnya. Kami melihat seorang alim yang sakit seperti terserang sakit kepala dan dada, lalu ia terhalangi dari semua ilmu, lupa terhadap pengetahuan-pengetahuannya, dan kekayaan ilmunya menjadi kabur, lalu semuanya itu menutupi hapalan dan ingatannya di masa lalu. Ketika jiwa sehat, kesembuhan kembali kepadanya, lupa hilang dari dirinya, dan jiwa kembali kepada pengetahuannya, lalu ia menjadi ingat atas apa yang pernah hilang dari ingatannya.

Dengan demikian, kami mengetahui bahwa ilmu tidaklah lenyap, yang ada adalah ilmu dilupakan. Muhwu (sadar) dan nisyan (lupa) dipisahkan di antara manusia. Muhwu lenyapnya ukiran dan tulisan, sedangkan nisyan adalah terpakaian ukiran pada jiwa, sehingga kedudukannya seperti mendung atau awan yang menutupi sinar matahari dari pandangan orang, bukan seperti matahari yang tenggelam yang disebabkan kepindahan matahari dari arah atas ke arah bawah. Jiwa yang disibukkan dengan belajar adalah proses menghilangkan penyakit dari tubuh jiwa (jiwa bertubuh) agar jiwa kembali mengetahui pengetahuan fitrah dan kesucian awal.

Jika kamu mengetahui sebab, kehendak belajar, hakikat jiwa dan tubuh jiwa, maka ketahuilah bahwa jiwa yang sakit butuh belajar dan menggunakan umur untuk menghasilkan ilmu. Jiwa yang sakitnya ringan, faktor penyebabnya lemah, kejahatannya ringan, mendungnya tipis dan unsur-unsur pembentuknya sehat, maka jiwa semacam ini tidak membutuhkan tambahan ilmu dan kelelahan yang berkepanjangan. Tetapi ia cukup berpikir Sebentar dan ringan karena telah kembali kepada jiwa asalnya, menerima fitrah dan hakikatnya, mengamati kesamarannya, lalu mengeluarkan kekuatan yang tersimpan di dalamnya untuk dijadikan perbuatan nyata.

Jika sudah demikian, ilmu yang terpusat dalam jiwanya menjadi perhiasan dan ia mengetahui banyak hal. Berbagai pengetahuan dapat dikuasainya dengan waktu yang sedikit. Pengetahuan yang dikuasainya diungkapkan dengan redaksional yang indah. Ia menjadi seorang alim yang sempurna, jiwa nya disinari cahaya nafu kully dan nafsu kullynya menyinari nafsu juz'iy. Jiwa yang demikian mampu memutus urat-urat hasud, pangkal dendam, dan mengesampingkan kelebihan dunia dan perhiasannya. Jika jiwa sudah mencapai tingkatan ini, ia mengetahui banyak hal, selamat dan jaya. Inilah permata berharga yang dicari-cari semua manusia.

Hakikat Ilmu Ladunni dan Sebab-sebab Perolehannya

Ketahuilah bahwa ilmu ladunni adalah berjalannya cahaya ilham. Ia terjadi setelah jiwa mengalami kesempurnaan, sebagaimana yang difirmankan Allah swt.: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya.” (QS. Al Syams: 7). Jiwa yang demikian kembali dengan tiga hal.
Pertama, menghasilkan semua ilmu dan mengambil bagian lebih banyak.

Kedua, latihan batin yang benar dan muraqabah (selalu merasa dirinya diawasi Allah) yang tepat. Nabi saw. menunjukkan hakikat ini dengan bersabda: l'Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah mewariskan [nya] ilmu yang belum diketahuinya.”
Ketiga, berpikir. Jika jiwa belajar dan melakukan latihan spiritual dengan ilmu, kemudian memikirkan apa yang telah -diketahuinya dengan memenuhi syarat-syarat berpikir, maka dibukakan padanya pintu gaib. Ini seperti pedagang yang membelanjakan hartanya dengan memenuhi syarat-syarat perdagangan, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu keuntungan. Jika ia berjalan di jalan kesalahan, maka ia akan terjatuh di tempat yang merugikan. Pemikir jika berjalan di jalan kebenaran, ia akan menjadi seorang alim yang masuk golongan ulul albab, lalu dibukakan untuknya rahasia-rahasia ilmu gaib dalam hatinya, sehingga ia menjadi seorang alim yang sempurna dan memiliki akal yang senantiasa terilhami. Rasulullah saw. bersabda: “Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah selama 60 tahun. ”

Syarat-syarat berpikir telah kami himpun dalam buku kami yang lain karena ini memang persoalan yang sangat penting dan butuh penjelasan tambahan dan pertolongan Allah. Sekarang kami menutup risalah ini. Risalah ini sudah cukup memberi keterangan bagi ahlinya. Allah swt. berfirman: “Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tidaklah ia mempunyai cahaya sedikit pun.’} (QS. Al Nur: 40).

Allah adalah Penolong orang-orang mukmin dan kepada-Nya mereka berserah diri. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kami, Muhammad saw., keluarga dan para sahabatnya. Kami cukup dengan Allah dan Allah adalah sebaik-baik wakil. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah, Dzat Yang Maha Luhur dan Agung. Hanya kepa-daNya kepercayaanku dalam setiap waktu dan keadaan. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Copyright © Mendalami. Template by: Petunjuk Onlene